My life without U *cerpen saya*
Ku genggam tangannya, terasa dingin. “Tuhan, apakah ia telah
bersamamu? Apakah waktuku sudah habis bersamanya. Aku masih ingin
melihat senyumnya, wajahnya dan mendengar tawa khasnya”. Aku pergi
meninggalkan tubuh Fredy yang dingin. Aku tak habis pikir, secepat
itukah aku kehilangan dirinya? Aku baru saja bisa mencintainya!.
Aku kembali kedalam kamar Fredy, aku memandang ke segala kamar Fredy sampai mataku terhenti pada sebuah pigura foto dimana aku dan Fredy sedang tertawa lepas di puncak saat liburan semester 2 lalu. Tapi sekarang, itu hanya akan jadi kenangan indah antara kami berdua. Aku terduduk di sudut kamar itu, perlahan-lahan mataku mulai mengeluarkan airmatanya. Aku tak sanggup kehilangannya, tidak secepat ini. ku peluk foto kami berdua “aku mencintaimu Fred!” ucapku lirih. Aku tak dapat berkata banyak lagi, hanya airmataku yang dapat mengatakan bahwa aku sangat kehilangan dirinya.
Fredy, kekasihku sejak kelas 2 SMA, kini telah pergi membawa semua cintanya. Aku mengenal Fredy di hari pendaftaran murid baru. Dia tampak begitu tampan dengan jaket dan sepatu sneekersnya. Dia juga tampak baik saat meminjamkan aku pulpen saat aku lupa bawa pulpen waktu ujian masuk.
Kami sekelas saat kelas 1, aku ingat dia menjadi kesayangan para guru karena dia mampu menguasai pelajaran dengan cepat. Awalnya aku cuek padanya, aku hanya menganggap dia teman biasa. Karena dalam hatiku sudah lebih dulu di isi Nick si ketua kelas. Aku ingat saat kami study tour, dia duduk di sampingku dan kami bercerita tentang diri kami masing-masing saat perjalanan. Saat itulah kami mulai dekat, rumahnya juga tak jauh dari rumahku. Rumah kami pun searah, karena itu aku dan dia sering pulang bersama.
Saat kelas dua, Fredy memilih jurusan IPA sedangkan aku memilih jurusan Bahasa. Karena memang aku ingin seperti ayahku yang kerja di Kemeterian Indonesia untuk Jepang. Dan aku sekelas dengan Nick, dan akhirnya aku dekat dengan Nick. Kadang kami mengerjakan PR bersama, jalan bersama bahkan tak jarang kami ke kantin bersama. Namun saat aku dan Nick dekat, Fredy datang dan menyatakan cintanya padaku di hadapan banyak orang. Aku pun meneriam cintanya dengan setengah hati.
“Maukah kamu jadi pacarku” ucap Fredy sambil berlutut di hadapanku. Aku bingung, di situ ada Nick. Tapi siapa Nick? Dia bukan siapa-siapaku!. Akhirnya ku terima cinta Fredy.
Sebulan sudah aku resmi jadi kekasihnya, dia selalu baik padaku. Dia mendengarkan semua keluh kesahku, selalu menggenggam tanganku saat berjalan bersamaku. Bahkan merelakan pundaknya sebagai tempat bersandarku saat aku sedang sedih.
Aku kembali menangis mengingat semua kejadian itu, ingin rasanya aku putar lagi waktu dan bilang kalau aku mencintainya! Tulus mencintainya! Akan ku kubur dalam-dalam perasaanku pada Nick, hanya untuknya! Asalkan dia tetap ada di sampingku! Selamanya!. Airmataku terus saja turun mencoba menenangkan gemuruh di hati, sakit ini lebih sakit daripada yang sebelum-sebelumnya.
Aku ingat saat ku temukan banyak obat di tasnya, tapi dia bilang padaku kalau memang ia sedang melakukan penelitian pada obat-obatan. Dia bohong! Teganya ia berbohong padaku!. Saat kutemukan darah pada sapu tangannya, dia bilang kalau dia tadi menolong temannya jatuh dan tangannya berdarah!. Aku kembali mersakan aliran airmata hangat di mataku, “aku tak rela Tuhan, ijinkanlah aku minta maaf padanya!” ucapku dalam hati. Mulut ini tak dapat berkata-kata lagi, hanya airmata yang dapat menggambarkan rasa kecewa, sesal dan sedih yang sedang aku rasakan.
Tiba – tiba di balik pitu muncul mama dari Fredy, aku biasa memanggilnya tante Elis. Dia berjalan ke arahku, mendekapku dan mengelus puncak kepalaku. “sudalah, biarkan dia istirahat dengan tenang, dia akan sangat sedih jika melihat kau menangis” katanya sambil mengelus pundakku. “maafkan aku Fred” ucapku lirih.
Aku bangkit dan keluar, aku duduk di sofa dekat jendela. Daritadi banyak orang yang datang ke rumah Fredy. Tapi sosok ini paling ku kenali. Dia berjalan ke arahku, aku menatapnya. Dia membuka tangannya, aku pun menghamburkan tubuhku ke dekapannya. Dia memeluku erat, seolah ingin memindahkan kesedihanku sedikit padanya. “sudahlah, jangan menangis! Aku tak mau kau menangis” katanya sambil menyeka airmataku dan kembali memelukku. Terima kasih sudah ada di sini Nick!.
Aku menyandarkan kepalaku ke dada bidang Nick. Aku lelah, sangat lelah, aku ingin istirahat sebentar. Tapi, ketika melihat Nick membuatku merindukan Fredy lagi.
“hey sudahlah jangan makan ice creame terlalu banyak” tegur nick. Tapi aku tak peduli, disini sangat panas, dan lagi pula ini adalah ice cream kesukaanku. “tidak mau” kataku sambil menjulurkan lidahku padanya. “eh, kau berani padaku ya? Awas kau! Akan ku kelitiki badanmu” katanya seraya menangkap tubuhku dan emngelitikinya membuatku tak mampu menahan geli dan tawa. Tapi tiba – tiba Fredy memegangi kepalanya, dia seperti menahan sakit dan seketika itu juga rubuh di tanah.
Aku memanggil namanya, karena ku kira ia bercanda, tapi tak ada respon. Aku pun segera membawanya ke rumah sakit. Aku hanya bisa mondar-mandir di depan UGD. Sambil terus berdoa, semoga tak ada apa-apa. Sampai akhirnya papa dan mamanya datang. “kenapa dengan Fredy?” Tanya mamanya Fredy. “aku tak tahu, tiba-tiba saja ia pingsan!” kataku.
Saat keluar dari ruangan, mama dan papa Fredy namapak biasa-biasa saja. Begitu pun Fredy, dia tampak biasa-biasa saja. “dokter bilang, kau sakit apa?” tanyaku pada Fredy waktu itu. “tenanglah dokter bilang aku hanya migran sedikit” katanya tenang. Hatiku pun tenang mendengar semua itu.
Beberapa bulan kemuadian, aku jarang sekali bertemu dengan Fredy lagi. Aku hubungi dia, tapi tak ada respon darinya. Sampai akhirnya aku bertemu juga dengannya. “kamu itu darimana saja? Kenapa menghilang seperti itu?” Tanyaku padanya. “aku sedang sibuk untuk praktek bulan depan” katanya seraya tersenyum.
Kami menghabiskan waktu berdua, makan, jalan-jalan dan nonton tv bersama. Kami melihat acara tv yang isinya tentang gombal. Aku menantangnya untuk gombal, tapi hasilnya dia bilang tidat tahu! tidak bisa!basi! pokonya dia tidak mau melakukannya walau untukku sendiri. Aku kesal waktu itu, akhirnya ku ambil tasku dan langsung pulang. Fredy mengejarku, tapi aku tetap tak bergeming sedikitpun. Rara, Gina, Chika bahkan Mely cowok mereka semuanya jago gombal, padahal sebelumnya tidak bisa. “demi cinta” kata Rendy pada si Chika. “kenapa kamu tak bisa jadi orang yang mengerti akau?” kataku dalam hati. Setelah kejadian itu, aku dan Fredy tak lagi bertemu sampai kira-kira 2 minggu. Fredy menemuiku di rumahku, aku tak mau menemuinya, tapi mamaku memaksaku untuk menemuinya. Akupun turun untuk menemuinya. “hey” sapanya sambil tersenyum, “hey” balasku sambil tersenyum sinis. “kau masih marah?” tanyanya, “kelihatannya?” tanyaku bailk. Dia beranjak dari duduknya mendekatiku yang beridiri di depan pintu, dia memegang tanganku lembut. Ku coba untuk melepaskan genggamannya, tapi dia terlalu kuat, akhirnya ku biarkan saja. “maafkan aku jika kau kecewa, jika aku tak bisa menjadi kekasih seperti kekasih-kekasih temanmu yang lain. Maafkan aku jika aku tak bisa jadi kekasih yang tak bisa memahami kebutuhanmu” kata Fredy seolah bisa membaca semua pikiranku. “tapi, aku hanya ingin jadi diriku sendiri, diriku yang selalu mencintaimu! Yang tak perlu mengungkapkannya dengan kata- kata yang tak bisa ku penuhi!” lanjutnya. Aku tesentak, memang benar apa yang dia katakan. “maafkan aku Fredy, aku bodoh” ucapku sambil menunduk malu, dia memelukku erat saat itu. Pelukan yang kurindukan dan akan selalu kurindukan, aku ingin kau peluk lagi Fredy!.
Hari itu, kami berjanji akan bertemu. Kami akan merayakan setahun hubungan kami, aku menunggunya di restoran itu sudah hampir 2 jam. Tapi Fredy tak menunjukan tanda-tanda ia akan datang, aku bahkan meninggalkan ponselku hanya untuk malam ini! Agar tak ada yang mengganggu acara kami. Aku terus menunggu hingga 4 jam dan aku sudah tidak tahan lagi. Aku pun pergi dari tempat itu! “aku membencimu Fredy” ucapku dalam hati.
Saat sampai di rumah, kulihat mamaku sedang mondar-mandir di depan dipintu dengan pandangan gelisah. “kamu dari mana?” kata mama ketika aku menginjakan kakiku di depan pintu. Aku diam, malas untuk membahasnya. “kamu tahu kalau Fredy masuk rumah sakit?” Tanya mama berhasil membuatku mataku membulat. “a…apa?” tanyaku. “jadi kamu tak tahu kalau Fredy masuk rumah sakit?” Tanya mama, aku menggeleng.
Aku dan mama meluncur cepat menuju rumah sakit. “ada apa denganmu Fred?” Tanyaku dalam hati. Saat sampai di rumah sakit, aku mendapati papa dan mamanya Fredy di depan ruangan UGD. “ada apa dengan Fredy? Dia sakit apa?” tanyaku begitu sampai disana. Mama Fredy memelukku sambil terisak “Fredy ingin menemuimu! Dia ingin pergi kesana! Tapi…… dia tak bisa! Maafkan dia” kata mama Fredy sambil terisak. “ke… kenapa?” tanyaku lagi. “dia tak memberitahumu?” Tanya mamanya lagi, aku hanya menggeleng. “Fredy…… dia sakit…..” kata mama Fredy terbata. “sakit apa” kataku, kini airmataku sudah mulai mengucur. “Fredy sakit kanker otak stadium akhir!” kata mama Fredy di iringi dengan tangisan pilunya. Aku hanya diam, nyawaku seakan melayang saat itu, Fredy? Kau akan pergi?. Aku terduduk lemas di lantai, aku memegangi lututku mencoba menguatkan hatiku. Berharap ini semua adalah mimpi buruk, tapi aku tak juga tersadar, berarti ini bukan mimpi.
Pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu. “ada yang bernama Clare disini?” Tanya dokter itu. Segera aku bangkit “aku clare”. “oh, silakan masuk. Pasien mengunggu anda”. Aku masuk keruangan itu, terdengar bunyi alat pengukur detak jantung. Aku melihat sesosok manusia terbaring lemah, penuh alat bantu di dada dan di seluruh bagian tubuhnya. Aku mendekatinya, dia tersenyum melihatku. “happy anniversary” katanya seraya tersenyum. Aku menangis di hadapannya, aku tak sanggup melihatnya, aku tak sanggup menatapnya. “kenapa?... kenapa kau membohongiku?” tanyaku mencoba mengatur emosiku. “maafkan aku, aku ingin, tapi aku tak ingin merepotkanmu!” katanya. “kau tak pernah merepotkanku! Malah kau selalu membantuku, selalu ada untukku” kataku. Aku berlari ke arahnya mencoba memeluknya sambil berdoa pada Tuhan, semoga ini bukan pelukan terakhir. “aku punya sesuatu untukmu, bisakah kau ambil kotak itu” katanya sambil menujuk kotak sedang berwarna biru dengan hiasan pita putih. Aku mengambilnya dan ku serahkan pada Fredy.
“Kau tahu, aku takkan lama lagi menemanimu, jadi ijinkanlah aku, untuk jadi kekasih idamanmu walau harus terakhir kalinya, aku…..” “sudah… cukup! Kumohon jangan ucapkan kata itu lagi!” kataku memotong katanya. Dia tersenyum, “aku hanya ingin kau dengar ini” katanya, aku mengangguguk pelan. “rajin bekerja membuat sukses, rajin membaca membuat pandai tapi rajin mencintaimu mebuatku bisa selalu tersenyum selamanya” kata Fredy lembut. Membuat airmataku semakin tumpah, aku terharu sebegitu seriusnya dia belajar gombal agar bisa jadi kekasih idamanku. “hey, ku mohon jangan menangis! Ini untukmu” katanya sambil menyerahkan kado itu, aku memeluknya lagi. “bisakah kau memanggil orang tuaku?” pintanya. “baiklah!” aku keluar dan memberi tahu orang tua Fredy.
Tapi, tidak lama setelah itu kedua orang tua Fredy keluar dan dokter pun masuk keruangan itu. Wjah mereka terlihat panik, mereka terlihat pucat. Aku tahu ini tak baik, kami menunggu dengan cemas. Sampai saat dokter keluar, wajahnya terlihat lesu. “maaf kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain” kata dokter. Seketika lututku lemah, kepalaku pusing. Baru tadi aku berbicara dengannya, baru tadi aku memeluknya, baru tadi aku melihat senyumannya. Dan sekarang, dia sudah tiada? Aku benar-benar tak percaya. Airmata ini perlahan-lahan jatuh juga, aku menyesal, “aku mencintaimu Fred” ucapku lirih.
Sekarang aku disini, di tempat terakhir orang yang aku cintai. Selamat jalan kekasih idamanku, biarkan cintamu terkubur bersama tubuhmu. Aku akan selalu mengenangmu untuk selamanya. Entah akan jadi apa hidupku tanpamu, tapi akan tetap kujalani.
-End-
Aku kembali kedalam kamar Fredy, aku memandang ke segala kamar Fredy sampai mataku terhenti pada sebuah pigura foto dimana aku dan Fredy sedang tertawa lepas di puncak saat liburan semester 2 lalu. Tapi sekarang, itu hanya akan jadi kenangan indah antara kami berdua. Aku terduduk di sudut kamar itu, perlahan-lahan mataku mulai mengeluarkan airmatanya. Aku tak sanggup kehilangannya, tidak secepat ini. ku peluk foto kami berdua “aku mencintaimu Fred!” ucapku lirih. Aku tak dapat berkata banyak lagi, hanya airmataku yang dapat mengatakan bahwa aku sangat kehilangan dirinya.
Fredy, kekasihku sejak kelas 2 SMA, kini telah pergi membawa semua cintanya. Aku mengenal Fredy di hari pendaftaran murid baru. Dia tampak begitu tampan dengan jaket dan sepatu sneekersnya. Dia juga tampak baik saat meminjamkan aku pulpen saat aku lupa bawa pulpen waktu ujian masuk.
Kami sekelas saat kelas 1, aku ingat dia menjadi kesayangan para guru karena dia mampu menguasai pelajaran dengan cepat. Awalnya aku cuek padanya, aku hanya menganggap dia teman biasa. Karena dalam hatiku sudah lebih dulu di isi Nick si ketua kelas. Aku ingat saat kami study tour, dia duduk di sampingku dan kami bercerita tentang diri kami masing-masing saat perjalanan. Saat itulah kami mulai dekat, rumahnya juga tak jauh dari rumahku. Rumah kami pun searah, karena itu aku dan dia sering pulang bersama.
Saat kelas dua, Fredy memilih jurusan IPA sedangkan aku memilih jurusan Bahasa. Karena memang aku ingin seperti ayahku yang kerja di Kemeterian Indonesia untuk Jepang. Dan aku sekelas dengan Nick, dan akhirnya aku dekat dengan Nick. Kadang kami mengerjakan PR bersama, jalan bersama bahkan tak jarang kami ke kantin bersama. Namun saat aku dan Nick dekat, Fredy datang dan menyatakan cintanya padaku di hadapan banyak orang. Aku pun meneriam cintanya dengan setengah hati.
“Maukah kamu jadi pacarku” ucap Fredy sambil berlutut di hadapanku. Aku bingung, di situ ada Nick. Tapi siapa Nick? Dia bukan siapa-siapaku!. Akhirnya ku terima cinta Fredy.
Sebulan sudah aku resmi jadi kekasihnya, dia selalu baik padaku. Dia mendengarkan semua keluh kesahku, selalu menggenggam tanganku saat berjalan bersamaku. Bahkan merelakan pundaknya sebagai tempat bersandarku saat aku sedang sedih.
Aku kembali menangis mengingat semua kejadian itu, ingin rasanya aku putar lagi waktu dan bilang kalau aku mencintainya! Tulus mencintainya! Akan ku kubur dalam-dalam perasaanku pada Nick, hanya untuknya! Asalkan dia tetap ada di sampingku! Selamanya!. Airmataku terus saja turun mencoba menenangkan gemuruh di hati, sakit ini lebih sakit daripada yang sebelum-sebelumnya.
Aku ingat saat ku temukan banyak obat di tasnya, tapi dia bilang padaku kalau memang ia sedang melakukan penelitian pada obat-obatan. Dia bohong! Teganya ia berbohong padaku!. Saat kutemukan darah pada sapu tangannya, dia bilang kalau dia tadi menolong temannya jatuh dan tangannya berdarah!. Aku kembali mersakan aliran airmata hangat di mataku, “aku tak rela Tuhan, ijinkanlah aku minta maaf padanya!” ucapku dalam hati. Mulut ini tak dapat berkata-kata lagi, hanya airmata yang dapat menggambarkan rasa kecewa, sesal dan sedih yang sedang aku rasakan.
Tiba – tiba di balik pitu muncul mama dari Fredy, aku biasa memanggilnya tante Elis. Dia berjalan ke arahku, mendekapku dan mengelus puncak kepalaku. “sudalah, biarkan dia istirahat dengan tenang, dia akan sangat sedih jika melihat kau menangis” katanya sambil mengelus pundakku. “maafkan aku Fred” ucapku lirih.
Aku bangkit dan keluar, aku duduk di sofa dekat jendela. Daritadi banyak orang yang datang ke rumah Fredy. Tapi sosok ini paling ku kenali. Dia berjalan ke arahku, aku menatapnya. Dia membuka tangannya, aku pun menghamburkan tubuhku ke dekapannya. Dia memeluku erat, seolah ingin memindahkan kesedihanku sedikit padanya. “sudahlah, jangan menangis! Aku tak mau kau menangis” katanya sambil menyeka airmataku dan kembali memelukku. Terima kasih sudah ada di sini Nick!.
Aku menyandarkan kepalaku ke dada bidang Nick. Aku lelah, sangat lelah, aku ingin istirahat sebentar. Tapi, ketika melihat Nick membuatku merindukan Fredy lagi.
“hey sudahlah jangan makan ice creame terlalu banyak” tegur nick. Tapi aku tak peduli, disini sangat panas, dan lagi pula ini adalah ice cream kesukaanku. “tidak mau” kataku sambil menjulurkan lidahku padanya. “eh, kau berani padaku ya? Awas kau! Akan ku kelitiki badanmu” katanya seraya menangkap tubuhku dan emngelitikinya membuatku tak mampu menahan geli dan tawa. Tapi tiba – tiba Fredy memegangi kepalanya, dia seperti menahan sakit dan seketika itu juga rubuh di tanah.
Aku memanggil namanya, karena ku kira ia bercanda, tapi tak ada respon. Aku pun segera membawanya ke rumah sakit. Aku hanya bisa mondar-mandir di depan UGD. Sambil terus berdoa, semoga tak ada apa-apa. Sampai akhirnya papa dan mamanya datang. “kenapa dengan Fredy?” Tanya mamanya Fredy. “aku tak tahu, tiba-tiba saja ia pingsan!” kataku.
Saat keluar dari ruangan, mama dan papa Fredy namapak biasa-biasa saja. Begitu pun Fredy, dia tampak biasa-biasa saja. “dokter bilang, kau sakit apa?” tanyaku pada Fredy waktu itu. “tenanglah dokter bilang aku hanya migran sedikit” katanya tenang. Hatiku pun tenang mendengar semua itu.
Beberapa bulan kemuadian, aku jarang sekali bertemu dengan Fredy lagi. Aku hubungi dia, tapi tak ada respon darinya. Sampai akhirnya aku bertemu juga dengannya. “kamu itu darimana saja? Kenapa menghilang seperti itu?” Tanyaku padanya. “aku sedang sibuk untuk praktek bulan depan” katanya seraya tersenyum.
Kami menghabiskan waktu berdua, makan, jalan-jalan dan nonton tv bersama. Kami melihat acara tv yang isinya tentang gombal. Aku menantangnya untuk gombal, tapi hasilnya dia bilang tidat tahu! tidak bisa!basi! pokonya dia tidak mau melakukannya walau untukku sendiri. Aku kesal waktu itu, akhirnya ku ambil tasku dan langsung pulang. Fredy mengejarku, tapi aku tetap tak bergeming sedikitpun. Rara, Gina, Chika bahkan Mely cowok mereka semuanya jago gombal, padahal sebelumnya tidak bisa. “demi cinta” kata Rendy pada si Chika. “kenapa kamu tak bisa jadi orang yang mengerti akau?” kataku dalam hati. Setelah kejadian itu, aku dan Fredy tak lagi bertemu sampai kira-kira 2 minggu. Fredy menemuiku di rumahku, aku tak mau menemuinya, tapi mamaku memaksaku untuk menemuinya. Akupun turun untuk menemuinya. “hey” sapanya sambil tersenyum, “hey” balasku sambil tersenyum sinis. “kau masih marah?” tanyanya, “kelihatannya?” tanyaku bailk. Dia beranjak dari duduknya mendekatiku yang beridiri di depan pintu, dia memegang tanganku lembut. Ku coba untuk melepaskan genggamannya, tapi dia terlalu kuat, akhirnya ku biarkan saja. “maafkan aku jika kau kecewa, jika aku tak bisa menjadi kekasih seperti kekasih-kekasih temanmu yang lain. Maafkan aku jika aku tak bisa jadi kekasih yang tak bisa memahami kebutuhanmu” kata Fredy seolah bisa membaca semua pikiranku. “tapi, aku hanya ingin jadi diriku sendiri, diriku yang selalu mencintaimu! Yang tak perlu mengungkapkannya dengan kata- kata yang tak bisa ku penuhi!” lanjutnya. Aku tesentak, memang benar apa yang dia katakan. “maafkan aku Fredy, aku bodoh” ucapku sambil menunduk malu, dia memelukku erat saat itu. Pelukan yang kurindukan dan akan selalu kurindukan, aku ingin kau peluk lagi Fredy!.
Hari itu, kami berjanji akan bertemu. Kami akan merayakan setahun hubungan kami, aku menunggunya di restoran itu sudah hampir 2 jam. Tapi Fredy tak menunjukan tanda-tanda ia akan datang, aku bahkan meninggalkan ponselku hanya untuk malam ini! Agar tak ada yang mengganggu acara kami. Aku terus menunggu hingga 4 jam dan aku sudah tidak tahan lagi. Aku pun pergi dari tempat itu! “aku membencimu Fredy” ucapku dalam hati.
Saat sampai di rumah, kulihat mamaku sedang mondar-mandir di depan dipintu dengan pandangan gelisah. “kamu dari mana?” kata mama ketika aku menginjakan kakiku di depan pintu. Aku diam, malas untuk membahasnya. “kamu tahu kalau Fredy masuk rumah sakit?” Tanya mama berhasil membuatku mataku membulat. “a…apa?” tanyaku. “jadi kamu tak tahu kalau Fredy masuk rumah sakit?” Tanya mama, aku menggeleng.
Aku dan mama meluncur cepat menuju rumah sakit. “ada apa denganmu Fred?” Tanyaku dalam hati. Saat sampai di rumah sakit, aku mendapati papa dan mamanya Fredy di depan ruangan UGD. “ada apa dengan Fredy? Dia sakit apa?” tanyaku begitu sampai disana. Mama Fredy memelukku sambil terisak “Fredy ingin menemuimu! Dia ingin pergi kesana! Tapi…… dia tak bisa! Maafkan dia” kata mama Fredy sambil terisak. “ke… kenapa?” tanyaku lagi. “dia tak memberitahumu?” Tanya mamanya lagi, aku hanya menggeleng. “Fredy…… dia sakit…..” kata mama Fredy terbata. “sakit apa” kataku, kini airmataku sudah mulai mengucur. “Fredy sakit kanker otak stadium akhir!” kata mama Fredy di iringi dengan tangisan pilunya. Aku hanya diam, nyawaku seakan melayang saat itu, Fredy? Kau akan pergi?. Aku terduduk lemas di lantai, aku memegangi lututku mencoba menguatkan hatiku. Berharap ini semua adalah mimpi buruk, tapi aku tak juga tersadar, berarti ini bukan mimpi.
Pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu. “ada yang bernama Clare disini?” Tanya dokter itu. Segera aku bangkit “aku clare”. “oh, silakan masuk. Pasien mengunggu anda”. Aku masuk keruangan itu, terdengar bunyi alat pengukur detak jantung. Aku melihat sesosok manusia terbaring lemah, penuh alat bantu di dada dan di seluruh bagian tubuhnya. Aku mendekatinya, dia tersenyum melihatku. “happy anniversary” katanya seraya tersenyum. Aku menangis di hadapannya, aku tak sanggup melihatnya, aku tak sanggup menatapnya. “kenapa?... kenapa kau membohongiku?” tanyaku mencoba mengatur emosiku. “maafkan aku, aku ingin, tapi aku tak ingin merepotkanmu!” katanya. “kau tak pernah merepotkanku! Malah kau selalu membantuku, selalu ada untukku” kataku. Aku berlari ke arahnya mencoba memeluknya sambil berdoa pada Tuhan, semoga ini bukan pelukan terakhir. “aku punya sesuatu untukmu, bisakah kau ambil kotak itu” katanya sambil menujuk kotak sedang berwarna biru dengan hiasan pita putih. Aku mengambilnya dan ku serahkan pada Fredy.
“Kau tahu, aku takkan lama lagi menemanimu, jadi ijinkanlah aku, untuk jadi kekasih idamanmu walau harus terakhir kalinya, aku…..” “sudah… cukup! Kumohon jangan ucapkan kata itu lagi!” kataku memotong katanya. Dia tersenyum, “aku hanya ingin kau dengar ini” katanya, aku mengangguguk pelan. “rajin bekerja membuat sukses, rajin membaca membuat pandai tapi rajin mencintaimu mebuatku bisa selalu tersenyum selamanya” kata Fredy lembut. Membuat airmataku semakin tumpah, aku terharu sebegitu seriusnya dia belajar gombal agar bisa jadi kekasih idamanku. “hey, ku mohon jangan menangis! Ini untukmu” katanya sambil menyerahkan kado itu, aku memeluknya lagi. “bisakah kau memanggil orang tuaku?” pintanya. “baiklah!” aku keluar dan memberi tahu orang tua Fredy.
Tapi, tidak lama setelah itu kedua orang tua Fredy keluar dan dokter pun masuk keruangan itu. Wjah mereka terlihat panik, mereka terlihat pucat. Aku tahu ini tak baik, kami menunggu dengan cemas. Sampai saat dokter keluar, wajahnya terlihat lesu. “maaf kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain” kata dokter. Seketika lututku lemah, kepalaku pusing. Baru tadi aku berbicara dengannya, baru tadi aku memeluknya, baru tadi aku melihat senyumannya. Dan sekarang, dia sudah tiada? Aku benar-benar tak percaya. Airmata ini perlahan-lahan jatuh juga, aku menyesal, “aku mencintaimu Fred” ucapku lirih.
Sekarang aku disini, di tempat terakhir orang yang aku cintai. Selamat jalan kekasih idamanku, biarkan cintamu terkubur bersama tubuhmu. Aku akan selalu mengenangmu untuk selamanya. Entah akan jadi apa hidupku tanpamu, tapi akan tetap kujalani.
-End-

Komentar
Posting Komentar