I want U love her *cerpen saya*
Ku langkahkan kakiku menuju gerbang sekolah, hmmm tak terasa akhirnya
bisa SMA juga. Saking senangnya bahkan saat upacara pun aku
mengikutinya dengan serius. Aku tak tahu kenapa yang jelas hari ini aku
semangat sekali.
Aku memasuki kelas baruku dan mulai memilih tempat dudukku, aku duduk di sebelah gadis cantik namanya Rose. Dia amatlah baik, suka sekali tersenyum membuat dia jadi cepat akrab dengan yang lainnya. Banyak teman yang suka berteman dengan kami, termasuk Julio. Julio adalah sosok pria sempurna di mataku, entahlah tapi ketika bersamanya aku bisa tersenyum dan tertawa, ia selalu membuatku Nyaman didekatnya.
Hari ini aku janjian dengan Julio dan Rose, kami bertiga akan membuat proyek social kami bersama. Kami memutuskan untuk berkumpul di rumahku jam 3 sore karena kami akan mewawancarai seorang pemulung yang biasa lewat di depan rumahku pada sore hari.
Julio yang pertama kali datang, hmm dia terihat makin tampan saat tak menggunakan seragam. “kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Julio. Aku hanya menyeritkan dahi pura-pura tak perduli “aku tak memandangmu, ayo masuk tinggal nunggu Rose” kataku.
Aku dan Julio mengobrol banyak sekali, mulai dari masalah sekolah, music bahkan gossip-gosip di sekolah kami. Sampai akhirnya kami sadar kalau pemulung itu sudah ada, tapi Rose belum juga datang. Ya sudah terpaksa aku dan Julio mewawancarainya tanpa Rose, dan sebagai penutup wawancara kami, kami memberikan makanan padanya.
Aku dan Julio kemudian beristirahat sebentar di teras rumah, “kemana si Rose?” tanyaku, “hmm entahlah”tambah Julio. “hey kamu punya waktu malam minggu nanti?” Tanya Julio lagi, “buat apa?” Tanya ku, “aku mau mengajakmu jalan” jawab Julio. Aku tersenyum lalu menangguk pelan, dia tersenyum.
Malam minggu pun tiba, aku senang sekali. Julio mengajakku ke sebuah taman kota, kami duduk di dekat danau, pantulan cahaya bulan di permukaan danau sangatlah cantik. Julio membawakan Cappucino dan kripik kentang karena memang cuaca lumayan dingin sekarang.
“hey, ada yang ingin ku tanyakan padamu” kata Julio, “apa?” tanyaku. “apa kesan pertamamu padaku?” Tanya Julio, “ehmmm”aku berpikir sejanak “menurutku kau orangnya menyenangkan” kataku jujur “kalau kau, apa kesan pertamamu padaku?” tanyaku, “menurutku kau sangat cerewet, tapi juga manis” katanya sambil tersenyum, dan membuat pipiku merah. Dia melihat kearahku sebentar dan tertawa, menyebalkan. “apa yang lucu?” tanyaku sebal, “wajahmu! Lucu sekali! Kenapa bisa semerah itu” katanya dan kembali tertawa. Aku bangkit dan pergi meninggalkannya, ku dengar tawanya berhenti.
“hey, Claudia!” panggilnya tapi aku acuhkan saja. “oh, ayolah! Baiklah maafkan aku!” katanya sambil menahan tanganku, aku berbalik menghadapnya kini raut wajahnya berubah menjadi serius. “maafkan aku, aku tak bermaksud mengejekmu” mohonnya, aku hanya tersenyum. “ayo ikut aku” katannya seraya menarik tanganku.
Kami masuk ke sebuah ruangan music, aku hanya bisa menyeritkan dahi mencoba memahami kenapa Julio membawaku kesini. “kenapa kau membawaku kemari?” tanyaku, tapi Julio hanya tersenyum sebentar dan terus menarik tanganku. Ia membawaku ke sebuah ruangan berisi sebuah piano hitam yang indah, aku hanya bisa terdiam.
Julio berjalan kea rah piano itu, membukanya dan duduk di depan piano itu, “hey kemarilah” katanya. Aku berjalan menuju ke arahnya “ini laguku untukmu” katanya seraya tersenyum manis.
Lagu Just the way you are pun melantun, suara Julio merdu sekali, tak ku sangka ia sangat mahir menekan tuts piano itu.
Dan saat part terakhir, Julio memainkan piano itu dengan satu tangan dan satu tangannya lagi terbuka ke arahku. Dia mengajakku mendekat, ku raih tangannya dan duduk di sampingnya. Dia bernyanyi pelan sambil menatapku, aku pun menatapnya melihat mata hazelnya.
When I see your face
There’s not a thing that I would change
Cause you’re amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops
And stares for awhile
Cause girl you’re amazing
Just the way you are
Di akhir lagunya, Julio memberiku kecupan di dahiku dan tersenyum. “maukah kau menjadi gadisku?” tanyanya dan ku jawab dengan anggukan kepala dan senyum manis membuat Julio memelukku.
Sebulan setelah kejadian itu, aku mengetahui bahwa sahabatku akan pindah sekolah, ya Rose akan pindah sekolah. “jadi kau benar-benar akan meninggalkanku?” tanyaku pada Rose dikantin. “kau ini lebay sekali, kita masih bisa saling telfon dan memberi kabar setiap saat, sekarangkan jaman sudah canggih” katany seraya tersenyum. “tapi, aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi” kataku. “tidak apa, nanti kau akan menemukan teman baru kan?” katanya, kata-katanya membuatku menitikkan airmataku “jangan lupakan aku ya?” kataku “sudahlah jangan menangis” katanya sambil mengusap air mataku.
“ada apa ini?” Tanya Julio yang baru saja sampai, mungkin dia khawatir karena melihatku menangis. “tak tahu, pacarmu ini malah menangis ketika ku bilang kalau aku akan pindah sekolah” kata Rose yang semakin menyedihkan hatiku. “jadi kau akan pindah?” Tanya Julio “ya, besok aku sudah tak akan bersama kalian” jawab Rose santai.
Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran hari ini, untung saja hari ini praktek jadi tidak perlu berkonsentrasi penuh. Kami mengadakan pengamatan terhadap program social di sekolah kami. Ketika aku sedang melakukan pengamatan tak sengaja aku menabrak seseorang yang membuat seragamku agak sedikit kotor. “oh kau tak apa?” Tanya Rose panic. “tidak apa, oh ya apa kau punya tissue?” tanyaku, “ya ada di tas” jawabnya santai “kalau begitu kau duluan saja dan aku akan menyusulmu”. Aku pun kembali kekelas untuk mengambil tissue, saat membuka tas Rose aku terkejut karena aku menemukan banyak sekali obat di dalam tasnya. “kenapa Rose membawa banyak obat, tak biasanya” kataku dalam hati. Rasa penasaran membuatku ingin meneliti lebih jauh lagi, benar ini tasnya Rose, buat apa ia membawa obat-obatan sebanyak ini, aku mengambil satu botol obat dan aku amati, tapi baru saja mau kubuka “Claudia, apa yang kau lakukan?” teriak Rose di ambang pintu. “oh, maafkan aku Rose” aku minta maaf karena sudah lancing membuka tasnya. “ya tidak apa-apa” katanya. “kenapa kau bawa obat sebanyak ini?” tanyaku “oh, itu… aku di suruh papaku, ini obat untuk sepupuku.” Katanya. “oh, kau membuatku khawatir” kataku, “sudah bersihkan seragammu cepat” katanya sambil meyodorkan tissue.
Besoknya aku kehilangan sahabatku, Rose benar-benar sudah pindah sekarang. Kini aku duduk sendiri, tak ada lagi Rose yang selalu mendengar curhatku, yang selalu menjadi panutan bagiku dengan sikap dewasanya. Oh Rose ku mohon jangan tinggalkan aku.
Pulang sekolah aku menuju ke rumah Rose, walau hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku menekan bel dari tadi tapi tak ada yang membukanya, akhirnya aku pun pulang. “Claudia!” teriak kakak semata wayangku kak Chris. “ada apa?” tanyaku malas, kakakku yang satu ini sangatlah cerewet dia kuliah di bidang Farmasi loh. “ini apa” tanyanya sambil menyodorkan sebotol obat Rose yang kemarin tak sengaja ku masukan ke dalam kantongku, mungkin si bibi yang meberikannya padanya. “oh, itu obatnya Rose, kemarin tak sengaja ku masukan ke dalam kantongku” jelasku “kau tahu ini obat apa?” tanyanya, aku hanya menggelengkan kepalaku “dia bilang itu buat sepupunya” kataku. “ini obat untuk penderita tumor” katanya, aku hanya bisa terdiam kaget, tapi itukan untuk sepupunya. “oh, tapikan itu untuk sepupunya Rose” kataku. “sepupu?” Tanya kak Chris lagi “iya” jawabku “tapi bukannya dia bilang kau ayah dan ibunya adalah anak tunggal, jadi darimana sepupunya” jelas Chris. Penjelasan Chris berhasil membuat jantungku berhenti berdetak.
Aku pun berlari kembali menuju rumah Rose, sambil terus berdoa semoga ini tak benar. Sampai di rumah Rose aku kembali menekan bel. Dan yang membukakan pintu adalah mamanya Rose, begitu melihatku, beliau langsung memelukku, dan ini membuktikan semuanya benar. “tante, dimana Rose” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. “apa kau sudah tahu semuanya?” Tanya mamanya Rose, “a…apa Rose…” aku sudah tak sanggup lagi bicara, aku menangis, aku tak sanggup melihat sahabatku meninggal.
“ya, saat ini Rose harus di rawat di rumah sakit karena tumornya sudah sangat parah dan sudah menjalar keseluruh tubuhnya” jelas tante Rosa. Aku kembali menangis “tuhan, kumohon jangan ambil sahabat terbaikku” lirihku dalam hati. Aku dan tante Rosa segera menuju rumah sakit, aku menelpon Julio dan memberitahukan keadaan Rose.
Aku memasuki sebuah ruangan khusus, kini aku melihat sahabatku sedang terbaring di sana dengan banyak alat bantu di tubuhnya. Aku mendekatinya untuk memastikan kalau orang itu adalah sahabatku Rose. Dan ternyata memang benar dia adalah Rose, genangan air di mataku kembali mengucur dengan deras, “kenapa kau tidak memberitahuku Rose? Kenapa” kataku lirih. “hidupnya tak akan lama lagi” kata tante Rosa sedih. “tidak… Rose akan tetap hidup, dia harus tetap hidup” kataku dengan airmataku. Kembali terkenang kenangan kami berdua, saat kami tertawa, saat kami bertengkar, oh Rose ku mohon bertahanlah.
Tak lama kemudian Julio pun datang, aku langsung memeluknya. Dia memelukku dan mencoba menenangkanku. “tenanglah, Rose adalah orang yang kuat” kata Julio menenangkanku. “tante harus pulang dulu ya, tante harus mengambil baju ganti untuk rose” kata tante Rosa, “hmm tante, boleh aku saja? Tante temani Rose disini saja!” tawarku.
Aku dan Julio pun kerumah Rose untuk mengambil baju untuk Rose, aku masuk kedalam sedangkan Julio menunggu di luar. Aku masuk kedalam kamar Rose, aku mengarahkan pandanganku ke setiap sudut kamar Rose, sampai aku melihat sebuah pigura foto, bertuliskan “best friend’s forever” di situ ada fotoku dan juga Rose dengan gaya yang konyol. Aku tertawa kecil namu kali ini di ikuti dengan airmataku, aku mempunyai sahabat kaulah orangnya Rose. Aku memandangi foto Rose dia terlihat ceria tapi sekarng ia bagaikan mayat hidup.
Aku mengarahkan pandanganku menuju meja kecil di samping tempat tidur, di sana ada buku Biru dengan pita Pink. Aku mengambil buku itu dan membacanya dan membautku tahu satu hal, Rose menyukai Julio!!. ada satu kalimat yang membuatku kaget
Seharusnya aku tak punya perasaan seperti ini,
Dia itu temanku, tak akan mungkin aku mengkhinatinya
Namun aku juga tak mungin bisa mengkhianati hatiku sendir
Aku juga mencintai orang yang sama dengan Claudia
Aku juga mencintai Julio, sangat mencintai Julio
Bahkan mungkin melebihi Claudia.
Maafkan aku Claudia.
Hatiku terasa sesak, airmataku mengalir tiada henti. Kenapa kau tak memberitahuku Rose? Apa aku harus melepaskan Julio? Oh Tuhan bantu aku.
Aku segera menghapus airmataku dan segera mengemasi barang-barang untuk dibawa ke rumah sakit. Aku masuk mobil dan tak berkata apapun juga pada Julio. Sampai di rumah sakit, aku segera menyerahkan barang-barang itu pada tante Rosa dan duduk di samping ranjang Rose. “aku akn lakukan segalanya asal kau sembuh! Meski itu berarti aku akn merelakan Julio” kataku dalam hati. Julio meletakan tangannya di bahuku, tapi aku menepisnya, aku harus bisa menjauh darinya. Tak berapa lama, ada dokter yang datang dan memeriksa keadaan Rose, setelah itu ia mengajak tante Rosa ke ruangannya.
Setelah tante rosa keluar, tinggal aku, Julio dan Rose sekarang. Aku pun segera meninggalkan Julio dan Rose, “kau mau kemana?” Tanya Julio, “ke kamar kecil sebentar” kataku. Aku berjalan tanpa arah, aku hanya ingin Julio dan Rose bisa dekat walau aku tahu hati ini akan terluka dan sakit, tapi aku coba untuk tetap kuat. Tak sengaja aku melewati ruangan dokter yang tadi memeriksa Rose, aku pun bisa mendengar percakapan dokter dengan pastinya tante Rosa.
“sangat bagus, daya tahan anak ibu kembali kuat! Dia seakan punya semangat lagi bu, kalau begini terus keadaannya maka dia pasti masih punya harapan” kata dokter itu. Ya, tentu saja Rose senang karena kini ada Julio di sampingnya, orang yang sangat ia cintai.
Aku pun kembali ke ruangan Rose, tapi langkahku terhenti saat mendengar suara Julio, ku rasa ia sedang berbicara pada Rose, “kalau saja aku mengenalmu duluan, aku pasti bisa mencintaimu”. Deggg rasanya jantung ini berhenti berdetak, rasa sesak itu seperti bertambah dalam hatiku. Jadi Julio juga mencintai Rose, dan aku hanya akn menjadi benalu bagi mereka berdua?. Hati ini semakin sesak saja, walau menangis tetap saja hati ini terasa sesak. Aku pun berlari keluar dan pulang kerumah tanpa Julio, mungkin sudah saatnya mengahapus Julio dari hatiku.
Mungkin karena lelah, sampai akhirnya aku tertidur. Ketika bangun aku melihat ada 37 missed call dan 24 sms dari Julio yang semuanya menanyakan keadaan dan keberadaanku. Aku kembali menitikkan airmataku, haruskah aku melepaskanmu Julio? Aku mencintaimu namun kau dan Rose saling mencintai, jadi aku harus bagaimana?. Tiba-tiba hp-ku bergetar tanda telepon dari Julio, aku memandang hp-ku sebentar terlihat di layar nama ^JuLOV^. Aku ragu menangkatnya, tapi aku harus mengakhiri semua ini, demi sahabatku. “halo” jawabku “kau dimana?” Tanya Julio “aku di rumah”jawabku “kenapa tak bilang kalau kau pulang, aku khawatir” kata Julio. “Lio,”panggilku “ya” jawabnya lembut. “aku ingin bilang sesuatu” kataku “apa?”tanyanya “aku ingin kita putus karena aku ingin kau membahagiakan Rose” kataku “maksudmu?” tanyanya “aku tahu kau dan Rose saling mencintai, tadi aku mendengarnya sendiri kau bilang kau mencintai Rose” kata-kataku terhenti, tertelan oleh tangisan yang sejak tadi kutahan “apa maksudmu? Aku tak mengerti”kata Julio lagi “sudahlah aku tahu, aku tadi juga membaca diary Rose dan disitu Rose bilang dia mencintaimu, bahkan lebih dariku! Ku mohon bahagiakan Rose, karena kau rose jadi punya semangat hidup lagi, kumohon!” kataku. “tidak!! Kau salah paham, aku tak mencintai Rose, aku..” “ku mohon demi rose sahabatku” aku emoting ucapannya. “kau gila!! Aku tak mau!!” katanya kemudian mematikan teleponnya.
Besoknya di sekolah, Julio mulai dingin padaku, mungkin ia marah padaku. Baguslah itu akan membuatnya cepat melupakanku, walau aku tahu ini menyakitkan, tapi akan menyakitkan lagi jika aku hanya menjadi benalu bagi mereka. Akupun kerumah sakit dan menemui Rose. “hy Rose” sapaku pada Rose meski aku tahu kalau ia belum bisa membalas sapaanku. “cepatlah bangun, aku sudah tahu semuanya, kau tahu aku sudah putus dengan Julio karna akhirnya aku tahu kalau kau dan Julio saling mencintai, kau senang bukan. Aku akan lakukan semuanya demi kamu Rose” kataku di iringi tangisku. Aku tahu aku tak sanggup tapi aku coba untuk menguatkan hatiku demi sahabatku.
Sudah dua minggu ini, aku tak bertemu dengan Julio. Setiap hari aku hanya bersama Rose yang belum juga sadar. Aku pergi keluar sebentar membeli makanan untuk aku dan tante Rosa. “Claudia” panggil seseorang “Julio”, “Claudia” katanya sambil memelukku, jujur aku merindukannya tapi aku harus tetap pada komitmenku, aku melepaskan pelukannya, “kemana saja kau! Kenapa kau tak menemui Rose” kataku, “aku sudah bilang aku tak mencintai Rose!! Aku mencintaimu!” teriak Julio. “tapi,”, “tapi apa? Aku bilang kalau saja aku mengenalnya duluan aku pasti mencintainya, tapi seiring dengan jalannya waktu aku tahu kalau aku mencintai sahabatnya, yaitu kau!! Kau tidak bisa memaksakan cinta” kata Julio. “dia harus hadapi takdirnya, aku hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih, tolong jangan permainkan hatiku Claudia” sambungnya lagi, aku hanya menunduk menahan tangisku. Julio memelukku, kita hanya harus mendoakannya sekarang.
Kami pun menuju rumah sakit, Julio masuk ke ruangan Rose dia duduk di samping dan berbisik sesuatu di telinga Rose dan ajaibnya perlahan Rose membuka matanya. Aku berlari masuk begitu pun dengan tante Rosa. Rose memandangku sayu, dia tersenyum lemah. Aku memeluknya, “makasih ya kamu memang sahabat terbaikku” katanya lemah, aku hanya bisa menitikkan airmataku. “aku ingin kamu bahagia saat aku pergi nanti, jadi jangan berpikir kalau dengan merelakan Julio buatku, itu akan membuatku bahagia. Karena kebahagianku adalah ketika melihatmu bahagia bersama orang yang aku cintai” katanya seraya tersenyum. “darimana kau tahu?” tanyaku “tubuhku memang tidur, tapi jiwaku tidak” aku tersenyum. “boleh aku bicara berdua dengan mamaku?”
Satu jam kemudian tiba-tiba saja dokter masuk keruangan Rose, dan beberapa menit kemudian dokter dan tante rosa keluar dengan wajah tertunduk. Tante rosa memelukku, aku menangis sejadi-jadinya. Tuhan kenapa engkau hanya memberikan waktu sesingkat ini untuk sahabatku? Aku masih ingin tertawa bersamanya.
Kini aku berada di tempat peristirahatan terakhir sahabat terbaikku, aku memeluk Julio di sampingku. Amu menangis kembali jika mengingatnya, maafkan aku sahabatku. Tuhan tempatkanlah ia di tempatmu yang indah.
^END^
Aku memasuki kelas baruku dan mulai memilih tempat dudukku, aku duduk di sebelah gadis cantik namanya Rose. Dia amatlah baik, suka sekali tersenyum membuat dia jadi cepat akrab dengan yang lainnya. Banyak teman yang suka berteman dengan kami, termasuk Julio. Julio adalah sosok pria sempurna di mataku, entahlah tapi ketika bersamanya aku bisa tersenyum dan tertawa, ia selalu membuatku Nyaman didekatnya.
Hari ini aku janjian dengan Julio dan Rose, kami bertiga akan membuat proyek social kami bersama. Kami memutuskan untuk berkumpul di rumahku jam 3 sore karena kami akan mewawancarai seorang pemulung yang biasa lewat di depan rumahku pada sore hari.
Julio yang pertama kali datang, hmm dia terihat makin tampan saat tak menggunakan seragam. “kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Julio. Aku hanya menyeritkan dahi pura-pura tak perduli “aku tak memandangmu, ayo masuk tinggal nunggu Rose” kataku.
Aku dan Julio mengobrol banyak sekali, mulai dari masalah sekolah, music bahkan gossip-gosip di sekolah kami. Sampai akhirnya kami sadar kalau pemulung itu sudah ada, tapi Rose belum juga datang. Ya sudah terpaksa aku dan Julio mewawancarainya tanpa Rose, dan sebagai penutup wawancara kami, kami memberikan makanan padanya.
Aku dan Julio kemudian beristirahat sebentar di teras rumah, “kemana si Rose?” tanyaku, “hmm entahlah”tambah Julio. “hey kamu punya waktu malam minggu nanti?” Tanya Julio lagi, “buat apa?” Tanya ku, “aku mau mengajakmu jalan” jawab Julio. Aku tersenyum lalu menangguk pelan, dia tersenyum.
Malam minggu pun tiba, aku senang sekali. Julio mengajakku ke sebuah taman kota, kami duduk di dekat danau, pantulan cahaya bulan di permukaan danau sangatlah cantik. Julio membawakan Cappucino dan kripik kentang karena memang cuaca lumayan dingin sekarang.
“hey, ada yang ingin ku tanyakan padamu” kata Julio, “apa?” tanyaku. “apa kesan pertamamu padaku?” Tanya Julio, “ehmmm”aku berpikir sejanak “menurutku kau orangnya menyenangkan” kataku jujur “kalau kau, apa kesan pertamamu padaku?” tanyaku, “menurutku kau sangat cerewet, tapi juga manis” katanya sambil tersenyum, dan membuat pipiku merah. Dia melihat kearahku sebentar dan tertawa, menyebalkan. “apa yang lucu?” tanyaku sebal, “wajahmu! Lucu sekali! Kenapa bisa semerah itu” katanya dan kembali tertawa. Aku bangkit dan pergi meninggalkannya, ku dengar tawanya berhenti.
“hey, Claudia!” panggilnya tapi aku acuhkan saja. “oh, ayolah! Baiklah maafkan aku!” katanya sambil menahan tanganku, aku berbalik menghadapnya kini raut wajahnya berubah menjadi serius. “maafkan aku, aku tak bermaksud mengejekmu” mohonnya, aku hanya tersenyum. “ayo ikut aku” katannya seraya menarik tanganku.
Kami masuk ke sebuah ruangan music, aku hanya bisa menyeritkan dahi mencoba memahami kenapa Julio membawaku kesini. “kenapa kau membawaku kemari?” tanyaku, tapi Julio hanya tersenyum sebentar dan terus menarik tanganku. Ia membawaku ke sebuah ruangan berisi sebuah piano hitam yang indah, aku hanya bisa terdiam.
Julio berjalan kea rah piano itu, membukanya dan duduk di depan piano itu, “hey kemarilah” katanya. Aku berjalan menuju ke arahnya “ini laguku untukmu” katanya seraya tersenyum manis.
Lagu Just the way you are pun melantun, suara Julio merdu sekali, tak ku sangka ia sangat mahir menekan tuts piano itu.
Dan saat part terakhir, Julio memainkan piano itu dengan satu tangan dan satu tangannya lagi terbuka ke arahku. Dia mengajakku mendekat, ku raih tangannya dan duduk di sampingnya. Dia bernyanyi pelan sambil menatapku, aku pun menatapnya melihat mata hazelnya.
When I see your face
There’s not a thing that I would change
Cause you’re amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops
And stares for awhile
Cause girl you’re amazing
Just the way you are
Di akhir lagunya, Julio memberiku kecupan di dahiku dan tersenyum. “maukah kau menjadi gadisku?” tanyanya dan ku jawab dengan anggukan kepala dan senyum manis membuat Julio memelukku.
Sebulan setelah kejadian itu, aku mengetahui bahwa sahabatku akan pindah sekolah, ya Rose akan pindah sekolah. “jadi kau benar-benar akan meninggalkanku?” tanyaku pada Rose dikantin. “kau ini lebay sekali, kita masih bisa saling telfon dan memberi kabar setiap saat, sekarangkan jaman sudah canggih” katany seraya tersenyum. “tapi, aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi” kataku. “tidak apa, nanti kau akan menemukan teman baru kan?” katanya, kata-katanya membuatku menitikkan airmataku “jangan lupakan aku ya?” kataku “sudahlah jangan menangis” katanya sambil mengusap air mataku.
“ada apa ini?” Tanya Julio yang baru saja sampai, mungkin dia khawatir karena melihatku menangis. “tak tahu, pacarmu ini malah menangis ketika ku bilang kalau aku akan pindah sekolah” kata Rose yang semakin menyedihkan hatiku. “jadi kau akan pindah?” Tanya Julio “ya, besok aku sudah tak akan bersama kalian” jawab Rose santai.
Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran hari ini, untung saja hari ini praktek jadi tidak perlu berkonsentrasi penuh. Kami mengadakan pengamatan terhadap program social di sekolah kami. Ketika aku sedang melakukan pengamatan tak sengaja aku menabrak seseorang yang membuat seragamku agak sedikit kotor. “oh kau tak apa?” Tanya Rose panic. “tidak apa, oh ya apa kau punya tissue?” tanyaku, “ya ada di tas” jawabnya santai “kalau begitu kau duluan saja dan aku akan menyusulmu”. Aku pun kembali kekelas untuk mengambil tissue, saat membuka tas Rose aku terkejut karena aku menemukan banyak sekali obat di dalam tasnya. “kenapa Rose membawa banyak obat, tak biasanya” kataku dalam hati. Rasa penasaran membuatku ingin meneliti lebih jauh lagi, benar ini tasnya Rose, buat apa ia membawa obat-obatan sebanyak ini, aku mengambil satu botol obat dan aku amati, tapi baru saja mau kubuka “Claudia, apa yang kau lakukan?” teriak Rose di ambang pintu. “oh, maafkan aku Rose” aku minta maaf karena sudah lancing membuka tasnya. “ya tidak apa-apa” katanya. “kenapa kau bawa obat sebanyak ini?” tanyaku “oh, itu… aku di suruh papaku, ini obat untuk sepupuku.” Katanya. “oh, kau membuatku khawatir” kataku, “sudah bersihkan seragammu cepat” katanya sambil meyodorkan tissue.
Besoknya aku kehilangan sahabatku, Rose benar-benar sudah pindah sekarang. Kini aku duduk sendiri, tak ada lagi Rose yang selalu mendengar curhatku, yang selalu menjadi panutan bagiku dengan sikap dewasanya. Oh Rose ku mohon jangan tinggalkan aku.
Pulang sekolah aku menuju ke rumah Rose, walau hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku menekan bel dari tadi tapi tak ada yang membukanya, akhirnya aku pun pulang. “Claudia!” teriak kakak semata wayangku kak Chris. “ada apa?” tanyaku malas, kakakku yang satu ini sangatlah cerewet dia kuliah di bidang Farmasi loh. “ini apa” tanyanya sambil menyodorkan sebotol obat Rose yang kemarin tak sengaja ku masukan ke dalam kantongku, mungkin si bibi yang meberikannya padanya. “oh, itu obatnya Rose, kemarin tak sengaja ku masukan ke dalam kantongku” jelasku “kau tahu ini obat apa?” tanyanya, aku hanya menggelengkan kepalaku “dia bilang itu buat sepupunya” kataku. “ini obat untuk penderita tumor” katanya, aku hanya bisa terdiam kaget, tapi itukan untuk sepupunya. “oh, tapikan itu untuk sepupunya Rose” kataku. “sepupu?” Tanya kak Chris lagi “iya” jawabku “tapi bukannya dia bilang kau ayah dan ibunya adalah anak tunggal, jadi darimana sepupunya” jelas Chris. Penjelasan Chris berhasil membuat jantungku berhenti berdetak.
Aku pun berlari kembali menuju rumah Rose, sambil terus berdoa semoga ini tak benar. Sampai di rumah Rose aku kembali menekan bel. Dan yang membukakan pintu adalah mamanya Rose, begitu melihatku, beliau langsung memelukku, dan ini membuktikan semuanya benar. “tante, dimana Rose” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. “apa kau sudah tahu semuanya?” Tanya mamanya Rose, “a…apa Rose…” aku sudah tak sanggup lagi bicara, aku menangis, aku tak sanggup melihat sahabatku meninggal.
“ya, saat ini Rose harus di rawat di rumah sakit karena tumornya sudah sangat parah dan sudah menjalar keseluruh tubuhnya” jelas tante Rosa. Aku kembali menangis “tuhan, kumohon jangan ambil sahabat terbaikku” lirihku dalam hati. Aku dan tante Rosa segera menuju rumah sakit, aku menelpon Julio dan memberitahukan keadaan Rose.
Aku memasuki sebuah ruangan khusus, kini aku melihat sahabatku sedang terbaring di sana dengan banyak alat bantu di tubuhnya. Aku mendekatinya untuk memastikan kalau orang itu adalah sahabatku Rose. Dan ternyata memang benar dia adalah Rose, genangan air di mataku kembali mengucur dengan deras, “kenapa kau tidak memberitahuku Rose? Kenapa” kataku lirih. “hidupnya tak akan lama lagi” kata tante Rosa sedih. “tidak… Rose akan tetap hidup, dia harus tetap hidup” kataku dengan airmataku. Kembali terkenang kenangan kami berdua, saat kami tertawa, saat kami bertengkar, oh Rose ku mohon bertahanlah.
Tak lama kemudian Julio pun datang, aku langsung memeluknya. Dia memelukku dan mencoba menenangkanku. “tenanglah, Rose adalah orang yang kuat” kata Julio menenangkanku. “tante harus pulang dulu ya, tante harus mengambil baju ganti untuk rose” kata tante Rosa, “hmm tante, boleh aku saja? Tante temani Rose disini saja!” tawarku.
Aku dan Julio pun kerumah Rose untuk mengambil baju untuk Rose, aku masuk kedalam sedangkan Julio menunggu di luar. Aku masuk kedalam kamar Rose, aku mengarahkan pandanganku ke setiap sudut kamar Rose, sampai aku melihat sebuah pigura foto, bertuliskan “best friend’s forever” di situ ada fotoku dan juga Rose dengan gaya yang konyol. Aku tertawa kecil namu kali ini di ikuti dengan airmataku, aku mempunyai sahabat kaulah orangnya Rose. Aku memandangi foto Rose dia terlihat ceria tapi sekarng ia bagaikan mayat hidup.
Aku mengarahkan pandanganku menuju meja kecil di samping tempat tidur, di sana ada buku Biru dengan pita Pink. Aku mengambil buku itu dan membacanya dan membautku tahu satu hal, Rose menyukai Julio!!. ada satu kalimat yang membuatku kaget
Seharusnya aku tak punya perasaan seperti ini,
Dia itu temanku, tak akan mungkin aku mengkhinatinya
Namun aku juga tak mungin bisa mengkhianati hatiku sendir
Aku juga mencintai orang yang sama dengan Claudia
Aku juga mencintai Julio, sangat mencintai Julio
Bahkan mungkin melebihi Claudia.
Maafkan aku Claudia.
Hatiku terasa sesak, airmataku mengalir tiada henti. Kenapa kau tak memberitahuku Rose? Apa aku harus melepaskan Julio? Oh Tuhan bantu aku.
Aku segera menghapus airmataku dan segera mengemasi barang-barang untuk dibawa ke rumah sakit. Aku masuk mobil dan tak berkata apapun juga pada Julio. Sampai di rumah sakit, aku segera menyerahkan barang-barang itu pada tante Rosa dan duduk di samping ranjang Rose. “aku akn lakukan segalanya asal kau sembuh! Meski itu berarti aku akn merelakan Julio” kataku dalam hati. Julio meletakan tangannya di bahuku, tapi aku menepisnya, aku harus bisa menjauh darinya. Tak berapa lama, ada dokter yang datang dan memeriksa keadaan Rose, setelah itu ia mengajak tante Rosa ke ruangannya.
Setelah tante rosa keluar, tinggal aku, Julio dan Rose sekarang. Aku pun segera meninggalkan Julio dan Rose, “kau mau kemana?” Tanya Julio, “ke kamar kecil sebentar” kataku. Aku berjalan tanpa arah, aku hanya ingin Julio dan Rose bisa dekat walau aku tahu hati ini akan terluka dan sakit, tapi aku coba untuk tetap kuat. Tak sengaja aku melewati ruangan dokter yang tadi memeriksa Rose, aku pun bisa mendengar percakapan dokter dengan pastinya tante Rosa.
“sangat bagus, daya tahan anak ibu kembali kuat! Dia seakan punya semangat lagi bu, kalau begini terus keadaannya maka dia pasti masih punya harapan” kata dokter itu. Ya, tentu saja Rose senang karena kini ada Julio di sampingnya, orang yang sangat ia cintai.
Aku pun kembali ke ruangan Rose, tapi langkahku terhenti saat mendengar suara Julio, ku rasa ia sedang berbicara pada Rose, “kalau saja aku mengenalmu duluan, aku pasti bisa mencintaimu”. Deggg rasanya jantung ini berhenti berdetak, rasa sesak itu seperti bertambah dalam hatiku. Jadi Julio juga mencintai Rose, dan aku hanya akn menjadi benalu bagi mereka berdua?. Hati ini semakin sesak saja, walau menangis tetap saja hati ini terasa sesak. Aku pun berlari keluar dan pulang kerumah tanpa Julio, mungkin sudah saatnya mengahapus Julio dari hatiku.
Mungkin karena lelah, sampai akhirnya aku tertidur. Ketika bangun aku melihat ada 37 missed call dan 24 sms dari Julio yang semuanya menanyakan keadaan dan keberadaanku. Aku kembali menitikkan airmataku, haruskah aku melepaskanmu Julio? Aku mencintaimu namun kau dan Rose saling mencintai, jadi aku harus bagaimana?. Tiba-tiba hp-ku bergetar tanda telepon dari Julio, aku memandang hp-ku sebentar terlihat di layar nama ^JuLOV^. Aku ragu menangkatnya, tapi aku harus mengakhiri semua ini, demi sahabatku. “halo” jawabku “kau dimana?” Tanya Julio “aku di rumah”jawabku “kenapa tak bilang kalau kau pulang, aku khawatir” kata Julio. “Lio,”panggilku “ya” jawabnya lembut. “aku ingin bilang sesuatu” kataku “apa?”tanyanya “aku ingin kita putus karena aku ingin kau membahagiakan Rose” kataku “maksudmu?” tanyanya “aku tahu kau dan Rose saling mencintai, tadi aku mendengarnya sendiri kau bilang kau mencintai Rose” kata-kataku terhenti, tertelan oleh tangisan yang sejak tadi kutahan “apa maksudmu? Aku tak mengerti”kata Julio lagi “sudahlah aku tahu, aku tadi juga membaca diary Rose dan disitu Rose bilang dia mencintaimu, bahkan lebih dariku! Ku mohon bahagiakan Rose, karena kau rose jadi punya semangat hidup lagi, kumohon!” kataku. “tidak!! Kau salah paham, aku tak mencintai Rose, aku..” “ku mohon demi rose sahabatku” aku emoting ucapannya. “kau gila!! Aku tak mau!!” katanya kemudian mematikan teleponnya.
Besoknya di sekolah, Julio mulai dingin padaku, mungkin ia marah padaku. Baguslah itu akan membuatnya cepat melupakanku, walau aku tahu ini menyakitkan, tapi akan menyakitkan lagi jika aku hanya menjadi benalu bagi mereka. Akupun kerumah sakit dan menemui Rose. “hy Rose” sapaku pada Rose meski aku tahu kalau ia belum bisa membalas sapaanku. “cepatlah bangun, aku sudah tahu semuanya, kau tahu aku sudah putus dengan Julio karna akhirnya aku tahu kalau kau dan Julio saling mencintai, kau senang bukan. Aku akan lakukan semuanya demi kamu Rose” kataku di iringi tangisku. Aku tahu aku tak sanggup tapi aku coba untuk menguatkan hatiku demi sahabatku.
Sudah dua minggu ini, aku tak bertemu dengan Julio. Setiap hari aku hanya bersama Rose yang belum juga sadar. Aku pergi keluar sebentar membeli makanan untuk aku dan tante Rosa. “Claudia” panggil seseorang “Julio”, “Claudia” katanya sambil memelukku, jujur aku merindukannya tapi aku harus tetap pada komitmenku, aku melepaskan pelukannya, “kemana saja kau! Kenapa kau tak menemui Rose” kataku, “aku sudah bilang aku tak mencintai Rose!! Aku mencintaimu!” teriak Julio. “tapi,”, “tapi apa? Aku bilang kalau saja aku mengenalnya duluan aku pasti mencintainya, tapi seiring dengan jalannya waktu aku tahu kalau aku mencintai sahabatnya, yaitu kau!! Kau tidak bisa memaksakan cinta” kata Julio. “dia harus hadapi takdirnya, aku hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih, tolong jangan permainkan hatiku Claudia” sambungnya lagi, aku hanya menunduk menahan tangisku. Julio memelukku, kita hanya harus mendoakannya sekarang.
Kami pun menuju rumah sakit, Julio masuk ke ruangan Rose dia duduk di samping dan berbisik sesuatu di telinga Rose dan ajaibnya perlahan Rose membuka matanya. Aku berlari masuk begitu pun dengan tante Rosa. Rose memandangku sayu, dia tersenyum lemah. Aku memeluknya, “makasih ya kamu memang sahabat terbaikku” katanya lemah, aku hanya bisa menitikkan airmataku. “aku ingin kamu bahagia saat aku pergi nanti, jadi jangan berpikir kalau dengan merelakan Julio buatku, itu akan membuatku bahagia. Karena kebahagianku adalah ketika melihatmu bahagia bersama orang yang aku cintai” katanya seraya tersenyum. “darimana kau tahu?” tanyaku “tubuhku memang tidur, tapi jiwaku tidak” aku tersenyum. “boleh aku bicara berdua dengan mamaku?”
Satu jam kemudian tiba-tiba saja dokter masuk keruangan Rose, dan beberapa menit kemudian dokter dan tante rosa keluar dengan wajah tertunduk. Tante rosa memelukku, aku menangis sejadi-jadinya. Tuhan kenapa engkau hanya memberikan waktu sesingkat ini untuk sahabatku? Aku masih ingin tertawa bersamanya.
Kini aku berada di tempat peristirahatan terakhir sahabat terbaikku, aku memeluk Julio di sampingku. Amu menangis kembali jika mengingatnya, maafkan aku sahabatku. Tuhan tempatkanlah ia di tempatmu yang indah.
^END^
Komentar
Posting Komentar