Form Love to Love *Cerpen saya*

Jatuh cinta, semua orang normal pasti pernah jatuh cinta. Jatuh cinta memang indah, senang rasanya bisa belajar mencintai seseorang. Akan sangat malu saat berhadapan atau bertemu dengannya, akan sangat senang saat bisa melihatnya. Dan akan sangat bahagia saat berbicara dengannya. Setiap saat pasti akn teringat, wajahnya, senyumnya bahkan tingkah lakunya. Ahhh indahnya jatuh cinta.
Begitu pun yang aku alami sekarang, dia membuatku selalu membuat aku bahagia walau hanya melihatnya. Aku dapat merasakan cinta makin dalam saja setiap hari. Ingin rasanya ku ungkapkan padanya kalu aku mencintainya, tapi masih ditahan oleh akal sehatku yang sadar kalau aku adalah wanita. Yang kodratnya adalah menunggu.
Tapi cinta tidak selamanya membuat bahagia. Aku mengenalnya sejak awal ia pindah kesini, dia akrab denganku dan temanku. Aku ingat hari itu, ketika ia baru pindah. Ia bertanya padaku, dan sukses membuatku terpesona padanya. “hy” katanya seraya tersenyum, “eh, hey” balasku “apa kau tahu kelas Bahasa Jepang?” tanyanya ramah, “oh iya, ayo ikut aku, kau sekelas denganku” kataku sambil berjalan menuju kelas. Dia mengikutiku dari belakang, “namamu siapa?”tanyanya lagi, “aku Reni” jawabku “dan kau?” tanyaku balik. “aku Ray!” katanya seraya tersenyum, senyum yang sampai saat ini tetap menjadi pusat perhatianku.
Saat kami di kelas, aku mengenalkan Ray pada temanku Sisy. “Sy, kenalin deh, dia anak baru dikelas ini” kataku. Sisy yang sedang asik dengan ponselnya pun mengalihkan pandangannya ke arahku, dia tersenyum sebentar. “Aku Sisy” kata Sisy mengenalkan dirinya, “aku Ray” kata Ray.
Sejak saat itu kami bertiga cukup dekat, kadang-kadang kami bahkan jalan bersama. Ray orang yang menyenangkan, dia selalu membuat aku dan Sisy tetawa terpingkal-pingkal. Aku merasa, aku dan Ray sudah semakin dekat. Membuatku jatuh cinta padanya, aku sadar ini bodoh! Tapi perasaan ini tak akan bisa dibohongi.
Ketika aku berjalan dengan Ray, dia sering menggenggam tanganku. “hey, mau nonton film denganku” Tanya Ray saat istirahat, “ehm, boleh! Tapi kau jemput aku” jawabku. “baikalah kau mau ke jemput pakai apa? Delman? Becak? Atau Bemo?” candanya, “bagaimana kalau kau jemput aku pakai helicopter saja” jawabku meledeknya. “hahaha, sejak kapan kau jadi lucu begini?” tanyanya sambil mengancak-acak pelan poniku, yang sukses menbuatku tersipu malu.
Malamnya, aku sudah siap di depan cermin “tinggal tunggu pangerannya” kataku pada bayangan diriku dicermin. Tak lama kemudian Ray datang dan aku pun pamit pada orangtuaku. Kami nonton film horror, karena takut, kadang aku menyembunyikan wajahku pada lengan Ray. Tapi tak disangka, Ray malah memelukku. Aku terdiam lama, aku berharap waktu terhenti saat itu.
Selesai menonton, kami jalan-jalan di sekitar taman di seputar area bioskop itu. Ray membelikan aku Cappucino, kami duduk di bangku taman itu sambil melihat kearah danau. Cahaya bulan terpantul di permukaan danau itu, indah sekali. Kami tak banyak bicara, mebiarkan dinginnya malam dan bunyi jangkrik yang menemani kami mala mini. “aku ingin kau memiliki ini!” kata Ray sambil meyodorkan sebuah kalung berbentuk setengah hati. “ini? untukku?” tanyaku. “tentu, aku ingin kau memilikinya, sebagai tanda kau orang special di hatiku!” kata – kata Ray tadi seolah mnghipnotisku. Tiba-tiba Ray memelukku, aku membalas pelukannya. “oh Tuhan, betapa indahnya mala mini, terima kasih” ucapku dalam hati sambil tersenyum.
Besoknya aku dan Ray sudah tampak seperti teman biasa lagi. Aku takut untuk membahas soal kejadian semalam, aku tak mau terlalu berharap soal kejadian itu. Aku tak mengenakan kalug itu, aku ingin Ray memperjelas perkataannya semalam.
Seperti biasa, aku, Sisi dan Ray selalu bersama saat di sekolah. Tapi ada yang berbeda dengan Sisy hari ini, dia tampak tak baik, matanya sembab seperti habis menangis. Aku sudah mencoba mananyakan hal itu, tapi dia tak mau bicara, mingin dia butuh waktu sendiri.
Bel pulang sudah berbunyi, aku, Sisy dan Ray masih enggan pulang. Entah kenapa kami malas untuk pulang ke rumah, lebih baik kami di sini. Aku menanyakan soal apa yang terjadi pada Sisy, namun ia masih enggan bicara pada kami. Sudahlah, jangan di paksa! Aku pun pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas untuk besok, sekalian aku mengerjakan punya Ray dan Sisy juga.
1 jam sudah dan tugas kami sudah selesai, aku pun segera ke kelas. Tapi pemandangan yang ku lihat di dalam kelas, menahan langkah kakiku untuk masuk kedalam sana. Aku melihat Ray sedang memeluk Sisy, dan berkata “aku mencintaimu Sy” kata-kata ray membuat hatiku seperti tertancap sebuak belati. Oh Tuhan, aku seperti berhenti bernafas melahat dan mendengar semua ini. Baru kemarin aku merasa di cintai Ray, tapi sekarang perasaan itu hancur seketika. Aku berbalik arah, aku berjalan pelan tanpa arah. Mataku sudah mengeluatkan airmatanya, seakan tahu betapa sakitnya hatiku saat melihat mereka. Aku dudk lemas di tangga sambil berdoa, agar Tuhan menguatkan hatiku ini. ada penyesalan besar dalam hatiku, kenapa aku membuka hati, untuk orang yang tak punya hati untukku?.
Aku menghapus semua airmataku, aku pergi ke toilet dan mencuci mukaku kemudian kembali ke kelas. Saat tiba di kelas, keduanya sedang asik ngobrol. Bahkan ku lihat Sisy sudah tersenyum sekarang, “itu bagus” ucapku dalam hati, agar bisa menguatkan hatiku. “kau lama sekali!” kata Ray, aku hanya tersenyum. “aku ingin pulang, aku lelah” kataku. Aku lelah melihat semua ini! “sudahlah Ren, ikhlaskan ini semua, biarkan dia bahagia! Jangan egois untuk sahabatmu sendiri” kata perasaanku.
Seperti biasa, kami bertiga pulang bersama. Mereka banyak bicara, sedangkan aku hanya diam membisu! Aku sedang mencoba mengendalikan hatiku sendiri. Saat sampai di rumah, aku berlari kekamar, membenamkan wajahku di bantalku. Hatiku penuh sesak, ingin rasanya aku berteriak keras. Airmataku kembali membasahi pipiku, seolah menjelaskan bahwa saat ini, aku sedang sakit, aku terus menangis sampai tertidur, aku lelah, aku ingin istirahat.
Besoknya saat di sekolah, aku melihat Ray menggenggam tangan sisy. Ingin rasanya aku menangis lagi, tapi semalam sudah ku putuskan. Aku akan merelakan Ray untuk Sisy, aku ingin mereka berdua bahagia!. Aku masuk kelas, dan duduk di samping Sisy. Tapi sekarang tagan Ray tak lagi menggenggam jemari Sisy. “selamat pagi” sapa mereka berdua kompak, “pagi juga” balasku seraya tersenyum.
Namun Sisy tak menyelesaikan pelajaran, badannya perlahan lemas dan panas. Akhirnya di putuskan Sisy untuk pulang. Ketika Sisy pulang, Ray pindah duduk di sebelahku “oh Ray, ku mohon jangan dekat-dekat denganku, kau sudah punya Sisy” ucapku dalam hati.
“kau kenapa?” Tanya Ray “aku tak apa” kataku. “sebentar kau mau jalan denganku?” tawar Ray, tapi sayangnya aku sudah memutuskan tidak! Aku tak akan mendekati Ray lagi, aku menggeleng. “kenapa?” tanyanya lagi “apa kau marah padaku?” lanjutnya. Aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepalaku. “maafkan aku Ray, aku ingin! Tapi aku tak bisa!”
Begitu pun seterusnya, aku selalu meolak jika harus dekat-dekat dengan Ray. Aku tak ingin di sebut teman makan teman. Aku menyayangi Sisy dan juga Ray. Aku tak ingin menjadi perusak dari hubungan mereka.
Hari itu, pengumuman kelulusan kami. Kami semua menunggu dengan wajah cemas, takut pada hasil kami sendiri. Aku kembali melihat kemesraan Sisy dan Ray. Ray tampak mengenggam jemari Sisy, mencoba untuk menenagkan Sisy yang daritadi terlihat gugup. Aku hanya bisa tersenyum getir melihat itu semua, rasa sakit itu memang ada, namun aku menguatkan diriku sendiri! Aku tak boleh menangis lagi!. Aku menghapus airmata yang akan keluar dari pelupuk mataku.
Saat kami sedang berusaha menenangkan diri kami, Sisy di panggil oleh salah seorang guru, dia memang salah satu siswa sibuk. Tinggal aku dan Ray, kami diam membisu, aku tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana karena aku dan Ray sudah tak sedekat dulu. “hey, aku ingin bicara denganmu” kata Ray “bicara apa? “tanyaku. “aku ingin tahu kenapa kau menjauhiku?” Tanya Ray, “aku tak menjauhimu, buktinya aku ada di sini! Bersamamu!” kataku mengelak. “sekarang kau bahkan tak mau ku ajak jalan bahkan kekanti pun kau tak mau bersamaku! Ada apa denganmu?” Tanya Ray lagi. “kenapa? Karena aku harus menjauhimu! Aku harus membuang semua perasaanku padamu, agar aku tak meyakiti perasaan temanku” kataku dalam hati, tapi airmataku malah jatuh seolah tak bisa menahan segala gemuruh dihati. “kenapa kau menangis?” kata Ray, dia merangkul tubuhku dan di peluknya. Aku hanya bisa menangis, hatiku ini sudah lelah. “hey, ku mohon berhentilah menangis! Aku tak mau orang yang ku cintai menangis!” kata Ray. “orang yang kau cintai?” tanyaku intuk memastikan apa yang ku dengar. “ya aku mencintaimu Ren” kata Ray sambil menatap mataku, aku menatap matanya mencoba mencari dusta diantara matanya tapi tak ku temukan. “lalu, bagaimana dengan Sisy?” tanyaku, “aku tak tahu dengan perasaanku sendiri. Kurasa aku mencintai kau dan juga Sisy! Yang jelas perasaan ini bukanlah persaan sahabat, ini perasaan cinta” kata Ray “ke… kenapa? Kenapa baru sekarang?” kataku terisak pilu. “karena aku tak mau, aku pergi tanpa memberitahu perasaanku padamu!” kata Ray dengan wajah menunduk. “kau.. pergi? Kemana?” kataku seakan tak rela jika ia harus meninggalkan aku sendiri di sini, “aku akan ikut ayahku ke London! Dan aku akan pergi besok!” katanya. “besok?” tanyaku tak percaya, “dan kau tak beritahu Sisy?” tanyaku lagi. “dia sudah tahu kemarin” katanya lemah.
“Terima kasih, telah memberikan warna bagi hidupku” kata terakhir dari Ray yang masih ku ingat. Dia merangkulku dan mencium keningku begitu pun pada Sisy. Dia pergi meninggslkan kami, diantara di lema cinta yang belum terselesaikan.

Komentar