Facebook oh Facebook

Awal gue pake facebook itu pas gue SMP kelas 2 tahun 2008. Itu awal-awal gue kenal internet dan nemu satu social media bernama facebook. (gue mengenal facebook lebih dulu sebelum Friendster, tapi dulu juga sempet pake Friendster yang kalau pas profil gue di klik ada lagunya ungu wkwkwk).
Gue juga sempet berhenti main facebook selama kurang lebih 1 sampai 1,5 tahun dari tahun 2014. Alasannya, satu facebook udah mulai ditinggalkan dan semua beralih ke twitter, dua karena handphone gue rusak wkwkwk, tiga karena menurut gue, facebook udah mulai gak nyaman lagi. Udah mulai masuk para kaum “orang tua-yang-pengen-eksis-juga” di facebook. Mereka yang tiap hari kerjaannya share berita-berita gak penting (sampai sekarang juga ada), dan suka komen ke postingan “komen amin maka kamu akan masuk surga” atau “komen 1 dan lihat apa yang akan terjadi” tanpa tahu kalau mereka sudah menghabiskan kuota mereka secara sia-sia.
Setelah sempat vakum, gue balik lagi di dunia facebook karena saat itu ada satu kelas gue dikampus yang bikin grup kelas di facebook. So karena gak mau ketinggalan info, gue join lagi di facebook sampai sekarang.
Sekarang, gue gunain facebook buat keep in touch with my family or friends. Dan satu hal yang menurut gue jadi lebih parah adalah, semakin banyak “orang tua-yang-pengen-eksis-juga” di facebook. Dan mereka semakin menggila. Mulai dari upload foto dengan angle dari bawah sampai update-an status yang bikin kesel campur geli bacanya. Cara bertahan gue adalah dengan maklumin aja, wkwk.
Sebenarnya bukan Cuma orang tua aja sih. Berkat jaman yang makin maju, internet sekarang sudah bisa dinikmati oleh hamper semua orang di Indonesia termasuk mereka yang ada di daerah-daerah pinggiran kota. Maka jadilah, makin banyak orang yang terobsesi sama like. Gue ngebayangin aja kalau dulu ibu-ibu iri-irian kalau liat sesamanya punya perhiasan atau pernak-pernik baru di rumah sekarang mereka iri-irian sama jumlah likes atau reactions di facebook mereka, trus mereka bakalan ngomong ke geng mereka, “dih sombong banget dia, mentang-mentang kemarin statusnya di like 6 orang”*pasang muka sebel*. Geli kan? Hahaha.
Belum lagi fitur live facebook, bikin semuanya berasa artis pengen live. Trus ibu A ngancem ibu-ibu lainnya, “awas ya bu kalau gak nonton live fb saya, saya sleding kepalanya *ekh saya gak bakalan bagi Tupperware lagi!!”.
Dan juga masih juga ada yang suka share dan komen di postingan-postingan gak jelas kayak “komen amin dan anda akan masuk surge” atau “komen satu dan lihat apa yang akan terjadi”.
Menurut gue, masalah kayak gini tuh harus ada sosialisasinya. Harus ada tuh sosialisasi bagaimana menggunakan social media yang benar dan bagaimana cara memanfaatkannya. Biar Indonesia nggak ketinggalan lagi. Last, apapun social medianya, itu Cuma sarana, orang yang menggunakannya yang menentukan.


Komentar