Love Between Distance
Hari itu, seminggu
setelah pengumuman kelulusan. Dian dan Gio sedang berada disalah satu kafe
favorit mereka. Dian sedang sibuk dengan minumannya dan Gio sedang sibuk dengan
laptopnya, matanya sibuk memandangi layar laptopnya.
“kamu lagi ngapain?” Dian
akhirnya bertanya karena merasa dicuekin sama Gio. Gio hanya menatap Dian
sebentar lalu tersenyum dan kemudian memandangi lagi layar laptopnya.
“aku lagi liat-liat
kampus-kampus yang mau aku masukin” Gio menjawab santai
“kamu kan bisa datang
langsung ke kampusnya” kata Dian lagi, Gio kembali menatap Dian dan mendesah
kecil.
“aku mau kuliah di luar
kota” kata Gio yang sukses bikin Dian tersedak minumannya sendiri. Gio langsung
bangkit dari duduknya.
“kamu nggak apa-apa?”
kata Gio khawatir sambil menepuk-nepuk pelan belakang Dian. Dian menggeleng
pelan berusaha meyakinkan Gio kalau ia baik-baik saja.
“kemana?” Dian bertanya
pelan setelah ia kembali bernafas normal.
“ke Jogja, aku mau
ngambil dokter disana” Gio menjawab juga dengan nada yang pelan.
Kepala Dian tertunduk,
ia merasakan matanya mulai panas namun ia tahan. Ia tahu ini adalah impian Gio
selama ini, ia tak mau Gio kecewa, harusnya ia mendukung keputusan Gio. Tapi,
apa ini artinya ia harus berpisah dengan Gio? Tak akan melihat wajah Gio dalam
waktu yang lama?.
“bi.. bisa nggak kita
tetap nge-lanjutin hubungan ini? Aku sayang banget sama kamu” Gio berkata pelan
sambil menggenggam lembut tangan Dian. Dian memandang sebentar ke arah Gio, dia
bahkan masih sulit mempercayai ia akan berpisah jarak dengan Gio.
“aku takut, yo..” Dian
berkata pelan, nafasnya tercekat, ia ingin menangis. Gio menatap Dian sebentar,
Gio kemudian pindah kesebelah Dian. Ia membawa Dian kedalam pelukannya,
meletakkan kepala Dian ke dadanya.
“kita masih bisa LDR,
asal komunikasi kita lancar, dan kita saling percaya pasti kita bisa. Please..
aku benar-benar nggak mau putus sama kamu” Gio meletakkan dagunya dikepala Dian
sambil membelai rambut Dian. Dian hanya bisa diam dalam tangisnya yang pelan,
dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dan langit pun tahu bahwa ada
yang bersedih saat itu.
“aku mau kamu yakin
sama aku, sama kayak aku yakin sama kamu” kata Gio sambil memeluk erat Dian.
“aku pergi minggu
depan” sambung Gio lagi. Dian hanya bisa membisu.
**
“jadi loe nggak
nganterin Gio? Aduh gue nggak ngerti deh ama loe” Jenny merebahkan dirinya ke
kasur empuk Dian, dia nggak habis pikir kok bisa-bisanya si Dian nggak ikut
nganterin Gio ke bandara.
“loe berdua udah
putus?” Jenny bertanya lagi, Dian menggeleng pelan.
“gue takut, gue nggak
kuat” Dian menunduk sedih, Jenny melihat sahabatnya iba. Dia memeluk Dian,
mencoba untuk menenangkan sahabatnya karena benar saja, airmata Dian sudah
perlahan menetes.
Tiba-tiba ponsel Dian
bergetar, Jenny mengambilnya dan melihat ada pesan masuk dari Gio.
“nih, ada sms dari Gio”
Jenny menyerahkan ponsel itu ke Dian, Dian hanya diam saja. Jenny mendesah
sebentar, ia meletakan ponsel itu disebelah Dian dan mengambil tasnya.
“gue pulang dulu,
telepon gue kalau loe perlu teman curhat, oke? Bye” Jenny melangkah keluar
kamar Dian. Dian menenggelamkan kepalanya diantara kakinya yang ditekuk. Ia
mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Gio.
‘untung aja kamu nggak dateng pas dibandara, kalau nggak aku pasti akan
langsung lompat turun pesawat karena nggak rela ninggalin kamu, hehehe. Btw,
udah jangan nangis terus, kamu jelek kalau nangis tahu :p. Aku Cuma mau ngasih
tahu kamu, aku udah nyampe Jogja. Aku sayang kamu’
Dian tersenyum namun
airmatanya tetap turun, ‘harusnya aku kebandara karena aku pengen cegah kamu
pergi’ batin Dian. Dia mengahapus airmatanya dan kemudian jemarinya beradu
dengan layar ponselnya
‘kalau ada aku, pasti udah aku cegat pesawatnya,
hihihi :p. Jangan lupa makan, berdoa ama belajarnya, aku juga saayyyyaaannnggg
banget ama kamu’
Dian tersenyum setelah
dia selesai mengirimkan pesan balasan untuk Gio. Dia tak akan pernah tahu kalau
tak mencoba, dia akan mencoba bersama Gio dengan keadaan seperti ini. ‘Tuhan,
mampukan kami untuk menjalani hubungan seperti ini’ doa Dian dalam hatinya.
3 bulan kemudian
Status pelajarnya Dian
kini sudah berubah menjadi Mahasiswi. Kini ia telah memiliki kartu mahasiswa,
ia kuliah dijurusan sastra. Hubungannya dengan Gio juga berjalan lumayan baik,
dia masih berkomunikasi hampir setiap hari, jika Gio tak sibuk dengan tugasnya
begitupun Dian.
“Diannn... makan yuk!”
Jenny berteriak didepan kelas Dian, dia memang se-kampus dengan Jenny. Namun,
Jenny mengambil jurusan hukum. Dian mengangguk sebentar kemudian merapikan
tasnya lalu pergi makan bersama Jenny, kuliah membuatnya lapar.
“gimana kabarnya Gio?”
Jenny bertanya sambil memasukkan kecap ke baksonya. Dian menopang dagunya
sebentar, entahlah sudah 3 hari ini ia tak saling mengabari dengan Gio. Entah
apa yang sedang dilakukan Gio sekarang, dia tak tahu. Ponsel Gio tidak aktif
semenjak 2 hari yang lalu.
“gue juga belom tahu,
Jen” jawab Dian sambil tersenyum tipis.
‘sabar ya, Yan...”
Jenny kini sedang menyantap baksonya. Dian hanya bisa terdiam, dia memang harus
banyak bersabar.
**
“jadi, kita harus
membahas satu karya sastra dan dibuat dalam bentuk presentasi, ya?” Frank sang
ketua kelompok bertanya pada anggota kelompoknya, termasuk Dian. Dian dan
kelompoknya kini tengah membahas tentang tugas akhir semester mereka. Kuliah
benar-benar menyita semua waktunya, dia bahkan sudah hampir 2 minggu ini tak
pernah untuk sekedar melepas rindu dengan Gio, begitupun dengan Gio yang bahkan
sudah tak pernah memberi kabar padanya. Itu kadang menyakitkan hatinya ketika
ia memikirkannya sendirian, tapi saat ia sedang dalam aktivitasnya, semua itu
pergi entah kemana.
“jadi Dian sama Nina
yang akan ngerjain bab 6-8, oke?” Frank bertanya lagi untuk memastikan, Dian
mengangkat jempolnya sebagai jawaban.
“jadi besok kita
ngerjainnya dirumah kamu aja gimana?” tanya Nina
“boleh kok, ide bagus”
jawab Dian, dia memang butuh seseorang untuk mengusir kesepiannya dirumah.
Besoknya, Nina datang
kerumah Dian. Mereka membahas tugas mereka yang ternyata lebih cepat selesai
dikerjakan deibanding dengan perkiraan mereka. Nina melangkah menuju kasur Dian
dan merebahkan tubuhnya dikasur dengan bedcover teddy bear itu.
“harusnya, masuk MURI
nih untuk kategori tugas sastra dengan pengerjaan tercepat” canda Nina yang
disambut tawa Dian. Nina membuka matanya dan melihat sekeliling, matanya menangkap
sebuah pigura foto di atas meja sebelah kasur Dian. Foto Dian bersama seorang
cowok yang tengah tersenyum senang.
“ekh, ini ya orang yang
udah bikin Dian nolak Kevin” kata Nina yang kemudian menatap Dian dengan
tatapan menggoda, Dian hanya tersenyum.
“tapi, dia dimana? Kok
kalian nggak pernah keliatan berduaan?” tanya Nina
“dia kuliah diluar
kota” jawab Dian singkat, dia sedang malas membicarakan Gio.
“terus dia...”
“udah jangan tanya dia
terus” Dian memotong perkataan Nina. Nina diam sebentar.
“kalian LDR ya?” tanya
Nina lagi dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Dian.
“aku juga pernah
LDR-an, tapi Cuma tahan 3 bulan” sambung Nina
“kenapa?” tanya Dian
“ya, aku nggak tahan
aja sam hubungan yang bisa dipastikan nggak jelas. Hubungan yang bergantung
sama komunikasi, cinta juga bukan hanya karena komunikasi kan?” jelas Nina,
membuat Dian diam sejenak.
“LDR itu bikin orang
yang pacaran kayak nggak pacaran. Tiap hari, kamu harus berpikir, apa pacar
kamu juga lagi mikirin kamu, atau mungkin nggak dia juga kangen ama kamu.
Statuskita emang pacaran tapi secara logika kita selalu sendirian kayak orang
jomblo, ya mendingan jomblo sekalian” jelas Nina, kemudian dia tersenyum tipis
sementara Dian hanya bisa diam memikirkan perkataan Nina.
“ekh gue pulang dulu
ya, gue pengen istirahat mumpung ada waktunya” kata Nina, Dian hanya menjawab
dengan senyuman.
Sepulangnya Nina, Dian
terus saja menghubungi nomor Gio tapi nihil! Nomor Gio sama sekali nggak aktif.
‘ini udah hampir 3 hari nomor Gio nggak aktif, kenapa ya?’ batin Dian hanya
bisa bertanya.
Dian terdiam memandangi
pigura fotonya dan Gio di taman hiburan tahun lalu, mereka tersenyum tanpa
beban tanpa ada rasa takut akan terpisahkan. Dian mengambil pigura foto itu dan
kemudian meletakkannya di dadanya, perlahan airmatanya jatuh,
“aku kangen banget sama
kamu” gumam Dian dalam tangisnya. Ia melihat pigura foto itu dan mengusap pelan
foto Gio, seakan dia sedang membelai wajah Gio.
“kamu lagi ngapain?
Kenapa nggak ngabarin aku? Kamu nggak kangen ama aku?” Dian berbicara dengan
foto Gio, airmatanya jatuh lagi kali ini karena rindu yang bahkan terlalu lama
dipendamnya.
“ini ya rasanya kita
punya pacar tapi berasa nggak punya pacar?” Dian berkata pelan di sela-sela
tangisnya.
**
“Diaann....” teriakan
Jenny membuat Dian berbalik arah, matanya masih terlihat sembab gara-gara
menangis semalam.
“Dian, Gio udah
ngabarin loe?” Jenny bertanya dengan nafas tersengah-sengah karena ia berlari
saat menghampiri Dian. Dian menggeleng pelan
“udah 3 minggu ini gue
udah jarang komunikasi sama Gio” Dian berkata sedih, Jenny juga memandang sedih
ke sahabatnya itu.
“itu karena, Gio
kecelakaan!” kata Jenny, yang sukses bikin Dian kaget setengah mati
“jangan ngomong
sembarangan, Jen. Tahu dari mana loe?” Dian bertanya dengan nada panik
“dari sepupunya yang
tetangga gue! Katanya dia kecelakaan pas ikut praktek deh! Sekarang sih udah
baikkan katanya!” jelas Jenny tapi tetap saja masih membuat Dian khawatir, dia
hanya memandang kosong, pikirannya melayang memikirkan Gio. Bagaimana keadaannya,
gimana ceritanya dia bisa kecelakaan waktu praktek? Akh begitu banyak yang
ingin dia tanyakan pada Gio, ingin segera dia berangkat ke Jogja untuk menemui
Gio. Akh.. situasi ini membuatnya frustasi.
Berulang kali Dian
mencoba menghubungi nomor Gio namun tak pernah aktif, apa Gio tak tahu
bagaimana ia begitu khawatir sekarang. Kalau dia udah baikkan, kenapa dia nggak
menghubungi Dian?. Dian terduduk dipinggir kasurnya, airmatanya kembali jatuh
karena khawatir dengan Gio. Kenapa? Kenapa selama 3 minggu ini dia tak tahu
apa-apa? Kenapa Gio tega tak memberitahunya?. Ya Tuhan, dia benar-benar tak
bisa berpikir jernih sekarang. Apa Gio sudah tak menanggapnya lagi? Apa Gio
juga sudah jenuh dengan hubungan seperti ini? LDR?.
3 minggu kemudian...
Hari ini, hari terakhir
masuk kampus karena mulai besok sudah mulai libur. Dian berlari menuju papan
pengumuman, dia ingin melihat beberapa pengumuman. Dian mengenakan jeans dengan
kemeja denim, dia setengah berlari menuju papan pengumuman.
Dia berhenti untuk
melihat beberapa pengumuman dan melihat juga nilainya. Tiba-tiba, ponselnya
bergetar, Dian merogoh ponsel dari dalam tasnya dan terkejut melihat nama Gio
muncul dilayar ponselnya. Ini sudah lebih dari sebulan, dan Gio meneleponnya.
Dian diam sejenak berusaha mempertahankan gengsinya, dia ingin Gio tahu
bagaimana rasanya terabaikan. Tapi, rindunya mengalahkan egonya, dia menslide
tombol hijau di ponselnya.
“ha.. hallo...” Dian
berkata gugup
“lama nggak dengar
suara kamu” suara bariton Gio muncul lagi ditelinganya.
“kamu nggak apa-apa
kan? Kenapa nggak pernah ngabarin aku? Kenapa baru sekarang?” tanya Dian tapi
kini ia sudah menangis, ia senang dan sedih pada saat bersamaan.
“kenapa? Kamu udah
punya cowok baru?” tanya Gio
“kamu pikir aku akan
cari cowok lain? Aku nunggu kamu! Karena... karena aku sayang sama kamu!” Dian
berusaha berbicara walaupun dia masih sesegukan karena menangis.
“selamat untuk IP
3.85-nya, maaf udah bikin kamu khawatir” kata Gio. Dian diam sejenak, bagaimana
bisa Gio tahu tentang nilainya? Apa mungkin Gio disini?. Dian menangkat
kepalanya yang sedari tadi tertunduk, ia sibuk mencari dimana Gio, ya Gio pasti
ada disini!. Matanya menangkap sosok dengan denim coklat dan kaos polo putih
dengan jambul aneh tengah menatapnya dengan ponsel ditelinganya. Ia menurunkan
ponselnya dan tersenyum ke arah Dian. Dian segera berlari menghampiri sosok
itu, sosok yang sangat di rindukannya selama 6 bulan ini. Dian segera memeluk
Gio begitu ia berdiri didepan pria itu, Gio membalas pelukkannya, dan kemudian
melepasnya. Ia menghapus sebentar airmata di pipi gadisnya.
“maaf, udah bikin kamu
khawatir, aku janji aku akan berusaha nggak bikin kamu khawatir lagi!” kata Gio
sambil tersenyum
“kamu kenapa bisa
kecelakaan? Aku khawatir banget” tanya Dian
“aku terlalu semangat
untuk praktek karena pengen cepat-cepat pulang nemuin kamu, tapi aku malah
bikin kesalahan dan terpaksa ngulang paling akhir.” Gio berkata sambil
tersenyum
“bodoh!” ejek Dian, Gio
hanya tersenyum. Dian sama sekali nggak berubah, dia tetap lucu. Gio menarik
tubuh Dian dan memeluknya.
“aku kangen sama kamu,
kangen banget!” Gio berkata pelan
“aku juga kangen banget
sama kamu!”
“ke kafe yuk, aku juga
udah kangen ama tempat itu!” ajak Gio
“hmm! Trus kita juga
foto-foto yang banyak biar bisa bikin banyak kenangan” usul Dian yang disetujui
dengan anggukan oleh Gio.
Gio menggenggam tangan
Dian lembut.
“kita akan berpisah
seperti ini untuk waktu yang lama” kata Gio
“hmm” gumam Dian
menandakan ia setuju dengan kata-kata Gio
“aku Cuma mau kita
bersabar, dan saling percaya”
“hmm” balas Dian
“aku pernah baca,
jangan pikirkan perbedaannya tapi pikirkan persamaannya” kata Gio
“maksud kamu?” tanya
Dian tak mengerti
“ya, pikirkan aja apa
yang sama tentang kita dengan situasi saat ini” kata Gio lagi
“misalnya?”
“misalnya, kita
sama-sama ada di negara yang sama, waktu yang sama, masih ditanah yang sama dan
hal-hal kayak gitu” jelas Gio
“hmm... kita juga punya
langit yang sama, bulan yang sama” kata Dian
“ya kayak gitu..” kata
Gio sambil tetap menggenggam tangan Dian.
LDR hanya masalah
jarak, bukan masalah perasaan yang akan berubah, jika kita punya komitmen dan
tahu memanfaatkan kesempatan ya pasti kuat-kuat aja. Yakin aja kalau kalian
punya satu hal yang lebih dari pasangan lainnya, kepercayaan.

Komentar
Posting Komentar