Closer
“jangan
dipaksakan!” Gio berkali-kali harus berdiri dari kursinya untuk menahan tubuhku
agar tak sampai jatuh. Ya, aku memang sedang sakit gara-gara jatuh dari sepeda
bersama sepupuku, Kevin dan kakiku sedikit terkilir. Tapi tentu saja aku tak
bisa tak kesekolah karena hari ini adalah ujian tengah semester, maka dibantu
Gio aku tetap kesekolah.
“gak
apa-apa, aku bisa kok!” ucapku pada Gio, aku tak mau merepotkannya terlalu
banyak, ia sudah kesulitan saat membantuku kesekolah tadi.
“kamu
tuh, susah banget dibilangin!” dia melepaskan tangannya yang sedang membantu
menahan beban tubuhku, membuat aku kehilangan keseimbangan. Untunglah tanganku
refleks memegan meja disampingku sehingga dapat membantuku menahan beban
tubuhku.
“tuh
kan, apa aku bilang!” Gio kembali memegang tanganku dan membantuku untuk duduk
dikursi. Dia mengambil sesuatu dari tas-nya dan memberikannya padaku.
“apa
ini?” aku bertanya bingung melihat sebuah tas kecil yang diberikan Gio.
“bekal,
tadi malam aku bilang ke mama soal kamu dan mama bikin ini buat kamu. Jadi kamu
gak perlu repot-repot ke kantin lagi.” Jelas Gio sambil menaruh bekal itu di
mejaku.
“makasih”
aku tersenyum “mama kamu ampe repot kayak gini”
Gio
tersenyum sebentar “bentar aku beli minum dulu” katanya sambil berlalu keluar
kelas. Sebenarnya aku agak tak enak jika harus merepotkan Gio dan keluarganya,
dari awal aku pacaran dengannya ia dan keluarganya memang selalu perhatian
padaku, bahkan kadang berlebihan. Aku ingat saat dengan tiba-tiba Gio membawaku
pada keluarganya padahal kami baru jadian sebulan, aku pikir aku akan mati saat
itu tapi ternyata tidak! Mereka menerimaku dengan senyum lebar dan berbicara
dengan nada ramah padaku.
“ini
minumnya!” lamunanku terpecah saat Gio sudah berada didepanku, ia menarik kursi
dan duduk berhadapan denganku.
“kamu
mau ngapain?” tanyaku heran
“makan”
jawabnya dengan ekspresi bingung tapi wajahnya malah terlihat menggemaskan
“mana
bekal kamu?” tanyaku lagi
“ini!”
ia menunjuk ke arah bekal yang tadi
“kan
ini cuma satu,”
“karena
itulah mari kita makan berdua, biar romantis” kata Gio sambil tesenyum, ia
gila!
“kamu
beli makan dikantin aja” ujarku saat melihat isi kotak bekalnya adalah nugget
kesukaanku, dan juga kesukaan Gio.
“gak
akh, udah makan aja” Gio berkata sambil mengambil sendok dan siap menyendok
nuggetnya, aku memukul tangannya. Aku tak ingin berbagi dengannya.
*
Dari
pulang sekolah aku hanya duduk dibalkon kamarku, memandang pemandangan yang
hanya dipenuhi oleh gedung-gedung. Akh, ini sangat membosankan!
“non,
temen-temennya udah dateng, mau disuruh tunggu dibawah atau mau dibawa kesini
aja?” suara bibi mengejutkanku.
“suruh
kesini aja bi, jangan lupa dibikinin minum ya”
“iya
non” jawabnya sambil menundukkan kepala dan berjalan keluar.
Tak
lama kemudian terdengar suara-suara bising yang berasal dari sahabat-sahabat
bodohku.
“akh..
gimana keadaan kamu cha?” Livie bertanya sambil berlari dang memelukku, dia
memang selalu panik.
“masih
sakit sih, tapi udah mendingan kok” jawabku sambil tersenyum
“tapi
ada untungnya juga ya kamu sakit” kali ini Nina yang berkata tapi dengan senyum
ledekan diwajahnya
“sakit
mana ada yang untung?” kataku heran
“iya,
untungnya jadi bisa mesra-mesraan ama pacar, cie cie” ledek Nina dan segera ‘cie-cie’an
menggema dikamarku, membuat pipiku panas karena malu.
“iya,
kemana-mana gandengan sekarang” tambah Vani dan disambut dengan tawa ledek oleh
mereka semua.
“kalian
kemari Cuma buat godain gue?” kataku berpura-pura kesal, sebenarnya karena aku
malu diledek terus.
“gak..
gak... kita kesini murni Cuma pengen jenguk dan bikin loe gak bete sendirian”
Nina menengahi
“hmm,
kami kan teman yang super baik, stock terakhir deh dunia ini” si lebay Indah
menimpali omongan Nina.
“bahasa
loe... “ kataku dan disambut tawa oleh semuanya. Mereka memang selalu bisa
membuat segala suasana jadi menyenangkan dengan apa adanya mereka.
***
“kok
telepon aku gak di angkat-angkat, kamu lagi ngapain sih?” suara Gio terdengar
tidak senang di sana. Mungkin ia marah karena aku tak mengangkat teleponnya
dari tadi, aku baru tahu tadi saat mengecek hapeku dan mendapati ada sekitar 30
missed call dari Gio.
“sorry
ya, hapenya tadi ke-silent jadi gak bisa denger” aku coba menjelaskan.
“emang
selama 8 jam setelah pulang sekolah kamu ngapain aja sampe gak punya waktu buat
nge-chek hape kamu?” suara Gio jadi menyeramkan ketika ia marah
“aku
lagi ngumpul sama temen-temen aku tadi, jadi...”
“jadi
kamu lebih milih teman-teman kamu dibanding aku?” kata Gio memotong ucapanku
“bukan
gitu..” aku mencoba menjelaskan tapi kemudian sudah terdengar bunyi
‘tut..tut..tut..’ dari seberang, akh aku sedang malas berdebat, jadi kuputuskan
untuk tak menghubunginya lagi. Dia terlalu perhatian, bahkan sudah seperti
overprotective menurut Nina. Aku memandang layar hapeku, fotonya dan fotoku
waktu kami memakai baju couple terpampang disana. Ia tersenyum sangat manis di
foto itu, aku berharap ia juga akan bersikap manis padaku setiap saat.
“kok
kamu sendirian aja? Gio mana?” tanya Vina sambil membantuku jalan
“kami
lagi berantem!” jawabku santai
“haa
kok bisa? Kenapa?” tanya Vina kaget
“ya
biasalah, gue gak tahu kalo dia telepon dan dia marah-marah soal itu” jelasku.
“loe
udah minta maaf?”
“ya
udahlah, tapi dicuekin” ujarku pasrah.
“loe
kurang tulus kali minta maafnya” ujar Vina sambil membantuku duduk dikursi
“ini
bukan yang pertama kalinya kan?” ujarku santai, “btw, thanks udah bantuin gue!”
kataku sambil tersenyum.
“oke”
kata Vina sambil mengangkat jempolnya dan mengedipkan matanya padaku.
“loe
sama sekali gak ada imut-imutnya, hahaha” ledekku. Tiba-tiba tawaku terhenti
saat melihat Gio masuk ke kelas, ia sama sekali tak menengok ke arahku. Ia
berjalan lurus ke bangkunya dan duduk disitu tanpa mengalihkan pandangannya
padaku sedikitpun. Vina hanya menatap Gio dan aku secara bergantian dan
kemudian mengangkat bahunya, aku hanya tersenyum kearahnya dan melihat sekali
lagi ke arah Gio tapi nihil, Gio tak melihat kearahku, ia benar-benar marah.
***
“loe
sama Gio lagi berantem ya?” tanya Nina, aku hanya diam.
“loe
tahu gak, se-sekolahan semuanya pada ngomongin kalian!” Livie menambahkan
“iya,
dan gue gak suka banget sama senyum kemenangan adek-adek kelas yang suka sirik
itu!” Nina berkata sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Aku hanya bisa
tersenyum lemah.
“loe
udah coba minta maaf lagi?” tanya Nina, aku hanya menangguk lemah. Aku sudah
coba untuk meneleponnya, sms, bbm, dm, dan lainnya sudah kucoba tapi hasilnya
nihil, Gio sama sekai tak menanggapi satupun.
“gawat!
Gawat!” Wanda si ketua kelas masuk kekelas dengan nafas yang sudah mau habis
karena berlari, ia berjalan kearahku.
“gawat!”
ia berkata pelan-pelan karena ia masih menyesuaikan nafasnya
“kenapa?”
tanya Vina, Wanda menarik nafasnya panjang.
“cowok
loe, si Gio lagi berantem sama anak IPS!” jelas Wanda membuatku kaget, ‘kenapa
Gio berantem sama anak IPS, apa alasannya?’ batinku bertanya.
“ayo!”
aku mencoba berjalan meski kakiku masih sakit.
“kayaknya
loe gak perlu kesana, mereka berantem karena cewek lain!” sambung Wanda
membuatku menghentikan kakiku dan berbalik kearahnya
“cewek
lain?” tanyaku memastikan aku tak salah dengar, entah kenapa hatiku jadi lain,
sakit!.
“iya,
mereka berantem karena Gio tadi gandengan ama tuh cewek, si Lia anak kelas 2
IPS! Nah si cowok Lia itu yang sekarang lagi berantem sama Gio, karena dia
cemburu!” jelas Wanda. Aku menarik nafasku panjang, mencoba mengeluarkan
sesuatu yang seakan menutupi hatiku. Tangan Livie berada dipundakku seakan
memberiku kekuatan.
“Gio
keterlaluan! Masa Cuma gara-gara berantem aja harus selingkuh?” kata Nina
kesal.
“loe
gak apa-apa?” tanya Livie, aku menggeleng lemah dan kemudian berjalan perlahan
ke arah kursi, aku sedang tak mau berpikir apa-apa. Tapi nihil, airmata tetap
saja keluar dari mataku.
“udah
jangan nagis!” Vina memelukku dan mengelus-elus pundakku
“iya,
nanti kita cariin yang lebih dari Gio” ujar Livie mencoba menenangkanku.
Tiba-tiba
bel berbunyi tanda waktunya pulang telah tiba. Aku meraih tasku dan berdiri
dengan cepat, aku hanya tak ingin bertemu dengan Gio untuk saat ini. Tapi
sepertinya aku salah, Gio sudah masuk duluan kekelas untuk mengambil tasnya.
Wajahnya berwarna biru bekas tinjuan dan ada darah mengalir diwajahnya,
seragamnya saja sudah sangat kotor. Aku ingin sekali membantu mengobati
lukanya, tapi aku siapanya? Aku tersenyum getir.
Gio
mengambil tasnya dan berjalan kearahku yang masih diam menatapnya, dia berdiri
dihadapanku sambil mengelap sedikit darah disudut bibirnya.
“aku
pengen ngomong sesuatu ama kamu” Gio berkata sambil menatap kearahku, aku
tersenyum getir sedikit mencoba menahan airmata yang ingin segera turun.
“aku
tahu kamu mau ngomong apa, gak apa-apa aku juga setuju kok, kita putus aja”
kataku lagi, kulihat wajah Gio agak kaget, ya mungkin ia kaget kenapa aku sudah
tahu maksudnya.
“Nina
yuk pulang!” ajakku pada Nina
“Tapi,
Cha...” Nina mencoba menahan mungkin ia juga kaget dengan pernyataanku
“kalo
loe gak mau, gue bisa pulang sendiri” kataku sambil memaksakan kakiku untuk
berjalan. Sekarang kakiku bahkan tak terasa sakitnya, sakitnya sudah berpindah
dihatiku.
***
“loe
serius Na?? Dimana? Kapan?” suaraku meninggi saat mendengar kabar dari Nina
kalau mobil Gio kecelakaan didepan sekolah. Aku meletakkan hape-ku dikasur dan
ikut duduk dikasur, ‘bagaimana keadaan Gio? Apa ia baik-baik saja? Tuhan,
lindungi dia’ batinku terus bertanya dan berdoa. Aku segera berganti pakaian,
aku mau ke rumah sakit dan memastikan sendiri bagaimana keadaan Gio, info yang
kudapatkan masih simpang siur dan itu membuatku lebih khawatir. Setelah
dijemput Nina, Vina dan Livie, aku pun segera kerumah sakit.
“ayo
cepetan” aku duluan turun dari taksi dan memaksakan diri berjalan duluan, namun
belum sampai ke ruangan informasi, kakiku sudah bertambah sakit, sakit sekali!
Mungkin aku terlalu memaksakannya.
“loe
gak kenapa-napa Cha?” Livie bertanya, tapi tak kujawab.
“duduk
dulu deh, ayo!” Nina menarik tanganku dan mendudukkanku ke kursi taman dirumah
sakit itu. Aku sudah dapat melihat ruang informasinya, aku hanya harus
mengistirahatkan kakiku dan pergi kesana menanyakan informasi tentang Gio.
Mataku kembali mengeluarkan airmata, sungguh aku tak mau sesuatu yang buruk
terjadi pada Gio. Kurasakan tangan Livie kembali dipundakku dan
menepuk-nepuknya pelan.
“kita
berdoa aja, biar Gio gak kenapa-napa! Lagian infonya juga masih kabur!” Livie
mencoba menghibur.
“gimana
kalo kalian tunggu disini, gue yang bakalan cari tahu informasinya” kata Vina
dan kemudian dia pergi ke ruang informasi rumah sakit yang sekarang dapat
kulihat. Sial! Kaki sial! Kenapa harus sakit disaat seperti ini!. Vina sudah
berada diruangan informasi, aku tak dapat mendengar percakapan mereka namun aku
dapat melihat ekspresi mereka. Vina terdiam sebentar, dia segera berbalik dan
akan menuju arah kami tapi kemudian ia berhenti saat pandangannya ke arah kiri.
Ia terdiam sebentar, pupil matanya membesar karena kaget, mulutnya tebuka dan
kemudian aku tak sanggup lagi melihatnya. Itu pasti buruk, kenapa? Kenapa Gio?
Kenapa orang yang aku cintai? Aku tak sanggup! Aku masih terisak dalam tangisku
cukup lama, sampai aku sadar ada seseorang sedang berlutut didepanku, dan aku
bahkan tak mendengar suara tangis lainnya, hanya aku sendiri yang terisak
disini.
Aku
menangkat wajahku dan terkejut karena kini orang yang sangat khawatirkan saat
ini sedang berlutut didepanku, dengan perban dikepalanya dan beberapa plester
di wajahnya. Ia tersenyum kearahku, aku sadar Gio tak apa-apa, ia mungkin tak
baik-baik saja, tapi setidaknya ia masih hidup. Aku menariknya kepelukkanku dan
menangis lagi, aku terlalu senang melihat wajahnya. Aku merasa tangannya naik
dan mengelus kepalaku, ia mendorongku dan menatap wajahku.
“apa
yang bikin kamu nangis?” ia bertanya sambil tersenyum
“aku
khawatir sama kamu! Kamu gak kenapa-napa kan?” aku berkata masih dengan nada
panik, Gio hanya tersenyum.
“maaf
udah bikn kamu khawatir, aku gak apa-apa kok, itu Cuma kecelakaan kecil”
katanya lagi, aku kembali memeluknya.
“aku
gak pengen putus sama kamu, aku sayang banget sama kamu!” Gio berkata lagi. Aku
hanya terdiam, kemudian melepaskan pelukan kami.
“denger
dulu ya, aku berantem itu karena aku gak suka kamu dikatain! Dia bilang kamu
selingkuh!” Gio menundukkan kepalanya
“selingkuh?
Gak mungkinlah, kami jamin!!” Livie membelaku
“ya
makanya aku gak suka, dia bilang dia lihat kamu sama cowok lain pas main sepeda
yang bikin kaki kamu luka. Aku gak suka dia bilang kayak gitu!” Gio berkata
lagi,
“itu
sepupu aku, namanya kevin. Aku mau ngenalin kamu ke dia tapi dia udah balik
duluan! Maaf aku gak bilang-bilang ke kamu” aku menarik lagi wajahnya agar ia
menatapku, aku ingin ia tahu bahhwa aku bersungguh-sungguh. Gio tersenyum lagi,
senyum yang bahkan masih meluluhkan hatiku.
“kalo
soal cewek?” kini Nina yang bertanya, oh ya aku juga ingin tahu soal cewek lain
itu.
“dia
yang gandeng aku duluan, mungkin dia sengaja karena dia tahu aku gak suka sam
cowoknya, makanya dia mesra-mesra gitu pas didepan cowoknya. Aku gak mungkin
selingkuh, aku kan sayang ama kamu” kata Gio lagi.
Pada
akhirnya kami hanya harus memberi tahu satu sama lain meski tak harus semuanya.
Karena saat kita punya komitmen dengan orang lain, kita punya tanggung jawab ke
orang yang punya komitmen sama kita. Masalah memang akan selalu ada, tapi hanya
mereka yang serius dengan komitmennya yang dapat mengubahnya sebagai lem agar
kita menjadi lebih dekat.

Komentar
Posting Komentar