Love You , Now and Forever
tawa menggema diruangan itu. Sepasang
sahabat itu tampak sedang tertawa lepas, menertawakan kejadian-kejadian yang
mereka lihat dan alami ketika hari pertama masuk SMA.
“kau tak lihat wajahnya saat ia salah
masuk, yg awalnya ia kira toilet ternyata ruangan kepala sekolah! Hahaha”
Andreas tertawa
“iya, ia dikerjai senior! Malang sekali
nasibnya!” timpal Sisi.
Mereka nampak sangat akrab dan dekat.
“pulang yuk!” ajak Sisi
“sebentar lagi!” kata Andreas sambil
berjalan kearah jendela
“apa yang kau lihat?” tanya Sisi
“itu” kata Andreas sambil menunjuk
seorang cewek yang tampaknya senior mereka.
“kenapa? Kau suka padanya?” tanya Sisi
Andreas menangguk
“dia sangat keren dan popular disekolah
ini, tadi aku mengajaknya kenalan! Kata Andreas
“kau mengajaknya berkenalan?”
“iya, dia sangat manis! Aku rasa aku
jatuh cinta padanya. Namanya Mona” jelas Andreas
Sisi hanya menangguk
“ayo pulang!” kata Andreas
Andreas belum tahu kalau ada yang menyukainya
sejak dulu, dan cintanya lebih besar daripada orang yang dia sukai sekarang.
Sisi brjalan gontai menuju kamarnya,
mengedarkan pandangannya di setiap sudut kamarnya, dia dan Andreas sudah
berteman hampir 10 tahun, sejak mereka kecil. Sisi tahu bahwa perasaannya pada
Andreas sudah mulai berubah, dia tak lagi menganggap Andreas sebagai
sahabatnya, tapi sudah lebih dari itu. Tapi, tadi Andreas bilang kalau ia jatuh
cinta, dan pada orang lain bukan padanya.
“apa ini?” kata sisi sambil memegang
dadanya
Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak
dari hatinya ‘apa aku cemburu?’ tanya sisi dalam hatinya. ‘kenapa rasanya sakit
sekali?’
Besoknya ia pergi sekolah sendirian, tak
biasanya Andreas tak menjemputnya. ‘apa dia tak masuk? Apa jangan-jangan dia
sakit?’ batin Sisi. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Andras tapi ak pernah
ada jawaban. Sisi benar-benar panik.
Tapi kenyataan yang ia dapatkan adalah
Andreas sudah berada di sekolah dan bersama dengan Mona. Mereka tampak sudah
mulai akrab, itu terbukti dari cara Andreas tersenyum dan Mona yang tampak
mesra dengan Andreas. ‘apa Andreas benar-benar mencintainya? Apa ia akan
melupakanku? Lalu apa gunanya perasaanku padanya?’ pikir Sisi. Ia segera
berlalu menuju kelas.
Tak berapa lama, Muncul Andreas, raut
wajahnya nampak sangat bahagia. ia duduk di sebelah Sisi.
“pagiii” sapa Andreas
“pagi, kau pergi pagi-pagi sekali ya?”
tanya Sisi
“hmmm, Mona menyuruhku untuk datang
lebih pagi, maaf tapi mulai sekarang mungkin aku tak akan bisa menjemputmu, aku
akut nanti marah padaku dan PDKTku padanya gagal! Kau tak marahkan?” kata-kata
Andreas yang di ucapkan manis itu mampu membuat hati Sisi seakan tertancap
pisau. Ingin rasanya ia menangis tapi ditahannya, Andreas adalah sahabatnya, ia
tak mugkin menggagalkan ‘rencana’ Andreas.
“taka pa, semoga berhasil” kata Sisi
“makasih” kata Andreas diiringi senyum
manisnya.
Sudah hampir seminggu Andreas dan Sisi
tak saling menegur, bukan karena apa. Hanya karena Andreas sanga sibuk dengan
‘Mona’nya itu. Ketika jam olahraga, Sisi dan teman-teman lainnya ditugaskan
bermain basket.
“sekarang tolong ambilkan bola basket di
gudang, kamu bisakan?” kata Pak Anton pada Sisi.
Sisi nampak sangat keberatan membawa
hampir 5 bola ditangannya, ketika henak menaiki tangga, keseimbangan Sisi goyah
dan akhirnya ia jatuh.
“Sisiii” teriak Andreas “kamu tak apa?”
tanya Andreas
“tak apa hanya luka sedikit” kata Sisi
sambil menunjukkan sikunya yang berdarah itu
“ayo ke UKS” ajak Andreas
“eh, kamu bisa pergi sendiri kan? Aku
ada urusan nih, semoga cepat sembuh” kata Andreas lalu berlalu
Sisi hanya bisa diam dan melihat
punggung Andreas yang sedang berlalu menuju ke seorang gadis cantk, Mona.
‘jadi karena itu’ batin Sisi.
Andreas masuk ke kelas dengan muka yang
kusut, sepertinya dia sedang kesal.
“kau kenapa?” tanya Sisi
“tak apa” kata Andreas ketus
“kau kenapa?”
“Mona tak suka kalau aku bersamamu”
“maaf” sisi hanya bisa menunduk lemah, ia
telah membuat sahabatnya itu bersedih.
“begini saja, bagaimana kalau kau pulang
denganku, kita makan pudding mamaku” ajak Sisi
“boleh saja” kata Andreas
Saat pulang, Sisi mencari Andreas, ia
menemukan Andreas sedang berbicara dengan Mona.
“Andreas” panggil Sisi “ayo pulang” ajak
Sisi
“sisi…. Mulai sekarang bisakah kau
menjauhiku?”
“tapi, aku ini kan sahabatmu?”
“itu dulu, sekarang anggaplah kita baru
berkenalan dan ak bersahabat, kau merepotkanku, kau sudah SMA, urus saja
urusanmu dn jangan libatkan aku” kata Andreas sambil berlalu meninggalkan Sisi
yang masih mematung.
“kenapa? Kau kenapa? Kenapa kau jadi
seperti ini? Aku ingin kau yang dulu…hiks” kata Sisi disela tangisannya. Dia
tak menyangka Andreas bisa setega ini padanya. Airmatanya seolah mengambarkan
hatinya yang sedang merana. Luka itu terlalu dalam, apalagi yng menggoreskan
luka itu adalah orang yang sejak dulu ia sukai.
“kau menangis?” kata seseorang
dibelakang Sisi, sisi melihat ke belakang dan ternyata itu Marco. Marco duduk
disamping Sisi.
“aku tahu kenapa kau menangis, aku
meihatnya tadi. Kau pacarnya Andreas ya?” tanya Marco
“bukan, ia hanya sahabatku….. sekarang
mantan sahabatku” air mata Sisi kembal menetes
“tapi kau suka padanya kan?”
Sisi hanya diam
“ini, hapus air matamu. Tak enak melihat
cewek semanis kamu menangis hanya karena orang yang tak penting” kata Marco
sambil menyerahkan sapu tangan
Sisi merasa agak baikan setelah dihibur
Marco tadi, tapi ketika ia masuk kembali ke kamarnya, ingatannya pada Andreas
kembali lagi dan membuat hatinya perih lagi. Ia pun memutuskan untuk membuang
semua barang yang ada kamarnya yang ada kaitannya dengan Andreas.
Besoknya, Andreas tak lagi duduk di
samping Sisi. Mungkin ia khawatir kalau Mona kan marh lagi padanya. Tiba-tiba,
Marco meletakan tasnya di samping Sisi, “Dia ingin bertukar tempat denganku”
kata Marco dan kemudian duduk.
“kau mau dengar?” kata Marco
“apa?” tanya Sisi. Marco menunjukan
headset padanya
“aku pernah baca, music bisa mengubah
mood, kau kan sedang bad mood dan itu tak baik, pakailah” kata Marco
“bagaimana perasaanmu?” tanya Marco
“sudah baikan, makasih” kata Sisi sambil
tersenyum.
Sudah hampir sebula ini Sisi dekat
dengan Marco. Sisi merasa nyaman karna Marco dianggap bisa mencerkan
hari-harinya. Sementara itu, Andreas nampak sedang bertengkar dengan seseorang
yaitu kekasihnya, Mona.
“tolong jangan se posesif itu” kata
Andreas
“aku tak peduli, lebih baik kita ‘break’
dulu” kata Mona tak kalah sengit
Andreas nampak kaca, ia tak menyangka
Mona adalah sosok yang begitu posesif, tak seperti Sisi. Tiba-tiba Andreas
teringat pada Sisi, ia memang telah banyak berbuat salah pada Sisi, selama ini,
ia mengacuhkan sahabatnya itu hanya karena ingin mendapatkan Mona. Tapi
sepertinya kenyataan tak sama seperti harapannya.
‘aku harus minta maaf pada Sisi, peduli
amat pada Mona’ kata Andreas.
Besoknya, ia berencana pergi ke rumah
Sisi untuk menjemputnya sekaligus ingin minta maaf dan menjelaskan semuanya
pada Sisi. Tapi sekitar 100 meter sebelum rumah Sisi. Ia berhenti, Sisi tampak
sudah dijemput oleh seseorang, Marco.
‘apa benar Sisi pacaran dengan Marco?’
batin Andreas. Dia merasa ada yang aneh dari dirinya,apa ia cemburu melihat
Sisi dan Marco? Pikirannya kacau.
Sampai disekolah, Andreas makin kacau,
rasanya ia tak ingin dan tak akan bisa menerima pelajaran hari ini. Tak sengaja
ia mendengar suara, suara Mona ‘hehhh anak kecil itu sudah tak enak lagi untuk
di mainkan, ia sudah berani membantah, ya aku putuskan saja, lagi pula ia
bodoh, aku tahu gadis yang waktu itu menyukainya, tapi ia belum peka! Masih
anak-anak’ kata-kata Mona itu seperti menyadarkan Andreas kalau selama ini ia
sudah tertipu. Andreas tak masuk sekolah, ia kacau hari ini, ia sangat marah
pada Mona dan juga sangat menyesal pada Sisi. Seandainya waktu itu ia memilih
Sisi, tentu ia tak akan jadi begini.
“makasih, elah menjemputku” kata Sisi
tersenyum
“hmmm, eh Si…” kata Marco
“ya?”
“apa kau punya acara sebentar?”
“tidak”
“mau ketempatku? Tempat aku biasa
melihat bintang”
“bintang? Mauuu”
“oke aku akan menjemputmu”
Sisi dan Marco berada di sebuah bukit
yang indah di depan mereka ada danau yang indah. Cahaya bulan yang terpantul di
danau itu, membuat pemandangan jadi tambah indah. Mereka asik dengan lamunan
mereka masing-masing sambil melihat indahnya ciptaan Tuhan itu.
Sementara itu, Andreas datang kerumah
Sisi
“Sisi sedang pergi bersama Marco
temannya itu, katanya pergi k bukit di jalan st.evers itu” jelas mama Sisi
‘kenapa mereka kesana? Apa Marco
menyukai Sisi? Dan akan menyatakan perasaannya pada Sisi di tempat itu? Tidak!
Aku tidak mau kehilangan Sisi lagi’ itulah yang ada di pikiran Andreas, hatinya
tak ingin melakukan kesalah untuk kedua kalinya. Cukup satu kali tindakan
bodoh, tak akan terulang lagi.
Andreas hampir kehabisan napas saat
berlari menaiki bukit itu, kini ia berada diatas bukit dan ia bisa melihat
sosok yan selama ini ia cari. Ia ingin segera kesana, tapi tenaganya tak mampu
lagi.
“si…” panggil Marco
“hmm” jawab Sisi yang pandangannya terus
menatap ke depan
“apa kau masih menyukai Andreas?”
“kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya
Sisi, kali ini ia menatap Marco
“karena aku ingin memastikan masih
adakah ruang kosong dihatimu untukku?”
“maksudmu?”
“aku menyukaimu, sejak aku pertama kali
melihatmu, aku tahu aku menyukaimu, kau mau jadi pacarku?”
“sisi….” Suara yang berasal dari
belakang
“Andreas!!”
“Sisi, maafkan aku, aku telah
menyakitimu. Aku menyesal”
“tak apa, kau kan sahabatku”
“tapi, aku sadar, aku menyanyangimu
lebih dari sahabat, aku mencintaimu, kau juga merasakan hal yang sama kan Sisi.
Aku telah putus dengan Mona, karena aku ingin kembali padamu”
Sisi hanya bisa mematung diam, dia
sedang bingung. Andreas menari tangannya pergi dari tempat itu, ia tak bisa
berbuat apa-apa. Sementara Marco hanya bisa tersenyum sedih dan kembali duduk
dia harus mengakui kekalahnnya, bagaimanapun ia hanya yang kedua.
Sisi melepaskan tangannya yang di
genggam Andreas
“maaf tapi aku tak bisa” kata Sisi
“kenapa?”
“kenapa kau kembali padaku?”
“karena aku baru sadar bahwa aku
membutuhkanmu”
“aku tak bisa, kau memang pernah ada di
hatiku, tapi aku akan memilih orang yang tahu bahwa ia mencintaiku dan setia
menungguku, maafkan aku”
Sisi berlari ke atas lagi, Ia sudah
membuat keputusan
“Marco…”
“Sisi, ngapain kamu disini?”
“aku Cuma mau bilang makasih kamu udah
mau jadi orang yang mencintai aku”
“hmmm” kata Marco tersenyum
“aku juga menyukaimu” kata Sisi “karena
itulah aku disini, untuk bersama dengan orang yang tahu bahwa aku berarti
untuknya”
Kita akan merasa seseorang itu penting
dan kita membutuhkannya saat kita mulai kehilangannya dan kita merasa bahwa ada
yang kurang saat tak bersama orang itu. Jangan pernah berkata nanti untuk
sebuah cinta, karena cinta butuh kepastian bukan penantian

Komentar
Posting Komentar