This is a Story


“kalau kamu berani tidur lagi di kelas saya, jangan harap kamu saya lulusin di pelajaran saya!!” kata-kata bu Marinka itu terus terngiang di kepala Felo. Cewek cuek itu kini tidak bisa cuek lagi, bagaikan tamparan keras kini ia merasa seperti orang yang di kucilkan di sekolahnya. Bagaimana tidak upacara kemarin dia di suruh maju keatas panggung untuk menerima hukumannya karena tidur di jam pelajaran. Dan dengan ‘bangga’nya bu Marinka sang empunya jam pelajaran saat Felo ketahuan tidur, menobatkannya sebagai “Ratu Koala”, sungguh pengalaman buruk.
“kenapa loe?” tanya Ratih teman Felo yang menjadi saksi saat Felo dimarahin habis-habisan oleh bu Marinka. “masih mikirin yang kemarin?” tanya Ratih lagi karena melihat temannya itu hanya diam saja. Felo menganggukan kepalanya lemah. “udah, paling juga minggu depan udah lewat beritanya” kata Ratih coba mnghibur sahabatnya itu. Felo hanya bisa membalas dengan senyum lemah.
Bagaimana bisa dia melupakan kejadian itu? Kejadian itu akan selalu dan terus teringat terus dalam memori kepalanya. Felo menarik nafas panjang dan berdiri dari tempat favoritenya, bangku belakang sekolah. Tempat ini jadi tempat Felo kalau sedang galau, bahagia dan sebagainya, dari tempat ini dia bisa melihat indahnya bukit belakang sekolah. Felo melangkahkan kakinya pelang sambil terus mengumpat “loser!! Loser! I’m a loser!”. Dia merasa campur aduk, ya marah, ya sedih, ya nyesel jadi satu di kepalanya.
Sekolah sudah sangat sepi, tinggal Felo sendiri di sekolah, entahlah tapi dia merasa lebih tenang seperti ini. Sunyi, senyap dan tenang, tidak ada lagi suara yang mentertawakan dia, atau mengejek atau yang melihat sinis ke arahnya. Felo benci itu, sangat benci.
Dirumah, Felo bahkan tak bisa tidur! Bayangan kejadian itu selalu menjadi mimpi buruk yang nyata dalam hidupnya. Dia bahkan tak bisa makan! Entah kemana larinya nafsu makan itu. Felo hanya bisa diam di kamarnya dan terus merenungi nasibnya. Dia sudah melakukan kesalahan, jadi kini dia harus menerima akibatnya.
Besoknya, Felo sangat tidak bersemangat untuk masuk sekolah, entah kenapa semangat yang dulu berkobar-kobar ketika hendak ke sekolah kini padam seketika. Tapi tentu saja, Felo tidak mau jika orang tuanya tahu kalau dia sedang dalam masalah. Dia dan sekolahnya saja sudah sangat memberatkan apalagi dengan masalah ini. Sekarang dia kembali memakai topeng terbaik, senyuman.
Felo berjalan gontai menyusuri koridor sekolah, dia datang sangat pagi. Bahkan saat gerbang baru di buka, dia sudah datang. Dia berjalan menuju tempat favoritenya, bangku belakang sekolah. Saat dia hendak kesana, dia melihat pemandangan aneh, sudah ada orang disana. Felo memastikan bahwa sosok yang dilihatnya ini adalah manusia, bukan hantu atau semacamnya, dilihat dari kakinya yang menapak di lantai.
Saat orang itu berbalik, Felo sangat kaget, lebih kaget daripada melihat hantu. Dia.. dia Nick, orang yang selama ini Felo suka, yang selalu buat Felo semangat untuk ke sekolah.
“hmm, ngapain loe disini?” tanya Felo yang sedang mencoba mengendalikan perasaannya.
“emangnya kenapa? Gw Cuma suka duduk disini aja” jawab Nick
“yah… ga pa pa sih,Cuma gw kira baru gw yang datang!” jelas Felo
“supir gw sakit, jadi bokap gw yg nganterin, jadi gw dateng pagi-pagi” jelas Nick, sementara Felo hanya ngangguk-angguk
“eh, loe yang pas upacara…”
“iya” jawab Felo cepat dan ketus, dia merasa sangat malu, bahkan sampai orang yang disukai pun tahu hal memalukan itu.
“menurut gw, itu ga adil, itu namanya pelecehan. Menurut gw loe salah sih, tapi ga harus di hukum kayak gitu juga kok! Sabar ya!” kata Nick sambil tersenyum. Senyum yang bahkan membuat hati Felo kembali berbunga-bunga
“ya udah deh, loe boleh ambil tempat loe, gw mo ke kelas dulu” kata Nick sambil berlalu menuju kelasnya. Setelah Nick pergi, masalah yang tadi penuh di kepala Felo, perlahan-lahan menghilang. Felo hanya berharap ini akan jadi hari baik buatnya.
Setelah puas di tempat favoritenya, yang ga diketahui oleh siapa pun itu, kecualii sekarang, karena Nick sudah tahu. Dia bergegas turun dari ‘singgasana’nya dan kembali ke kelas. Saat melewati koridor, Felo melihat banyak sekali anak-anak yang sedang berkumpul di depan mading sekolah.karena penasaran, Felo pun ikut melihat pengumuman itu.
Ternyata itu adalah pengumuman lomba band untuk pensi bulan depan. Felo sangat tertarik melihat pengumuman itu, dia yakin bandnya itu bisa menang. Karena baru-baru ini band mereka ‘the fighters’ sudah berhasil menjadi finalis 10 besar untuk event tahunan di kota ini. Dengan setengah berlari, Felo menuju kelasnya, ini kesempatan bagus.
Sampai dikelas, Felo baru menemukan si Pianis, ratih dan gitaris, Cleo. Dia langsung menghampiri teman-temannya itu.
“kalian udah lihat mading belom?” tanya Felo
“belom, emang ada apaan?” tanya Cleo
“ada lomba band buat pensi bulan depan! Gimana kalau ‘the fighters’ ikut?” tawar Felo dengan semangat lima Negara
“ahh, jangan deh, mending kita focus belajar aja!” kata Cleo
“iss, loe jadi cowok lembek banget kayak bubur ayam” ledek Ratih
“eh, apaan loe bilang enak aja! ” kata Cleo tidak terima
“udah, ya kan waktunya juga masih banyak!” kata Felo lagi
“ya udah, tanya Riko, ama Neli dulu! Kalo mereka setuju, gw juga ikut” kata Cleo.
Saat istirahat ketiganya langsung menuju ke kelas Riko dan Neli.
“gimana ko?? Loe mau kan??” tanya Felo setelah menjelaskan niatnya
“hmm, okay.. tapi kapan pendaftarannya?” tanya Riko
“entar, pulang sekolah!” jawab felo
“yahh gw gak bisa daftarin, gw lagi ada les pas pulang sekolah!” jelas riko
“gw juga ga bisa” kata Neli
“ya udah. Ntar gw yang daftar!” kata Felo.
“okey” jawab semuanya.

Felo kembali melihat papan pengumuman, wajahnya yang tadinya sumringah tiba-tiba saja berubah menjadi murung. Yah, formulir pendaftaranny diambil di ruangan bu Marinka. Dia mau berbalik dan kembali ke kelas dan bilang ke teman-temannya kalau dia tidak bisa mendaftarkan band mereka.  Tapi, pas waktu ia berbalik, sosok itu muncul lagi, Nick sedang berdiri di belakangnya dan sedang mengamati pengumuman itu.
“band loe ga daftar?” tanya Nick pada Felo
“dari mana loe tahu?” tanya Felo bingung
“gw tahu karena waktu itu, gw lihat loe ama band loe itu manggung di festival music!”
“oh” komentar Felo
“jadi, loe beneran gak ikut? Maen drum loe bagus loh!”
“kayaknya gak!” jawab Felo lemah
“apa karena ini?” kata  Nick sambil menunjuk nama bu Marinka yang ada di papan pengumuman, sedangkan Felo hanya menangguk pelan.
Felo masuk ke kelas, teman-temanya sudah menunggunya.
“mana formulirnya Fel?” tanya Neli sang Vokalis
“sorry, gw ga bisa ambil formulirnya!” jawab Felo lemah
“kenapa, apa udah ditutup?” tanya Riko
Felo menggeleng “Ngambil formulirnya di ruangan bu Marinka” jawab Felo.
Teman-temannya hanya bisa saling bertatapan, mereka tahu perasaan Felo saat ini. “yah udahlah, ga pa pa! pulang yuk!” ajak Cleo
Sore harinya, Felo berniat menghibur diri, makanya dia pergi ke toko alat music. Saat masuk ketoko tersebut, dia kembali melihat sosok Nick, sedang duduk dan memainkan gitar. Saat sedang memegang gitar Nick tampak 1000X lebih cool dari biasanya. Felo hanya bisa memandang Nick karena tiba-tiba saja seorang cewek menghampiri Nick, mereka berdua terlihat mesra. Perasaan Felo yang awalnya berbunga-bunga perlahan menjadi aneh, dia tak suka! Dia tak suka jika ada yang mendekati Nick.
Felo membanting pintu kamarnya, dia memutuskan untuk pulang, dia akan pingsan jika lama melihat Nick dengan sosok cewek yang itu. Felo mengarahkan pandangannya di setiap sudut kamarnya sampai terhenti pada satu sudut yang di penuhi oleh foto Nick. Foto yang ia dapatkan dengan cara sembunyi atau mengunggahnya dari jejaring sosial. Felo mendekati sudut itu, ia mencabut satu per satu foto Nick ‘buat apa mencintai orang yang sudah punya orang lain untuk di cintai’ begitu kata hatinya. Ia membuang foto itu di tong sampah kamarnya, saatnya untuk melupakan Nick.
Besoknya, seperti biasa dengan langkah gontai tapi langkahnya tertahan karena melihat ramainya orang yang sedang berkumpul di mading. Dia ikut melihat kesana, ternyata pengumuman finalis lomba band buat pensi. Tapi, kenapa ada namanya, cleo, ratih, riko dan neli? Dia pun masuk kedalam kerumunan itu, what?? Kenapa nama band mereka jadi ‘Angry Band’?.
Felo segera berlari menuju kelasnya, untuk memberitahu teman-temannya.
“kalian… udah.. pa..hahh da liat pengumuman belum?” kata Felo ngos-ngosan
“belum, yang gw tahu hari ini Cuma ada pengumuman finalis lomba band kan? Kan band kita ga ikut, jadi ga pentinglah” kata Ratih santai
“Nama kita-kita tuh ada tahu!”
“what?? Siapa yang masukin kita?” kata Cleo kaget
“gw ga tahu, makanya gw nanya ma kalian” kata Felo bingung
“mungkin Riko kali” kata Ratih
“kan, Riko kemarin pulang lebih cepet” kata Cleo
“mungkin Neli, dia kan leadernya?” tebak Felo
“gak lah, gw kemarin langsung pulang ama Neli kok” jelas Ratih lagi
“trus siapa yah??” pikir Cleo
“ada yang lebih penting lagi” kata Felo
“apaan?” tanya Ratih dan Cleo bersamaan
“nama band kita, dirubah jadi… ‘Angry band’” kata Felo sambil menunduk
“what??? Wah gak lucu tuh” kata Ratih agak geram
“hmm, kayak nama games adek gw” kata Cleo yang mulai lemot
“Cleeoo itu angry birds!! Ini angry band!! Dasar lemot” kata Felo
“yeee kan yang penting ada angry-angrynya” kata cleo membela diri.
Felo kembali berada di ‘singgasana’nya, dia masih bingung, siapa yang memasukan dia dan kawan-kawannya?. Semua teman-temannya mengatakan tidak mengambil formulir pendaftaran, tapi kenapa mereka masuk ya?.
“yah, lo udah disini?”
Felo pun segera berbalik arah, ternyata benar orang yang berada di belakangnya adalah Nick.
“ini kan tempat gw” kata Felo ketus
“idihh ini tempat umum tahu” kata Nick yang kemudian ikut duduk di sebelah Felo, membuat Felo harus menguatkan hatinya 1000 X kalilipat lagi, agar kuat untuk melupakan Nick.
“ekh, band loe masuk kan? Selamat ya” kata Nick sambil tersenyum, tetapi itu membut Felo membulatkan matanya tak percaya.
“jadi… loe yang daftarin band gw?” tanya Felo
“yapp” kata Nick
“kenapa loe gak bilang dulu ama gw?”
“yah, menurut gw sayang banget kalo band loe gak masuk, kalian punya bakat loe!”
“trus, kenapa loe pake nama ‘Angry Band’? kan gak lucu?”
“ya abisnya udah ga ada nama lain lagi di kepala gw, gw juga udah lupa nama band kalian”
Felo menunduk “tetap aja, pake nama yang kerenan dikit kek”
“Angry Band, keren lagi”
Felo tersenyum tipis “thank’s ya”
“iya sama-sama”.
Hari itu mereka mengobrol banyak hal, mulai dari music sampai politik. Felo merasa hari-harinya sudah mulai membaik akhir-akhir ini.
Besoknya, Felo cs sudah mulai latihan di studio milik Riko. Mereka sangat semangat karena mereka yakin bisa menang!. Setelah latihan, Felo pun pulang. Begitu sampai dirumah, dia di panggil sama mamanya. Mamanya bilang kalau dia akan dikenalkan dengan anak temannya selesai dari dia lomb nanti, siapa tahu akan cocok. Tentu saja felo tak mau, tapi mamanya tetap saja memaksa
Hari yng ditunggu sudah tiba, kini saatnya band Felo untuk tampil. Mereka bersiap-siap di backstage, beberapa menit lagi di mulai, mereka mendapat no urut 5 untuk tampil.
“Felo” kata Cleo wajahnya terlihat pucat.
“kenapa loe, blom makan?” tanya Felo
Cleo menggeleng lemah
“jurinya…”
“kenapa jurinya?” tanya Riko
“jurinya ada bu Marinka” kata Cleo lemah.
“what???”
Felo Nampak kecewa, ia tak yakin bandnya bisa menang kalo seperti ini keadaannya. Felo pun pergi dari tempat itu, dan menuju tempat favoritenya, bangku belakang sekolah.
Ia tak sanggup lagi, ia merasa sangat disalahkan kalau seperti ini, bandnya sudah berlatih keras, Riko bahkan sampai jarang ikut les hanya untuk latihan, dan sekarang disaat tinggal sedikit lagi, malah keadaan yang menjadi kacau.
Airmatanya perlahan-lahan tumpah juga, dia terisak sendirian.
“ternyata benr kamu disini” kata seseorang di belakangnya
“nick?”
“keadaan memang gak bisa di prediksi”
Felo mengelap airmatanya
“kalo memang mo nangis, nangis aja” kata Nick
Airmata felo pun kembali jatuh, hatinya terasa sakit jika mengingat teman-temannya.
“nick”
“hmmm”
“kamu bisa main drum kan?”
Nick menatap felo sebentar
“gak” kata nick
“ayolah, demi teman-temanku” kata felo lagi
“jangan pasang wajah seperti iti!”
“please”
“boleh tapi dengan satu syarat”
Band felo tampil tanpa felo, drummer digantikan oleh nick, dia Nampak piawal menabuh drum. Felo masih berharap kalau dia yang aka nada di atas sana, menikamati setiap hentakan beat yang menjadi satu dengan detak jangtungnya. Airmatanya kembali jatuh, tapi biarlah demi teman-temannya.
Felo kembali menuju ke bangku belakang sekolah, dia ingin menangis disana. Tiba-tiba ada yang memegang pundaknya, itu nick.
“jangan nangis lagi” kata nick
“ga pa pa, asal temen-temen gw seneng” katanya
“oh, ya udah, sekarang gw mo nagih janji loe” kata nick
“lo g bisa minta lain kali apa?”
“tadi katanya loe udah ga pa pa”
“ya udah apa?”
“gw mau, loe jadi pacar gw!” kata nick
“apaan sih, yang bener mintanya” kata felo kesal tapi sebenarnya, dalam hati kecil ia bahagia
“hahh, loe udah denger dari nyokap loe belom”
“soal apa”
“ya soal dikenalin sama anak temen mama loe”
“trus?”
“gw orangnya”
“bilang aja loe ga mau” kata Felo
“dan ngecewain loe lagi?”
Felo terdiam
“gw sayang ma loe, gw tahu loe juga suka ma gw, makanya gw nolongin loe biar bisa ikut audisi”
Felo terdiam sejenak, dan menangguk di ikuti dengan senyu mengembang di bibir nick
“ayo kita lihat pengumumannya”
Mereka melihat acaranya yang sudah mencapai punvak, dn band felolah yang menang.
“kemenangan ini kami persembahkan untuk orang yang sudah membiarkan kami ada di sini, ini buat Felo, teman terbaik kami” kata Riko waktu di beri kesempatan mengucapkan kesan
Mereka turun dari panggung dan langsung berpelukan,
” jadi sekarang, kita punya nama band baru, anggota baru, juara baru dan…” felo tak meneruskan kata-katanya
“pacar baru” sambung nick sambil meletakan lengannya di bahu felo membuat mereka kemudian di kerubungi oleh banyak pertanyaan.

Terkadang apa yang kita perjuangkan tidak harus kita perjuangkan sampai akhir, terkadang kita harus membuang rasa ego kita dan membiarkan orang lain yang meneruskan perjuangan kita.

Komentar

Postingan Populer