The Secret fans
Aku melihatnya dari sini, melihat dia memainkan bola basket di
tangannya. Dia tampak sangat ahli dalam bermain basket. Orang itu, dia yang
membuatku merasakn getaran aneh walau hanya melihatnya dari kejauhan. Sudah 2
tahun aku mengenalnya, tapi hanya beberapa kata yang ku ucapkan padanya. Aku
terlalu malu untuk berbicara dengannya, bahkan untuk menatap matanya. Aku
memang bodoh, aku memang pengecut.
Tek berapa lama, mereka pun selesai bermain, satu per satu
dari mereka mulai meninggalkan lapangan basket, berarti ini saatnya aku pulang.
Aku beranjak dari tempat itu, sudah saatnya aku pulang. Aku memang sesalu
seperti ini, bersembunyi dan selalu memperhatikan tingkah dan lakunya. Mungkin
bis dibilang aku ini penggermar rahasianya.
Aku melangkahkan kaki menuju gerbang, aku tahu mereka saat ini
pasti masih ada di ruang ganti, jadi aku harus cepat pergi. Ketika sampai
dirumah, selalu seperti ini. Rumahku selalu sepi dan akan terlihat ‘sedikit’
ramai bila hari sabtu datang. Aku menuju kamarku, membaringkan tubuhku di
ranjang. Aku menatap salah satu sudut kamarku, disana di penuhi banyak foto
Kevin. Aku menatap kembali satu per satu foto yang ku ambil secara diam-diam
itu. Ada banyak mulai dari di kantin, sedang bermain basket, bahkan di kelas.
Aku menatap salah satu foto Kevin, saat itu aku hampir saja ketahuan, tapi
untunglah aku berhasi kabur, tapi gantungan kameraku malah putus dan entah
hilang di mana. Sejak saat itu, aku jadi takut untuk mengambil foto Kevin lagi.
Besoknya, aku kembali ke sekolah. Aku berjalan pelan, karena
aku tahu saat pagi-pagi begini biasanya Kevin dan teman-temannya pasti sedang
duduk-duduk di tangga perpustakaan. Oh Tuhan, dia namapak sangat tampan dengan
jaketnya itu. Udara sekarang memang sangat dingin, namun aku tak memakai baju
dingin.
Begitu sampai kelas, aku di sambut dengan celotehan Reni,
teman sebangkuku yang kemarin menonton konser idolanya.
“velo… loe tahu gak kemarin konser Mocca-nya tuh keren
banget!” celoteh Reni
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya
“loe pasti nyesel ga nonton!! Keren banget…….” Dan dia mulai
berceloteh lagi.
Bel istirahat sudah berdering, membuat para siswa yang
sebelumnya sudah mulai gelisah menjadi senyum ceria. Aku dan Reni berjalan
menuju kantin, yap! Seperti yang aku duga, Kevin sudah ada disana karena memang
dia selalu keluar 15 menit sebelum jam istiraht, entah bagaiman caranya. Tapi,
aku dan Reni berhenti sejenak! Itu, Silva. Dulu Silva adalah teman kami, tapi
karena kecelakaan yang dialaminya, dan ia berpikir bahwa aku sengaja mencelakainya
maka ia membenciku. Dapt kulihat kakinya masih memakai gips. Dia melihat ke
arahku dan tersenyum sinis. Aku tak membencinya, karena aku memang tak ada niat
mencelakainya.
Waktu itu kami sedang kabur karena hampir ketahuan Kevin kalau
aku memfotonya secara diam-diam. Kami berlari kencang, dan tidak sengaja,
kakiku terkilir sehingga membuatku oleng dan khirnya bertumpu pada Silv
sehingga membuatnya jatuh dan kakinya patah.
Silva tersenyum sinis lalu mendekati aku dan Reni.
“hay sil, udah baikan ya?” tanyaku
“hehh, jangan sok baik deh!” bentak Silva padaku.
“hey! Nyatai dong! Velo kan nanya baik-baik!” ucap Reni.
“gw bakal bikin loe malu! Gw… bakal kasih tahu Kevin soal
‘rahasia’ loe” kata silva yang berhasil membuatku memucat.
“jangan sil” ucapku memohon, tapi silva menggeleng.
Sila berjalan kearah Kevin, membuatku takut, aku gemetar
sendiri, tubuhku bahkan terasa dingin sekarang.
“Kevin” panggil Silva. Kevin pun menoleh kearah Silva.
“gw pengen ngasih tahu loe
sesuatu nih” kata silva dengan volume yang kencang. Aku tahu dia tidak hanya
memberitahu kevi tapi juga semua orang di kantin ini. Aku ingin lari, tapi kaki
ini tak mau bergerak, lututku bahkan sudah sangat lemas, Reni pun hanya bisa
diam.
“ada seseorang yang sukaa
banget ama loe, trus jadi penggemr rahasia loe gitu deh” kata Siva yang membuat
sluruh perhatian tertuju padanya, kevin hanya bisa memandang silva dengan
tatapan tidak mengerti.
“siapa?” tanya kevin
“tuh” kata silva sambil
menunjuk ke arahku, kini tak terbendung lagi, air mataku pun tumpah. Aku
mencoba menahan malu, tapi tak bisa. Aku berlari menjauh, serasa aku ingin
pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Aku berlari di iringi oleh tawa setiap
orang ynag ada di kantin.
Aku duduk di atap sekolah, aku
menangisi diriku sendiri. Aku memang pengecut! Aku mengulang-ulang kata-kata
itu dalam hatiku. Aku tak mengikuti pelajaran, karena aku tahu jika aku akan
kembali kesana, aku hanya akan di permalukan.
Tak terasa ini sudah jam 3
sore, sekolah sudah selesai dari tadi, tapi tetap saja aku takut untuk turun.
Tiba-tiba kurasakan ada yang datang, ketika kulihat ternyata orang itu, Kevin.
Aku kaget, dan akhirnya ku berusaha untuk lari.
“hey! Tunggu!” teriak kevin
yang kini mengejarku. Aku tak mempedulikannya dan terus berlari sampai aku
tidak sadar kalau akan buntu. Tapi tiba-tiba ada yang menahanku, kevin
menarikku. Kami jatuh di lantai. Aku menangis karena kau masih saja merasa
malu, kevin duduk di lantai dan sedang mencoba mengatur kembali nafasnya.
“kamu mau mati ya?” tanyanya
Aku mengangguk, ya aku ingin
mati saja. Kevin membulatkan matanya “heh, kau ini”
Aku duduk bersama Kevin, ini
pertama kalinya. Kevin terus menatap matahri yang akan tenggelam di ufuk barat.
“hampir semua cewek di sekolah
ini, pernah minta foto gw kok! Jadi loe gak usah ngerasa kayak gitu” kata kevin
tanpa mengalihkan pandangannya
“Cuma bedanya, mereka datang
langsung ke gw, bukan diam-diam” lanjut kevin lagi
“maafin gw ya” kataku
“apa yang harus di maafin?
Semua orang berhak bahagia. mereka yang datang langsung ke gw, gak semua bisa
tahu tentang gw! Karena mereka gak mau repot-repot mencari tahu, cukup denger
omongan orang aja. Gw tahu, yang tadi itu temen loe kan? Dia juga pernah ngirim
surat ke gw” katanya lagi
Aku hanya bisa melongo tak
percaya
“dari awal gw tahu, loe
orangnya! Yang suka sembunyi di pohon dekat tangga itu kan?” tanya kevin, aku
hanya mengangguk.
“kenapa loe bisa kesini?”
tanyaku
“ini tempat tidur gw sebelum
latihan” katanya sambil menunjuk salah satu beton kecil dengan coretan kevin di
salh satu sisinya
“ayo pulang, gw bakal anter
loe, gak baik cewek pulang malem sendirian” katanya
Besoknya, aku hampir tak mau ke
sekolah. Tapi daripada membuat papa mama curiga, lebih baik pergi saja. Benar
dugaanku, sampai di sekolah, aku malah di ejek karena kemarin. Kulihat Silva
tersenyum puas, aku menggigit pelan bibir bawahku mencoba merendam amarah dan
rasa maluku. Tapi tetap saja aku tak bisa.
Aku sudah hampir jatuh waktu ku
dengar ada suara orang yang berteriak. Dan ku rasakan ada yang memegang
pundakku, ketika kulihat ternyata Kevin.
“kalau ku lihat kalian
mengerjainya, aku tak akan tinggal diam!” bentak Kevin kasar, baru kali ini aku
melihatnya kasar. Dan sepertinya bukan aku saja yang kaget, semua orang juga
kaget.
“ayo” Kevin menarik tanganku,
dan membawaku ke atap. Aku duduk di salah satu beton di situ, kevin duduk di
sebelahku.
“jangan jadi lemah seperti itu!
Kau akan di injak-injak oleh mereka!” kata Kevin sambil menatapku
“Thank’s karena sudah
mengagumiku dari hatimu” katanya dengan senyum di bibirnya
Karena penyelematan kevin, kini
aku tak perlu lagi takut jika ada yang mengejekku. Sekarang sudah jam
istirahat, aku hanya duduk di kelas, karena Reni tak masuk hari ini. Hari ini
aku juga tak melihat Kevin, mungkin ia juga tak masuk hari ini.
Bel pulang sudah berbunyi, ku
langkahkan kakiku ke perpustakaan karena aku masih punya banyak PR untuk di
selesaikan disana. Aku memasuki perpustakaan, dan mulai mengerjakan PRku. Tak
sampai setengah jam kemudian, PR itu selesai juga. Aku bersiap pulang, sekolah
sudah sangat sepi, hanya terlihat beberapa orang yang mungkin sedang bimbel
atau mengikuti eskul. Ketika aku masuk ke kelas yang sudah sepi semenjak aku
pergi tadi, aku melihat ada yang aneh. Di mejaku sekarang terletak sebuah kotak
makanan dan juga kartu ucapan
“makanlah, kau pasti lapar!
Setelah itu pulanglah! Nb:makanan ini tidak beracun”
Aku terenyum geli melihatnya,
siapa ya? Mungkin bukan untukku, ku balik kartunya dan namaku tertulis di depan
kartu itu. Aku tersenyum dan mulai memakan makanan itu.
Besoknya ku temukan lagi di
atas mejaku sebuah komik doraemon seri terbaru kesukaanku yang didalam sampul
transparannya itu ada sebuah kartu lagi. Aku merogoh kartu itu dan mulai membacanya
Could there be a possibility
I’m trying to say what’s up
Cause I’m made for you, and you for me
Baby now is time for rights
Shall I give it all together
But it don’t feel enough
They say we’re too young for love
But I’m catching feelings
I’m trying to say what’s up
Cause I’m made for you, and you for me
Baby now is time for rights
Shall I give it all together
But it don’t feel enough
They say we’re too young for love
But I’m catching feelings
Aku tersenyum membaca dan ku ketahuiitu adalah penggalan lagu,
tapi tak ku sangka ada yang berpikir bahwa kata-kata itu juga cocok di buat
puisi. Aku menaruh kembali menaruh kartu itu, aku masih berpikir siapa
pengirimnya, sampai kembali kudengar kembali penggalan lagu itu yang
dinyanyikan oleh seseorang, aku keluar ingin melihatnya, tapi di luar tak ada
siapa pun.
Saat jam istirahat, aku dan Reni pergi ke kantin, saat mlewati
kantin aku melihat Kevin sedng duduk dengan teman-temanya. Begitu melihatku, ia
langsung berdiri dan berjalan ke arah ku, begitu ia berda tepat di hadapanku,
ia sedikit tersenyum
“hey! What’s up?” tanyanya padaku seakan berharap sesuatu dari
kata-kata itu.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dia berlalu
meninggalkanku
“kok, Kevin jadi aneh ya?” tanya Reni
“iya, kayaknya” kataku
Malamnya kau bahkan tak bisa tidur, aku masih
memikirkan siapa kira-kira yang mengirim semua ini?. Aku terus berpikir, sambil
melihat kamarku. Pandanganku pun tertuju pada foto-foto Kevin yang ku pajang.
Anak itu, tadi begitu aneh, apa yang ia harapkan dari kata ‘whats up’?. Aku
tersenyum geli, tunggu dulu ‘what’s up’?, aku mengambil kartu ucapan yang tadi
pagi, melihat dan ya memang ada kata “I’m
trying to say what’s up” apa Kevin pengirimnya? Mana mungkin!
Besoknya, aku ke sekolah lagi, tapi hari ni
tak ada tanda-tanda dari si pengirim. Saat bel masuk istirahat, kembali ada
satu kartu tanpa hadiah, berada tepat di atas mejaku, ku pastikan bahwa kartu
itu untukku.
“kalau
kau ingin tahu siapa aku, temui aku di atap sekolah pulang sekolah” begitu
lah isi dri kartu itu.
Bel pulang berbumyi, aku segera menuju atap
sekolah. Aku benar-benar penasaran, begitu aku naik kea tap tampak ada yang
menyanyikan lagu itu lagi, aku mencari sumber suara itu. Ketika orang itu
berbalik dia…. Kevin. Kevin berjalan ke arahku
“kamu…” kataku tak percaya
“iya, aku penggemar rahasia kamu” katanya
sambil tersenyum
“kenapa kamu ngelakuin hal kayak gini?”
“setidaknya kita harus impas”
“impas???”
“nih” katanya menyodorkan beberapa lembar
foto, fotoku waktu di MOS 2 than lalu, dengan rambut di kepang dan seragam yang
dibuat culun.
“ini waktu aku pertama kali belajar fotografi,
kamu menarik buat aku, makanya aku foto” kata Kevin
Aku hanya diam
“aku punya banyak foto kamu, tapi setelah MOS,
kamu jadi lain, gak pernah bisa aku temuin! Dan aku baru sadar setelah lihat
kamu secara langsung di depan aku lagi”kata Kevin lagi
“kamu punya foto aku, kamu ambil diam-diam
juga?” tanyaku
Kevin mengangguk
“ini” katanya menyodorkan gantungan kameraku
yang waktu itu jatuh dan ku pikir hilang.
“sekarang kita impaskan?” kata Kevin lagi
Aku mengangguk, sebenarnya kau berharap lebih
tapi sudahlah
“sekarang, kamu maukan jadi pacar aku?” tanya
kevi lagi yang kali membuat aku membulatkan mataku tak percaya
“aku tak butuh orang yang mengagumiku hanya
karena aku popular, kaya atau yang lainnya. Aku butuh orang yang mengagumiku langsung dari hatinya” kata Kevin
sambil menatapku
“kamu serius?” tanyaku
Ia mendekatkan posisi duduknya, memalingkan
wajahnya menatap wajahku dan kemudian mencium keningku, rasanya bahkan sampai
ke hatiku.
“katakan apa yang masih kamu ragukan” katanya
lagi, aku menggeleng cepat
Aku bersandar dibahu Kevin yang terus
menandungkan lagu itu sambil kami menikmati matahari yang sudah mulai kembali
ke ufuk barat.

Komentar
Posting Komentar