happiness In The Love


Aku menghampiri pohon itu, tempat dibawah pohon itu menjadi saksi bisu saat pertama kali aku mengenalnya. Saat itu aku tak sengaja menjatuhkan sapu tanganku, dan Albernlah yang membawanya ke tempat itu dan memberikannya padaku. Kesan pertaaku adalah, dia adalah orang yang baik.
Saat pertama kali ku genggam tangannya, aku tahu kalau ia adalahorang lemah lembut, karena caranya menggenggam tanganku. Satu hal yang tak bisa ku lupakan adalah tatapan mata hazel dan lesung pipitnya. Meski aku sering mengejeknya karena lesung pipit itu. Karena menurut info yang pernah ku baca, lesung pipit itu adalah sebuah kecacatan.
Tapi tak perduli apakah itu, aku thu bahwa aku menyukainya saat itu, saat kami pertama kali kami bertemu. Dia orang yang sangat perhatian, dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus mendengarkan.
Saat pertama kali kami jalan berdua, waktu itu kami tak sengaja bertemu. Dia mengajakku untuk menemaninya mencari buku dan sesudah itu mengajakku bermain di mall. Saat itu aku tahu bahwa perasaan suka itu sudah mulai berubah.
Dia juga yang membuat ku panic saat tiba-tiba ia mengeluarkan aku dari eskul drama. Saat itu aku marah padanya, sangat marah! Semua orang tahu bahwa eskul drama adalah eskul elit di sekolah dan dia tiba-tiba saja mengeluarkanku. Saat itu ia mengejarku bahkan sampai di rumahku, dia berdiri dirumahku selama 5 jam terus tanpa jeda. Aku yangkasihan padanya segera turun menemuinya.
“kamu ngapain disini? Pergi sana!” kataku kasar
“aku mau kamu berhenti dari eskul drama” katanya
“kamu pikir kamu siapa? Kamu tahu aku udah brjuang habis-habisan untuk dapat masuk eskul itu! Sekarang kamu malah suruh hapus namaku! Mau kamu apa sih?” kataku emosi
Tapi dia bukannya marah, malah tersenyum. Dia maju beberapa langkah
“karena aku tahu kamu fisiknya kurang bagus, kamu tahu gak, eskul drama itu latihannya 3 jam sehari terus tanpa jeda”
Aku terdiam, benarkah? Benarkah itu semua? Ku akui memang fisikku kurang bagus, aku tidak boleh terlalu capek karena aku bisa masuk rumah sakit jika aku kelelahan.
“walau pun kamu masuk, aku yakin Cuma dalam waktu 3 hari, kamu akan dikeluarkan! Karena fisik kamu itu, kamu mau jadi orang yang dilecehkan karena dikeluarkan dari eskul ‘neraka’ itu?” katanya sambil menatapku, aku menggeleng
“karena itu aku suruh mereka hapus nama kamu, cari aja eskul lain deh!” katanya sambil tersenyum yang kembali menunjukan lesung pipitnya itu.
“makasih ya” kataku sambil tersenyum
Kami sering menghabiskan waktu berdua, seperti saat kami jalan-jalan di taman kota. Cahaya bulan itu menerangi kami yang sedang duduk di bawah pohon tempat kami pertama kali bertemu, cahaya bulan terpantul di permukaan air danau di depan kami. Kami membahas tentang kontes ratu untuk sekolah kami
“aku kagum loh, sama yang menang itu” kataku
“kenapa?”
“pertama, dia cantik juga pintar”
“kalau menurut aku sih, dia biasa aja, indah itu bukan Cuma pada fisik yang sempurna, tapi juga pada hati”
Dia terkadang bisa jadi sangat bijak, walau terkadang ia membuat aku kesal dengan tingkah konyolnya.
Hari itu aku sedang mengerjakan tugas bersama dengan teman-temanku. Radit, cowok yang aku dengar menyukaiku terus saja berada di dekatku. Radit, orangnya juga menyenangkan tapi aku tak menyukainya. Sambil kami terus mengerjakan tugas kami, kami terus saja bercanda. Dan ketika Radit yang mengeluarkan lelucon, kami semua pun tertawa, dia begitu lucu.
“seneng deh bisa liat kamu ketawa” kata Radit tiba-tiba padaku
“ehmm makasih ya” kataku
“hmm, apalagi ketawanya karena aku” kata Radit tanpa menatapku, ia menatap lurus kedepan.
“kamu, sama si Albern itu, pacaran ya?” kata Radit lagi
“ha… eh gak kok! Kami Cuma temenan” kataku, mungkin karena kami sering bersama mereka jadi mengira aku dan Albern berpacaran.
“bagus deh kalo gitu” kata Radit
“bagus apaan?” tanyaku
“ya bagus, berarti aku masih punya..” Radit tak melanjutkan kata-katanya karena Albern tiba-tiba saja muncul dan langsung menarik tanganku menjauh dari tempat itu.
“kamu apa-apaan sih? Aku kan lagi ngobrol” kataku kesal
“itu tadi namanya bukan ngobrol!” kata Albern
“trus apa?” tanyaku
“itu tadi namanya mo pernyataan cinta!” kata Albern yang berhasil membuatku terdiam.
“trus kenapa kamu marah? Kamu cemburu?” kataku
Albern menghela nafasnya panjang, ia menatapku, tepat di mataku tapi yang kurasakan tatapan itu menembus hatiku. Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya.
“aku ga cemburu, aku Cuma…. Ga suka ada yang bkin kamu bahagia selain aku” kata Albern lagi.
“aku sayang sama kamu Gin” kata Albern lagi, dank u setujui dengan anggukan kepala. Yap, hari itu aku jadi kekasihnya.
Hari tepat dimana sebulan kami berpacaran membuatku sangat bahagia, aku berencana untuk makan malam bersama untuk merayakan sebulan jadian kami.
Aku menelponnya berulang-ulang kali, tapi ia tak menangkatnya. Pdahal hanya untuk hari ini aku berpikir terus selama seminggu ini untuk mendapatkan ide untuk merayakan hari sebulan kami jadian.
Akhirnya aku pun berencana menemuinya, aku mengirimkan pesan padanya bahwa aku menunggunya. Aku pun segera pergi menuju ke restoran yang di maksud, 1 jam aku mnunggu, 2 jam, 3 jam aku sudah hampir menyerah tapi segera kulihat Albern dengan stlye casualnya itu, membuat ia terlihat tampan. Ia menuju ke arahku, tapi disebelahnya ada seorang wanita yang bergelayut di tangannya.
Ia dan wanita itu duduk dimeja, aku menatapnya tak percaya berani-beraninya ia membawa perempuan lain di acara kencan kami?.
“kamu mau ngomong apa?” tanyanya
Aku tak menjawab, airmataku sudah terlanjur jatuh, aku tak kuat lagi aku berdiri, ingin pulang.
“loh, kok nangis! Ada apa?” tanya Albern yang berusaha mencegatku
Akhirnya dengan sesegukan ku jawab “ka.. kamu tahu hari apa ini?” tanyaku
“hari jumat kan?” jawabnya bodoh. Bulir-bulir airmataku semakin jatuh.
“bukan… kamu lupa kalau hari ini, tpat sebulan kita pacaran?” emosiku keluar sekarang, aku menghempaskan tangannya dan berlari pergi. Sampai dirumah aku langsung menuju kamar dan menangis di sana, aku menyesal mengenalnya, aku pikir ia romantic dan perhatian, ternyata tidak!. Aku menangis sampai kelelahan dan tertidur.
Besoknya aku bangun, aku mengambil handphoneku, terlihat bayak sekali missed calls dari Albern, pesannya tak ku baca dan langsung ku hapus, aku membencinya.
Tiba-tiba pintu kamarku di ketuk, ternyata mamaku.
“ada apa ma?” tanyaku
“kamu habis nangis ya?” tanya mamaku, aku mengangguk.
“ya udah sekarang temui Albern dibawah, dari semalam dia disitu, mama udah suruh masuk, tapi dia bilang dia akan nungguin kamu di situ” kata mama
“haa?? Semaleman??” tanyaku tak percaya
“iya, cepet temuin sana!” perintah mama
“gak” kataku
“denger dulu penjelasannya”
Aku turun ke bawah dengan ragu-ragu, saat aku membuka pintu terlihat Albern. Begitu ia melihatku ia tersenyum, tapi terlihat bahwa bibirnya pucat, mungkin karena kebingungan. Ia langsung menghampiriku.
“maafin aku ya, aku bener-bener gak inget kalau kemarin itu…”
“gak pa pa, Albern, aku pengen kita putus” kataku. Mata Albern membesar
“kenapa?” tanya Albern
“kamu, udah beda dari yang dulu” kataku
“kamu tahu kenapa aku bisa lupa kemarin hari sebulan kita jadian?”
Aku menggeleng
“karena ini” Albern merogoh saku belakang jeansnya dan mengambil satu kotak putih, ia membukanya dan ternyata isinya adalah cincin.
“selamat ulan tahun” katanya yang kemudian menyadarkanku kalau hari ini adalah hari ulan tahunku.
“yang kemarin itu namanya Devi, dia yang bantu aku milihin cincin ini, karena kemarin aku gak tahu maksud kamu, ya aku ajak aja si Devi, itung-itung rasa terima kasih gw ama dia” jelas Albern
“aku gak pengen kita putus, aku sayang sama kamu “ kata Albern, aku memeluknya, aku meneyesal mengucapkan kata putus
“makasih ya, maaf aku gak ngerti” sesalku
“iya, kita gak jadi putus kan?” katanya lagi
Aku menggelengkan kepalaku.
Aku memandang cincin itu yang kini melingkar di jari manis kiriku. Andai saja mereka tahu bahwa kami benar-benar saling mencintai.
Dalam sebuah hubungan, tentu saja ada yang suka dan tidak suka. Salah satunya adalah Rena sahabatku yang ternyata adalah mantan pacar Albern dulu.
“gak! Loe harus putus ama dia, dia gak bakal bikin loe bahagia Gina!” kata Rena
“gw bahagia kok” kataku lagi
“gak! Sekarng aja lo boleh bahagia, tapi nanti lo bakal edih, gw gak mau sahabat gw sdih” kata Rena lagi
“dia pasti pernah bawa cewek, trus waktu loe marah dia bakal datang dengan bawa hadah dan bilang bahwa cewek itu Cuma temennya kan?” kata Rena yang memang benar.
“gw juga dulu di gituin, jadi jangan percaya sama dia “
Aku memandang cincin itu, ‘benarkah ini hanya bohong belaka?” tanyaku dalam hati.
“loe harus putus sama dia” kata Rena lagi
Aku bingung sekarang, aku duduk sendirian dan menikmati kesunyian. Entah sudah berapa kali Albrn menelponku, sejak Rena mengirimkan sms yang berisi kata putus pada no Albern.
Aku sengaja ke sini, ke tempat kenanganku. Aku bingung semua yang Rena ucapkan sama persis dengan kehidupanku saat ini. ‘apa aku akan jadi seperti Rena?’ pertanyaan itu selalu ada dalam hatiku. ‘apa aku siap jika harus putus dengannya?’ airmataku sudah mulai bercucuran. Aku menutup wajahku dengan tangan dan mulai terisak. Sampai aku merasakan ada tangan yang memegang bahuku, aku berbalik dan mendapati Albern sedang berdiri di belakangku.
“kenapa kamu nangis?” tanya Albern yang kemudian ikut duduk di sebelahku.
“aku tahu pasti bukan kamu yang ngirim sms itu” kata Albern lagi
“Rena adalah orang yang dulu aku cintai” kata Albern dengan pandangan lurus ke depan ke srah matahari yang sudah mulai tenggelam
“tapi, sayangnya dia gak pernah bisa mengerti aku, dia gak bis percaya sama aku! Devi itu temen aku, dia yang selalu bantu aku, dia udah aku anggap kayak saudara! Tapi Rena gak bisa ngerti itu” katanya lagi
“Rena bilang, aku gak akan bahagia jika sama kamu” kataku
Albern menatapku, “bahagia itu, kita yang ciptain, bukan mereka!”
“Gin, dalam sebuah hubungan itu perlu suatu kepercayaan, jika gak punya suatu kepercayaan maka lebih baik bubar aja. Tapi, aku tahu kamu percaya sama aku dan aku percaya sama kamu. Itu yang bikin hubungan kita indah” kata Albern lagi.
Yap, Albern benar dengan semua kata-katanya. Kabahagiaan itu di ciptakan bukan direncanakan. Pepatah bijak mengatakan ‘seseorang yang mencintaimu melakukan hal yang anggap bodoh padahal itu untuk kebaikanmu, melupakan hari-hari yang kamu anggap penting tapi baginya stiap hari adalah penting asalkan bersamamu, juga mempertahankanmu hanya untuk menciptakan kebahagiaan. Jika kamu mendapatkan orang seperti itu jangan pernah ragu untu mengatakan “ya” padanya.

Komentar

Postingan Populer