Putus.
Dunia penuh dengan
ketidakpastian. Sampai terbesit dikepalaku, haruskah aku takut pada kehidupan. Sore
itu, mendung yang biasanya menjadi favorite-ku
berubah menjadi situasi yang paling tidak ku inginkan. Aku rindu matahari dan
segala kehangatanya.
Dua bangku terisi
dipojok starbucks dengan jendela kaca
menjadi pemandangan ironi. Dia melipat lengannya didepan dada. Berulang kali
menghembuskan seakan gusar dengan situasi yang ada. Kami kehilangan topic pembicaraan,
yang biasanya selalu ada tanpa diminta.
Ingin rasanya beranjak
pergi, tapi pendewasaan sering kali menahan untuk melarikan diri. Mataku terpaku
dimeja. Entah apa menariknya meja itu. Sementara dia memandang jalanan yang
terlihat jela dibalik jendela kaca kafe ini.
“Jadi bagaimana?” dia
membuka percakapan.
Aku memandangnya
bingung.
“Semakin kesini,
semakin sudah untuk sejalan”. Dia berkata lagi.
“Jadi? Kamu mau putus?”
kata itu akhirnya ku keluarkan juga.
Dia memandangku singkat
sebelum membuang muka kearah jalanan.
“okay, lets do it then” kataku seakan mengakhiri sebuah pidato
hebat.
Dan begitulah kami
mengakhiri kisah panjang yang kami lalui. Ketika semakin hari semakin berat dan
menjadi beban yang tidak mendapat jalan keluar yang baik.
Sedih memang, jika
mengingat bahwa aku bukan lagi orang yang akan menemani dia, atau memberikannya
dukungan.
Tapi satu beban besar
baru saja pergi, beban dengan pura-pura tidak tahu bahwa dia sudah punya seseorang
yang memberikan kenyamanan dan dapat menggantikan.

Komentar
Posting Komentar