Don’t stay up late


Jay hari ini pulang kantor agak telat. Audit bulanan masih memenuhi kepalanya dan tentu saja menambah berat. Seandainya dia adalah tipe orang yang suka menyicil laporannya, maka hal ini tidak akan terjadi. Tapi sayangnya Jay sama seperti orang kebanyakan yang suka diburu waktu. Besok pagi managernya meminta laporan itu harus ada dimejanya. Jadi dengan berat hati, Jay membawa pulang dokumen-dokumen itu. Jay yakin laporan itu pasti selesai nanti subuh.
Jay membuka pintu apartementnya dan menyalakan lampu. Sehabis cuti liburan yang diambilnya 2 minggu lalu. Jay memang jarang untuk berada di apartementnya. Dia bahkan tidak sempat menyentuh satu gelas pun di dapur. Setelah meletakkan dokumen-dokumen kerjanya diruang TV, Jay pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dia mencoba menyalakan lampu dapur dan mendapati bahwa lampu-lampu kecil didapurnya itu tidak lagi menyala. “sial! Aku harus segera menggantinya” Jay sedikit kesal namun akhirnya ia memutuskan untuk tetap berada didapur untuk mengambil gelas dan membuat kopi untuk menemaninya begadang malam ini.
Jay meletakkan teko kopi diatas kompor listrik dan menyalakan kompor tersebut. Jay menopang tubuhnya di pinggiran kompor dengan kedua tangannya. Dia mulai memikirkan beberapa hal sambil menunggu airnya mendidih. Wooshh Suara seperti angin yang berlalu dibelakangnya membuat Jay terkesiap. Jay mencoba mencari sumber angin tersebut tapi nihil. Mungkin ia hanya terlalu lelah karena pekerjaannnya. Lagipula, Jay tidak membuka 1 jendela pun, jadi bagaimana angin itu bisa masuk.
Air di teko telah mendidih, Jay pun meneruskan untuk membuat kopinya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Jay melirik kebelakang kearah tempat tidurnya yang langsung menghadap kearah ruang TV dimana Jay berada sekarang. Jay ingin sekali segera berbaring disana. Tapi laporannya adalah hal yang lebih penting dari tidur. Jay menyeruput kopinya dan kemudian mulai menyalakan laptop. Jay hanya menyalakan lampu kecil sebagai cahaya untuk membantunya membaca. Jay mematikan sumber cahaya yang lain. Entah sudah berapa lama Jay larut dalam pekerjaannya. Jay kemudian mencoba untuk melemaskan otot-otot lehernya.
Ketika matanya melihat ke layar TV yang padam. Jay menemukan sosok perempuan berbaju merah berada diatas kasurnya. Dia duduk dengan diam menghadap ke arah Jay. Tapi pandangannya menatap kebawah ke arah lantai. Jay kaku pada posisinya, dia mencoba untuk menyakinkan bahwa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang nyata. “lagipula dia tidak bergerak, ini hanyalah halusinasi karena aku terlalu lelah” pikir Jay. Tapi kemudian, sosok itu mulai mengarahkan kepalanya perlahan-lahan ke atas. Jay semakin kaku. Rambutnya yang tipis, perlahan-lahan mulai jatuh ke samping sehingga wajahnya mulai nampak. Jay kini dapat melihat dagunya serta kulit wajahnya yang pucat.
 Dengan usaha keras, Jay akhirnya berhasil menggerakan tubuhnya dan berlari ke luar dari apartmentnya. Dia berlari sekencang mungkin hingga sadar bahwa dia sudah ada di tangga darurat. Jay mencoba mengatur nafasnya yang terengah-tengah, dia melirik jam tangannya, sudah pukul 00:00. Jay mencoba untuk berpikir lagi dengan logikanya, dia terus menerus mengatakan pada dirinya bahwa apa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang nyata.
Jay kemudian duduk di tangga darurat sambil mengatur nafasnya. Tiba-tiba Jay mendengar langkah kaki, terdengar mendekat ke arahnya. Jay tetap tenang karena Jay tahu bahwa selagi mahluk itu mempunyai langkah kaki artinya dia masih berpijak dan hidup. Tidak berapa lama, muncul seorang pria setengan baya dengan pakaian khas sekuriti mendekatinya.
“Selamat malam, pak” sapa Jay
“Malam, pak. Kenapa kok ngos-ngossan?” tanya si sekuriti
 “akh.. gak. Saya olahraga malam aja” jawab Jay. Sejujurnya itu jawaban yang konyol tapi Jay tidak mau menakuti orang lain dengan kejadian yang baru ia alami tersebut.
“Maaf, kalo boleh tahu bapak penghuni unit nomor berapa ya?” tanya si sekuriti mungkin untuk memastikan bahwa Jay memang adalah penghuni dari apartement tersebut.
“unit ***” jawab Jay.
“Oh, kebetulan kalau begitu. Gini pak, kami dapat laporan kalau unit bapak itu 2 minggu ini sering dapat komplain dari penghuni lain. Tapi saat kami mau konfirmasi, selalu tidak ada orang. Ditelpon pun tidak diangkat” jelas si sekuriti.
“2 minggu ini? Komplain apa?” tanya Jay penasaran.
“Iya, kami dapat komplain kalau di unit bapak selama 2 minggu ini selalu terdengar musik dengan volume kencang terutama di sore dan tengah malam. Mohon bapak agar mengecilkan volume musik agar tidak mengganggu penghuni lain”
Ddeegg... jantung Jay berhenti sementara. Apa yang terjadi dikamarnya selama ia pergi berlibur?. “ta... tapi pak. saya selama 2 minggu lagi keluar kota pak untuk cuti. Dan saya gak punya speaker buat putar musik dengan keras. Bapak yakin itu dari kamar saya?” tanya Jay
Si sekuriti terlihat berpikir sejenak.
“Tapi waktu saya ketemu pacar bapak katanya bakalan dikasih tahu” jelas si sekuriti.
“pacar?” Jay keheranan.
“Iya, seminggu yang lalu saya ketemu. Dia lagi berdiri didepan pintu. Kayaknya baru pulang pesta deh, soalnya pake gaun merah waktu itu”
Damn... kepala Jay seperti berputar-putar bingung dengan situasi yang ada.
“kenapa Pak?” si sekuriti khawatir melihat Jay yang telihat frustasi dengan memegang kepalanya. “nggak.. nggak kenapa-kenapa. Iya Pak nanti saya bilangin biar nggak ribut lagi. Saya balik dulu ya pak” Jay berdiri dan kemudian berjalan kembali ke kamar.
“nggak... kalau kita mikirnya positif, maka hal positif yang akan terjadi” kata Jay untuk dirinya sendiri. Jay membuka pintu apartementnya, untung saja apartementnya punya kunci otomatis dan memakai kata sandi.
Jay menemukan apartementnya terlihat seperti biasa. Layar laptopnya masih menyala, kertas-kertas masih ada ditempat yang sama. Jay melihat ke arah kamarnya dan ternyata kamarnya kosong.
“See? Kalau kamu berpikir positif, maka sesuatu yang positif-lah yang akan terjadi”. Jay kembali duduk dan mengecek pekerjaannya. Ternyata pekerjaannya sudah tinggal sedikit lagi. Jay mengambil dokumen-dokumen yang ia perlukan dan kemudian kembali larut dalam pekerjaaannya.
“haa... selesai” Jay menarik nafas lega karena pekerjaannya sudah selesai dengan baik. Dia melirik jam di laptopnya, sudah pukul 02:16. Jay berniat untuk bangun tapi rasa lelah mendera, akhirnya ia menyenderakan tubuhnya disofa. Jay baru akan menutup matanya ketika dia mendengar seperti bola menggelinding dari arah kamarnya. Jay awalanya akan mengabaikan suara itu sampai ia sadar ia tidak punya bola. Jay membuka matanya dan melihat ada bola di lantai.
Jay mundur perlahan ke ujung sofa. Tapi semakin Jay bergerak mundur, bola itu semakin memutar sampai akhirnya terlihat bahwa itu bukanlah sebuah bola melainkan kepala. Wajah dengan senyum mengerikan tengah menatap Jay sekarang. Jay merasa perutnya berputar dan ia ingin muntah. Mata dari kepala tersebut mendadak jadi hitam, dan beberapa detik kemudian, ia melayang ke arah Jay. Aaarrggghh... Jay melompat dari sofa dan berlari ke arah sudut ruangan. Sementara kepala tersebut mendarat ditempat dimana Jay duduk tadi. Nafas Jay semakin memburu karena takut.
Dia ingin berteriak meminta tolong tapi entah kenapa tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tiba-tiba keluar darah dari kepala tersebut. Darah tersebut sangat banyak meluber ke sofa dan kelantai. Jay semakin mual melihat darah yang sebanyak itu ditambah dengan bau khas darah yang memusingkan kepala tersebut. Ditengah penderitaannya tersebut, dia dapat mendengar suara perempuan cekikikan. Suaranya seakan sangat dekat dengan Jay.
Jay tidak dapat bergerak sama sekali. Dia terus mematung di pojok ruangan. Tiba-tiba ia merasa seperti sesuatu yanng dingin dan basah mengenai telapak kakinya. Dia membuka matanya dan mendapati bahwa darah tadi sudah mengalir sampai kakinya. Jay melompat kaget tapi percuma karena darah tersebut sudah memenuhi sebagian ruangan. Jay kemudian melihat ke arah sofa, dan mendapati bahwa potongan kepala tadi sudah tidak ada ditempatnya. Jay baru akan melangkah menuju sofa ketika kakinya menabrak sesuatu, ketika dia melihat kebawah, dia mendapati kepala tersebut ada di kakinya.
Jay kaku.
Perlahan-lahan kepala tersebut berbalik dan menampakkan wajahnya. Kepala itu menutup matanya dan ekspresinya juga datar tapi seluruh wajahnya tertutupi oleh darah. Jay merasa dia akan segera mati, dia benar-benar ketakutan sekarang tapi demi Tuhan badannya tidak mampu bergerak. Dia sudah menangis dari tadi saking takutnya. Jay melihat ke arah kepala tadi. Tiba-tiba mata kepala itu terbuka disertai dengan senyum mengerikan. Dengan cepat, Jay pingsan.


-
Tubuh Jay merasa agak kepanasan. Jay perlahan membuka mata dan menemukan ia tidur dilantai. Tiba-tiba bayangkan mengerikan semalam melintas dipikirannya. Jay yang panik langsung bangun dan melihat kesekelilingnya. Tapi nihil, tidak ada apa-apa semuanya terlihat normal. Tidak ada darah ataupun bau darah sama sekali. Dia melihat keseluruh apartemenya sampai melihat laptop dan kemudian serangan panik yang berikut menyerangnya. Laporan yang harus ia masukan hari ini.
 -

Untung saja waktunya pas, jadi Jay bebas dari amarah managernya. Waktu sudah menunjukkan waktu untuk pulang. Jay memutuskan untuk segera pulang, dia ingin segera berisitirahat. Tiba-tiba kejadian semalam terbayang dikepalanya. Jay berpikir bahwa ia pasti bermimpi buruk semalam. Buktinya besoknya semua kembali dengan normal.

Jay akan masuk ke gedung apartemennya ketika dia melihat seorang pria yang berusaha mencegat dirinya.
“Selamat sore, pak. bapak penghuni unit nomor ***, kan?” tanya pria tersebut.
“Bapak siapa ya?” tanya Jay curiga dengan pria asing yang tiba-tiba bertanya tentang tempat tinggalnya.
“Oh, maaf. Saya sekuriti disini, lagi gak pake baju dinas saya. Begini, saya dapat laporan kalau...” “Oh yang tentang volume musik terlalu keras itu, saya udah dibilangin sama sekuriti yang satunya” potong Jay.
“Maaf, gimana? Sekuriti yang mana ya pak?” tanya si sekuriti itu dengan bingung.
“Iya, sekuriti yang satunya lagi. Semalam saya dikasih tahu-nya” jawab jay
“Maaf pak, untuk tadi malam sampai hari ini, sekuriti yang bertugas Cuma saya.” Kata si sekuriti itu. Jay kaget.
“Tapi semalam dia pakai baju sekuriti kok, semalam ketemu sama saya di tangga darurat” jawab Jay lagi.
“wah... saya gak tahu harus ngomong gimana, tapi sekuriti semalam Cuma ada saya dan juga ada aturan disini kalau malam kita pakai baju bebas, nggak pakai baju dinas”
Deg. Jantung Jay berdetak kencang, terus yang ia temui semalam, siapa? “oh ya udah deh pak, saya gak peduli juga. Iya nanti saya usahain biar musiknya nggak ganggu. Makasih” - Jay masuk ke apartmentnya. Hari jadi lebih gila kalau dipikirkan. Lebih baik sekarang ia mandi dan istirahat.


Jay keluar kamar mandi dan menemukan 2 missed call dari Hen, teman kantornya. Jay keluar menuju ruang TV dan menyalakan TV agar tidak sepi sementara dirinya berbaring di sofa. Dia baru akan menelepon Hen, saat panggilan masuk dari Hen muncul dilayar ponselnya.
“Hallo Hen, sorry gue baru selesai mandi.” Kata Jay
“Cieileh yang bawa cewek, telpon gue gak diangkat.” Kata Hen Jay mengerutkan dahinya, bingung. “Cewek?” tanya Jay
“Iya, tadi gue telpon yang pertama angkat suara cewek. Cuma bilang hallo abis itu dimatii. Gue telpon lagi udah gak diangkat.”
“Hen, gue lagi gak sama cewek, gue lagi sendirian” kata Jay mulai panik. Bayangan kejadian semalam membuat ia lebih takut lagi.
“Gimana? Gimana? Trus tadi yang angkat telepon gue siapa dong?” tanya Hen
“gue gak tahu... “ jawab Jay. Jay mengepalkan tangannya emosi dan juga takut tapi saat ia membanting tangannya ke sofa, ia merasakan ia memegang sesuatu... sesuatu seperti.... rambut yang panjang.
“Hen...”
Hening.
 Telepon sudah putus.

Komentar

Postingan Populer