Lembar Hitam
Hidup itu punya tawa, tangis, emosi dan lain-lain. Aku
juga mengalami itu, ada saat dimana aku tertawa lepas seakan tiada beban, dan
ada juga saat dimana aku menangis, menangis haru, sedih ataupun sedu. Aku
merasa ‘agak’ berbeda dengan mereka. Mereka yang masih punya kenangan indah,
masih bisa berbagi kasih, bahkan ada peneman saat bertumbuh dewasa. Aku tahu
tak ada yang abadi di dunia ini, tapi… kadang aku menyalahkan orang lain,
bahkan diri ini sendiri. Aku merasa ada yang hilang dari pandangan yang lalu.
Jika boleh memilih aku tak ingin jadi dewasa, aku ingin hidup terus dalam masa
kecil bahagiaku. Yang dipenuhi kebahagian, dipenuhi kasih sayang dan lengkap.
Kadang hati kecilku bertanya, “mengapa aku berbeda?
Mengapa bukan mereka? Mengapa harus aku? Sekuat itukah aku? Apa maksud Tuhan?”.
Jujur rasa iri itu selalu ada, melihat mereka datang bergandengan, diberi
nasehat. Tuhan, aku juga menginginkan hal yang sama sekarang. Airmataku menetes
saat memikirkan itu, seandainya waktu itu adalah film, maka akan kugantikan
skenarionya. Aku tak mau Tuhan, aku tak mau!. Tapi apa dayaku? Engkaulah yang
menentukan!.
Aku merasa sangat miris saat melihat mereka memaki ibu
mereka. Yang mengutuk ibu mereka. Mereka ak prnah tahu rasanya kehilangan sosok
tersebut, bagaimana rasanya saat kau datang kau hanya melihat ibumu tertidur
kaku. Matanya terpejam dan kau tak akan melihat pancaran kasih hangat dari mata
indah tersebut. Saat kau pegang tangannya yang dingin dan kaku. Tangan yang
dulu membantumu belajar berjalan, tangan yang dulu menggendongmu meski ia
tengah mengerjakan perkerjaannya yang lain.
Bersyukurlah kalian yang masih merasakan hangat cinta
kasih ibu. Karena suatu saat, walau kau sudah berhasil, kau telah memiliki
segalanya, kau masih akan merasakan kurang pada dirimu karena kau tak lagi
merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang. Kau hanya akan merasakan
dinginnya hatimu tanpa kehangatan cintanya. Dia orang paling berharga dalam
hidupku. Jika pun bisa, saat itu aku akan memohon pada Tuhan agar menukar
nyawaku dengan nyawanya. Terasa berat, terlalu berat untuk melewati masa dimana
kau menuju kedewasaan tanpa ada hadirnya. Aku belum siap, dan mungkin tak siap.
Tapi hidup memaksaku, memaksaku untuk tetap menjalani hidup ini, dengan atau
tanpa dia.
Aku tak pernah membayangkan, mimpi pun tidak. Sekarang
ini, aku 17 tahun dan aku merasa seperti buta atau sedang berjalan dalam sebuah
terowongan gelap. Aku tak tahu harus bagaimana, dan harus seperti apa. Aku
hanya bisa maju kedepan tanpa bisa melihat ada apa diujung sana atau apa yang
terjadi sekarang.
Mama adalah sosok yang sangat aku kagumi, kerja keras
dan disiplinnya itu yang membuatnya berhasil. Ekonomi kami naik karena kerja
keras mama. Aku ingat saat dulu aku selalu ikut berbelanja dengannya, ia selalu
mandiri dalam setiap pekerjaannya juga ia selalu dapat berpikir maju. Akh, aku
merasa ingin kembali…. Aku ingat dulu, aku sering membantunya di warung kecil
kami, ia selalu tersenyum saat melihatku membantunya, sambil sesekali berkata
“ini baru anak mama, udah pinter, rajin..” atau sekedar memperhatikan “kamu
udah mulai gendut ya?”. Aku merindukan ada yang berkata seperti itu lagi.
Saat aku berharap ia akan melihatku tumbuh dewasa ia
malah pergi. Sakit kanker yang dideritanya membuat ia kembali pada sang Bapa.
Disatu sisi aku senang karena kini ia tidak akan berteriak kesakitan lagi tapi
disatu sisi aku sadar, orang yang ku kasihi telah pergi. Saat yang lain
memanggil ‘mama’, aku akan memanggil pada siapa?
Sejak saat itu aku berubah, aku berusaha meneruskannya.
Tapi aku hanya sorang anak umur 10 tahun yang tak mengerti dengan situasi waktu
itu, seharusnya waktu itu adalah masa dimana aku bergaul dengan tman-teman.
Tapi kini, aku menjadi orang ‘sok’ dewasa pada waku itu. Dan aku gagal!
Kau tahu bagaimana rasanya? Saat hari kelulusan SD,
semua anak datang dengan orang tua mereka yang lengkap. Sedangkan aku? Aku
hanya bisa menangis dibelakang sekolahku karena aku merasa kurang, sangat
kurang. Yang ada hanya oma-opaku, sedangkan papaku sedang sibuk. Waktu disuruh
maju, aku tak mau, entahlah… aku jadi penakut, penakut untuk di ejek lagi, aku
maju bersama mama dan papa. Aku tak mau! Aku duduk di paling belakang dan
melihat oma dan opaku yang maju. Saat iu aku merasa sangat sendiri, aku merasa
kesepian. Perlahan-lahan pribadi yang selalu ramai dan ceria itu hilang dalam
diriku.
2 momen terbaik stiap tahun adalah ulan tahun dan
natal. Saat ada mama, ulan tahun itu selalu ku tunggu, rasanya tak sabar
mencicipi kue buatan mama dan menunggu hadiah ulan tahun dari papa dan mama.
Tapi, saat ia sudah tiada, aku merasa kosong saat ulan tahun. Jangankan kue,
bahkan ucapan pun tidak, papa selalu sibuk dan karena kepribadiannya yang
dingin dan keras seperti es maka membuat hubunganku dan papa jadi makin jauh.
Sejak itu, aku mulai melupakan momen spesial ulan tahun. Bagiku ulan tahun
hanya sebuah peristiwa pergantian umur yang tak harus dirayakan atau dingat.
Aku benci mengingat ulan tahun karena aku selalu ingat mama dan aku tak mau.
Saat natal juga begitu, natal sudah tak seperti dulu, saat kita sekeluarga
pergi gereja, pakai pakaian baru dan makan-makan. Bukan karena materi yang
membuat senang, tapi karena saat itu aku merasakan kehangatan itu. Tapi bagiku,
natal tetap spesial meski aku tak terlalu menunggunya.
Saat ulan tahun ke 15, aku menciptakan ‘tradisi’ku
sendiri. Aku menunggu sampai pukul 00.00, lalu akau berdoa, mngintrospeksi diri
dari peristiwa di umur yang lalu, dan kemudian membuat harapan pada umur yang
baru. Lalu memakan sendiri kue ku sendirian. Entahlah… aku pikir aku hanya
ingin sendiri saat momen itu. Hal yang sama juga aku lakukan saat pergantian
tahun, aku menuliskan permohonanku dan kemudian men-chek apa-apa saja yang
brhasil dan gagal!.
Tapi, kini aku sadar, tidak semua meninggalkanku, aku
masih punya Tuhan yang selalu ada untukku, yang kasihnya selalu kurasakan dalam
hidupku, dalam setiap hmbusan nafasku. Aku jadi dekat dengan Tuhan, saat aku
belajar untuk melayani dia, walau hanya di tingkat sederhana tapi aku
bersyukur, di masa mudaku ini, aku sudah diperbolehkan melayani Tuhan.
Menyatakan kebenaran Firmannya dan kemuliaan namanya. Aku ingat saat pertama
kali diadakan program puasa, saat itu adalah hari dimana aku melayani Tuhan
unuk pertama kalinya dan saat itu, juga adalah hari peringatan 6 tahun mama meninggalkan
kami. Dan hari itu juga Tuhan berikan keajaiban yaitu membaiknya hubunganku
dengan papa. Papa yang sekarang adalah papa yang aku kenal saat masa kecilku.
Aku bersyukur Tuhan dengar doa-doaku, Thank’s Jesus,
you are amazing!. Natal kemarin untuk pertama kalinya selama mama pergi, papa
mngucapkan selamat natal! Aku bahkan sampai menangis karena itu. Tapi, terima
kasih buat BAPA-ku yang kekal, Jesus. Buat Papa, I love u dan buat Mama, I love
u mom, you are my biggest inspiration.
Aku hanya berharap menuju kedewasaan ini, aku bisa
jadi lebih baik lagi, tidak kekanakan lagi, lebih bisa berpikir panjang dan
boleh berubah jadi orang yang makin dewasa dalam Tuhan.
Itulah lembar hitamku, aku hanya ingin membaginya agar
mungkin kalian perlu belajar dari pengalamanku. Saat punya lebar hitam maka
segera minta Tuhan menutupnya dan minta ia memberikanmu lembar putih yang bisa
kau isi dengan hal-hal yang positif.

Komentar
Posting Komentar