LOVE PHOTOGRAPH


Mentari pagi datang lagi, seolah tak pernah bosan untuk datang, dan datang lagi. Aku meregangkan sedikit tubuhku, haaaa rasanya tak rela meninggalkan kasurku yang empuk ini. Tapi, sebelum ‘alarm’ku datang dan marah-marah, mending aku bangun.
Hari ini awal semester, seneng banget deh. Aku melangkah ceria ke sekolah, tapi pemandangan aneh ditangkap mataku. Itu ‘kan Felis ama papanya, mau ngapain ya? Pertanyaan itu terus ada dalam pikiranku. Aku melangkahkan kaki mendekati mereka,
“fel…” panggilku
Si pemilik nama berbalik ke arahku, dan langsung menghambur ke pelukanku
“maafin gw ya ‘Sil” katanya dalam tangis
“emang loe kenapa?” tanyaku
“gw musti ikut papi gw berangkat ke Bali” katanya
“itu, berarti loe bakal pindah??” tanyaku, aku masih tak percaya
Felicia hanya mengangguk sambil terus menangis
“maafin gw ya Sil, ga bilang-bilag ke elo” katanya
Aku hanya bisa diam, sahabatku akan pindah? Ohh God, please make this a nightmare! Doaku dalam hati, tapi tetap saja tak bisa membangunkanku. Ini bukan mimpi!
Setelah menyelesaikan administrasi, Felicia dan papanya pun pergi, aku hanya bisa tersenyum kecut, aku akan sangat merindukanmu sahabat….
Hari yang semula aku bayangkan akan cerah, malah jadi gelap. Aku duduk di pojokan kelas sambil terus memandang bangku kosong yang harusnya ditempati oleh sahabatku Felicia. Tiba-tiba ada guru yang masuk, Pak Frans membawa seorang siswa baru nampaknya, karena aku belum pernah melihatnya disekolah ini.
“nah anak-anak ini adalah teman baru kalian” kata Pak Frans
“perkenalkan nama saya Wiliam Rogers, panggil saja saya Liam” katanya sambil tersenyum, manis juga nih cowok, coba kalo Felis ada…..
“nah, Liam! Kamu duduk di pojok belakang sana!” kata Pak Frans sambil menunjuk kearah bangkuku. Hmmm, memang hanya kelas kami yang muridnya kurang satu karena Felicia yang sudah pindah.
Dia berjalan kearah bangku dan kemudian duduk disampingku, dia menatapku lalu tersenyum, aku membalas senyumnya sepintas.
“siapa namamu?” tanyanya
“aku?” aku menunjuk ke diriku sendiri
“ya iya kamu”
“ohh, aku Prisil” kataku
“aku Liam”

Saat istirahat, aku akan pergi ke kantin tapi, langkahku tertahan sebentar melihat Liam yang sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah kamera LDR ia keluarkan lalu ia mulai memotret hampir seluruh isi kelas. Ia mengarahkan lensanya padaku yang masih berdiri bingung melihatnya.
“bisakah kau senyum sedikit?” tanyanya
“ekh, loe mau foto gw?”
Dia menanggukan kepala, dan mulailah aku berpose layaknya model iklan sabun cuci piring (hmmm seharusnya model sabun mandi ya??)
“udah akh, gw capek! Pengen makan nih laper!” kataku
“loe gak ke kantin?” tawarku
Liam menggeleng. Aku pun dengan semangat 45 menuju kantin dan mulai memesan menu kesukaanku.
Sudah hampir sebulan ini, aku mengenal Liam. Dia orang yang pendiam, suka menyendiri dengan kameranya itu, entah ia pergi kemana, tak ada seorang pun yang tahu.
Aku melihat kalender dan ternyata besok adalah ulang tahun Felicia, seandainya dia masih ada disini, tentu saat ini kami pasti sedang sibuk sekarang. Hari ini aku bosan sekali, dirumah tak ada orang. Aku pun memutuskan pergi jalan-jalan sebentar, lagipula ada keperluan juga yang harus ku beli.
Aku memasuki satu pusat perbelanjaan, tapi langkahku terhenti saat melihat Liam sedang duduk di depan mall itu sambil memegang kameranya, aku pun menghampirinya.
“Liaam!” panggilku
Sosok itu pun berbalik kearahku
“Prisil”
“ini” kataku menyodorkon tissue juga air mineral
“thanks” katanya sambil tersenyum
“loe ngapain disini? Pake bawa-bawa kamera lagi! Loe wartawan ya? Atau paparazzi? Artis mana yang lagi loe incar fotonya?” tanyaku tanpa henti
“apaan sih, aku disini tuh buat foto sunset, kalo lihat sunset dari init uh jadi lebih indah, ada seninya” katanya
“ohhh, kamu fotografer ya?” tanyaku
Dia menggeleng “bukan, aku hanya…..” dia menggantung kata-katanya “suka mememotret” katanya
Liam melirik jam tangannya “aku harus pergi dulu ya, bye” katanya.
Aku masuk ke mall itu dan melihat sebuah pengumuman lomba fotografi, hadiahnya jalan-jalan ke Bali!” Bali! Itukan tempat tinggalnya Felicia, hmm tapi gw kan ga bisa fotografi! Tiba-tiba ingatanku mengingat siapa yang harus dimintai tolong.
Aku menuju kelas dengan buru-buru, biasanya jam segini, Liam sudah berada di kelas, begitu masuk kelas, aku tak menemukan Liam melainkan hanya tasnya dan sebuah amplop besar berwarna coklat. Aku medekati amplop itu dan melihat isinya. Ternyata isinya adalah cetekan foto dari hasil karya Liam, dan harus ku akui dia sangat berbakat, benar-benar bagus!.
Ketika aku sedang melihat, Liam datang.
“ini, loe yang motret ya?” tanyaku
“kenapa, jelek ya?” tanyanya
“jelek darimana, ini mah bagus banget! Keren banget, wah punya bakat loe” kataku
Dia hanya tersenyum, aku melihatnya dari bawah sampai atas, ia Nampak berantakan hari ini, baju seragamnya agak basah
“loe darimana, kok bisa basah gitu seragam loe?” tanyaku
“oh, itu tadi aku ngantuk jadi ke toilet buat cuci muka, jadi mungkin kena air kali” jawabnya
“oh iya, mau gak bantuin gw?” tanyaku
“bantuin apa?”
“loe kan jago tuh, gw kirimin satu foto loe ya? Please!” mohonku
Dia berpikir sejenak
“tapi, itu namanya kamu curang, kan bukan kamu yang motret! Nanti bakal kena sanksi loh” katanya
Benar juga, bisa-bisa bukan ke Bali malah ke penjara… iuuuu. Aku bergidik ngeri
“trus gimana donk?” tanyaku
Liam hanya menangkat bahu. Aku berpikir sejenak dan tiba-tiba…
“ahaaa, gw punya ide” kataku girang, aku menatap Liam dengan tajam
“ada apa?” tanya Liam bingung
“ajari aku fotografi” pintaku
“memangnya kamu bisa?”
Aku menangguk pasti, Liam berpikir sejenak
“oke, datang jam 3 di taman anggrek, kamu punya kamera LDR sendiri kan?”
Aku menangguk pasti.
Jam 3 aku pun menuju ke taman itu, disana aku menemukn sosok yang ku cari, rupanya ia telah mulai duluan
“Liam!!” teriakku
Liam menengok kearah ku dan sedikit tersenyum
“udah mulai aja” kataku sebal
“iya, maaf… maaf, abisnya objeknya bagus-bagus disini! Eh iya, tema fotografinya apa?” tanya Liam
“temanya, wonderful nature”
“hmm kalo itu gampang”
“oke, fighting!!” kataku berapi-api, Liam hanya tersenyum geli
Aku dan Liam berjalan mengililingi taman itu, ketika sampai di puncak bukit ditaman itu, Liam berhenti, ia memperhatikan langit sore di depannya.
“coba kamu potret itu!
Aku pun mengarahkan lensa kameraku di langit itu dan mulai mengambil beberapa gambar.
“sini aku lihat hasilnya” kata Liam
Dia melihat gambarku dan menggelengkan kepalanya
“gambar kamu ga ada focusnya, coba kamu pas-in sama cuaca dan warna langitnya, biar ada kontras warna yang bagus” kata Liam
Aku pun mengambil gambar lagi dan lagi sampai tak terasa sudah hampir jam 5 sore. Aku duduk di sebelah Liam yang masih asik menatap langit dan danau didepannya.
“loe emang suka fotografi ya?” tanyaku
Liam menggeleng “aku hanya suka mengabadikan momen-momen indah” katanya sambil terus menatap lurus ke depan
“hey! Kamu kan udah sebulan duduk sama aku, menurut kamu, aku itu kayak gimana?” tanya Liam tiba-tiba
“menurut gw, loe itu orangnya menyenangkan, pendiam, tertutup dan gak suka keringetan” jawabku
“gak suka keringatan?” tanya Liam
“iya, Karena loe tuh ga pernah olahraga, pasti karena ga suka keringetan” tebakku
“hmm, iya aku memang tak suka berkeringat”
Sudah sebulan ini, aku kursus kilat fotografi pada Liam, dia sangat banyak membantu, akhirnya kau tahu juga cara mengambil objek, mengatur kontras dan lain-lainnya. Hari ini aku akan mengantarkan foto hasil karyaku sendiri, mudah-mudahan saja menang!
Ketika selesai mengirimkan hasil fotoku, ada sms ada Liam


Form: Liam
To     : Prissil
Subject:
Temui aku di bukit taman anggrek sekarang!

Aku pun langsung pergi kesana, dan menemukan Liam sedang duduk dn menatp lurus ke depan.
“ada apa?” tanyaku
“bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang yang sangat kamu sayangi?” tanya Liam
“seperti Felicia?” tanyaku
Liam menangguk
“rasanya seperti makan makanan tanpa garam, sangat tidak enak! Sepi akan jadi teman kita, dan itu menyebalkan!” jelasku. “memangnya kenapa?” tanyaku
“Prissil, bagaimana perasaanmu kalau aku meninggalkanmu?” tanya Liam, aku kaget.
“gw bakal sedih banget, karena saat ini, Cuma elo yang biking gw nyaman” kataku
Diam menghampiri kami, sampai kau menyadari bahwa Liam tak lagi sadar, aku pikir ia tertidur tapi ternyata ia pingsan, aku berlari mencari pertolongan dn kemudian membawa Liam ke ruamah sakit. Dalam hati aku terus bertanya, apa yang terjadi pada Liam.
Seminggu sudah Liam tak masuk, dan sepanjang hari-hari itu aku terus penasaran dan kesepian. Aku mencoba mendatangi rumah sakit itu, api ternyata Liam telah keluar dari Rumah sakit itu. Sampai kahirnya aku menerima sms dari Liam!
Aku berlari kecil menuju bukit taman anggrek tempat yang ada di pesan Liam. Aku mendapatinya sedang berdiri menatap matahari yang akan kembali ke ufuk barat. Dia berbalik menatapku,
“kamu udah baikan?” tanyaku dengan bahasa lembut
Liam menangguk
“kamu sakit apa?”
“sakit hati” katanya
“jangan bercanda aku serius
“ya, aku memang sakit, di sini!” katanya sambil memegang dadanya “dari kecil, memang ada masalah dengan hatiku yang sangat parah, dan bisa menyebabkan aku pergi!” katanya
Aku menatapnya tak percaya, kenapa? Kenapa ia tak memberitahuku?
“prissil, aku ingin berkata sesuatu padamu, aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan, mungkin ini adalah efek dari rusaknya hatiku, tapi ini hanya aku rasakan ketika aku bersamamu. Kalau memang hati ini salah, maafkanlah aku, aku hanya belum pernah merasakannya sebelumnya. Aku mencintaimu, hatiku mengatakan itu padaku” kata Liam
Aku tersenyum dan memeluknya
“kalau kau mencintaiku, teruslah berjuang untuk hidup dan  tetaplah ada disisiku, aku hanya ingin terus bersamamu.” Kataku
“aku menyukai fotografi karena aku ingin mengabadikan semua yang aku lihat di hidupku yang singkat”
Aku menggeleng, “berjanjilah padaku kalau kau akan ada bersamaku, please!”
“maafkan aku” Liam melepaskan pelukan kami dan kemudian berlari menjauhiku, aku coba tuk mengejarnya namun ia tak kudapatkan. Perlahan bulir-bulir mataku menetes, “Tuhan jangan ambil dia!” doaku dalam hati.
Dua hari ini, aku sama sekali tak bisa berkomunikasi dengan Liam sampai ku dapatkan lagi sms darinya. Aku berjalan pelan mencoba mengenali sosok pria di depanku ini. Dia berpakaian agak tebal dengan sweater dan syalnya.
Pria itu berbalik ternyata benar itu Liam, aku berlari dan menghambur dan pelukannya.
“gw kangen banget ama loe” kataku
“aku juga!” katanya
“ini” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop coklat. Aku membukanya, ternyata fotoku yang diambil Liam pertama kali. Aku menatap Liam yang saat ini juga sedang menatapku.
“makasih, makasih karena sudah meyadarkanku”
“menyadarkan apa?” tanyaku
“menyadarkan bahwa, walau hati ini, bukan hatiku tapi ia menyatu dengan tubuhku dan ia tahu apa yang kurasakan, bahwa aku jatuh cinta dan ia memberitahuku seperti apa cinta itu! Dan kamulah yang membuat aku sadar bahwa aku harus percaya pada hatiku sendiri walau itu bukan hatiku” kata Liam tersenyum
Dia memegang kepalaku dan mengecup keningku
“tapi, maafin aku kalau mungkin besok aku tak bisa menggenggam tanganmu dan tak berada di sisimu tapi aku ingin kamu tahu, kamu selalu ada dalam hatiku dan dalam setiap doaku.”
Itulah kata terakhir Liam sebelum dia pergi meninggalkan aku dan orang-orang lainnya yang mencintainya.
Cinta sejati berasal dari hati yang tulus, kamu harus menyentuhnya dihatimu agar kamu tahu apa yang dinginkan hatimu. Cinta sjati bukanlah dia yang selalu bersamamu, tapi dia yang selalu mengingatmu di hati dan didalam doanya.

Komentar

Postingan Populer