Someone Like You (*cerpen Baru Gw*)


1 tahun sudah semenjak peristiwa itu, peristiwa saat Rendy menyatakan cintanya padaku dan juga Cherly. Hmm entah mungkin karena kami bersahabat makanya cinta kami pun harus pada orang sama. Hari ini aku kembali ke SMAku, tempat dimana aku megenal Rendy juga sahabatku Cherly. Aku menatap setiap sudut bangunan ini, tampaknya ada yang berbeda, selain karena warna cat dinding sekolah itu yang di rubah, ruangan-ruangan pun sepertinya sudah di ubah. Entah mengapa, tiba-tiba aku jadi merindukan sekolah ini, keadaan sepinya karena memang sudah libur menambah betah aku duduk di bawah pohon ini. Kenangan-kenangan itu kembali hadir dalam ingatanku, aku melihat kearah belakang tempat duduk yang terbuat dari beton itu. Ternyata Rendy benar,  masih tetap ada nama kami brtiga di salah satu sudut di tempat duduk itu, walau sudah sedikit tertutup lumut.
“kamu mau ngapain Ren?” tanya Cherly pada Rendy, yang dari tadi sibuk mencari sudut yang tepat dengan spidol permanent ditangannya. “udah tenang aja, ini itu akan jadi tempat kenangan kita bertiga” kata Rendy sambil menulis di sudut tersebut. “kok kamu nulisnya disitu? Gak keliatan donk!” kataku karena memang dia menulis nama kami di sudut yang tidak kelihatan. “ini special, Cuma buat kita bertiga” katanya bangga. Aku dan Cherly hanya bisa mengelengkan kepala kami, Rendy itu memang selalu punya segudang ide-ide cemerlang dan juga konyol.
Rendy… apa kabar dia di Aussie? Apa di sudah punya pacar? Hmmm padahal aku dan Cherly saja belum dapat melupakannya. Entah, bagiku satu tahun bukanlah waktu yang cukup untuk melupakan sosok Rendy dari ingatanku. Aku masih ingat dengan candaannya, tawa khasnya, lesung pipitnya bahkan mata hazelnya masih terekam jells di memori otakku. Apa dia tahu kalau aku merindukannya? Entahlah, sudah setahun ini aku tidak pernah mendapatkan kabar apapun dari Rendy. Aku menarik napas panjang kemudian segera beranjak  pergi dari tempat kenanganku.
Malam ini, aku kembali memandangi layar komputerku, ada beberapa tugas akhir semester yang harus segera aku kumpulkan, tiba-tiba aku mendapat sms dari Martin, teman satu kelompokku bahwa dia sudah mengirimkan tugas kelompok kami yang dibuatnya via email. Aku pu segra membuka emailku, dan yang membuat aku terkejut adalah satu email dari Rendy yang dikirim kemarin
Subject :
Hay!! Kucrung!! J
Gw mo balik nieh, pengen liburan. Loe jemput gw ya di bandara tanggal 8 nanti, awas ya loe kalo ga jemput! Hahaha
Bye Kucrung

Wow!! Ku kucak mataku beberapa kali untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Dan benar, aku tidak salah lihat! Huuaaa aku senang sekali saat tahu Rendy akan datang kemari! Tapi, apa Cherly tahu? Hmm besok saja ku tanyakan padanya. Ehhh, kenapa dia masih memanggilku kucrung? Sialan! Aku tersenyum kecil, aku memang di panggil kucrung oleh Rendy sdangkan Cherly dipanggil Kucring, entah darimana nama itu berasal tapi yang jelas nama itu muncul di kepala sang jenius ‘Rendy’.
Hari ini aku sangat bersemangat, karena besok Rendy akan datang. Aku pun segera mencari Cherly, aku yakin dia pasti juga sudah tahu tentang kabar ini, jadi akan lebih baika jika kami pergi bersama-sama. Aku naik ke lantai 3 gedung utara karena memang disitulah kelas Cherly berada. Aku mengarahkan pandanganku ke seluruh kelas itu, dan yap mataku menangkap sosok gadis cantik yang tengah… bermesraan? Dengan cowok lain? Aku terdiam sejenak karena aku ingin melihat situasi yang pas untuk dapat menyapanya. Tapi, sebelum aku mendapatkan timming yang pas ternyata gadis cantik itu sudah melihatku yang terpaku menatap kearahnya dan sosok cowok di sebelahnya. Dia kemudian segera menghampiriku.
“kenapa kamu disini?” tanya Cherly
Aku segera menyadarkan diriku “eh, a.. aku Cuma mau bilang, kamu jadi jemput Rendy gak besok?”
Ekspresi Cherly kemudian terlihat seperti orang yang kaget, “emang Rendy mau datang besok?” tanyanya lagi
“iya, kamu gak tahu ya?”
“belum tahu!”
“Cher…”
“apa?”
“dia itu, siapa?” kataku sambil menunjuk kearah cowok yang tadi duduk di samping Cherly
“dia, pacar gw Ren…”
“kamu udah punya pacar?”
Cherly mengangguk.
“trus gimana sama Rendy? Dia pasti kecewa!”
“gw gak bisa nunggu satu harapan yang gak pasti” jawab Cherly lirih
Aku pun melangkah keluar kelasnya, hmm gimana ya kira-kira reaksi Rendy?.
Besoknya, aku bersiap menuju bandara, saat di perjalanan aku mendapat telpon dari Cherly dan ternyat Cherly pun ingin ikut menjemput Rendy.
“Renii” teriak Cherly
Aku menoleh kearah suara itu, dan dapat kulihat sosok cantik sedang setengah berlari kearahku.
“sorry ya, baru datang! Macet banget!” kata Cherly
“iya, ga pa pa, gw juga baru datang kok” kataku
“oh ya Ren, jangan bilang ke Rendy ya kalo gw udah punya pacar!” kata Cherly
Mendengar hal itu, aku sedikit kaget, tapi ya sudahlah demi sahabatku aku pun mengangguk. Tak lama kemudian, sosok yang telah lama menghilang dari pandangan kami muncul juga, dengan jaket kulit, kacamata dan juga kopernya yang kecil itu beserta beberapa tas kecil yang di genggamnya. Tak ada yang berubah dari dirinya kecuali dia sudah agak kelihatan lebih dewasa dengan stlye-nya. Baru saja aku ingin menghampirinya, Cherly telah berlari duluan dan langsung memeluknya. Ada sesuatu yang aku rasakan dalam hatiku, sakit seperti yang dulu kini ada lagi tapi, kali ini aku harus mencoba memakia topeng terbaikku, wajah yang tersenyum.
Aku berjalan pelan kearah mereka, mereka berdua berpelukan saling melepas rindu mereka masing-masing. Aku, mencoba untuk tidak terlalu dekat dengan mereka, aku tak ingin jadi ‘pengacau’ bagi mereka sekarang. Aku terus menunggu sampai mereka berdua melepaskan pelukan mereka. Aku berjalan menuju kearah mereka, Rendy melihatku, dia tersenyum, ahhh akhirnya aku dapat melihat  lagi senyumnya itu.
“hay!” sapa Rendy
“hay!” balasku
“gimana keadaan kamu?” tanya Rendy
“baik, sini biar gw bawa koper loe”
“oh, thanks”
Aku menarik koper kecil yang bisa dibilang kecil ini,di belakang, sementara Rendy dan Cherly sudah berjalan duluan.
“kamu kok kurusan ya Ren?” tanyaku saat sampai di mobil
“eh, iya banyak tugas disana”
“tugas sih tugas, tapi kok jadi cungkring gini!” ledekku yag dibalas tawa oleh Rendy juga Cherly.
Sorenya kami bertiga, pergi ke tempat favorite kam, yaitu teras belakang rumah Cherly. Ternya aku sampai duluan, Rendy belum datang. Aku dan Cherly langsung menuju teras belakang, akmi berdua kemudian bercerita tentang perbedaan-perbedaan Rendy yang dulu dan yang sekarang. Kami tertawa puas saat membicarakan tentang kekonyolan Rendy dulu.
“Ren, loe masih suka ya sama Rendy?” tanya Cherly
Aku hanya diam, aku rasa harus dia tahu bgaimana perasaanku pada Rendy walau tanpa ku ucapkan.
“tapi Ren, tadi, gw udah mutusin cowok gw! Gw gak tahu kenapa tapi yang jelas saat gw liat Rendy lagi, gw tahu kalo gw masih dan akan selalu cinta sama Rendy” akuh Cherly
Aku hanya bisa diam, saat itu dadaku terasa sesak, sampai bernapas pun terasa menyulitkan. Tapi tetap, aku harus bisa menahan ini semua. Baiklah, aku akan mengalah! Aku hanya akan menjadi teman Rendy! Aku menguatkan hatiku! Air mataku bahkan hampir jatuh, tapi tak ku biarkan. Aku tersenyum kearah Cherly.
“ya, Cher, gw dukung loe buat jadian sama Rendy” kataku mantap
Cherly menatapku kemudian memelukku
“loe emang sahabat terbaik gw deh” katanya lagi.
Tidak lama kemudian Rendy datang, kami mengobrol soal kehidupan kami masing-masing. Saat kami sedang mengobrol kulihat Rendy dan Cherly semakin dekat, terkadang mereka saling berangkulan mesra. Haaa, entah bagaimana caranya agar perasaan in jangan sampai tampak di depan mereka. Aku benar-benar tidak kuat lagi, akhirnya aku pun mencari alasan untuk dapat pulang.
“ehmm,eh gw balik duluan ya, gw ehm.. mo nganterin nyokap gw mo belanja” alasanku
“ohh, ya udah salam deh buat nyokap loe” kata Cherly
“yah, loe udah harus balik ya sekarang? Jangan dulu deh!” kata Rendy
“sorry ya, lain kali aja kataku
Aku  tidak langsung pulang, aku ketempat favoriteku, belakang taman kota, disitu ada kolam kecil dan banyak pohon-pohon pinu yang masih kecil. Aku duduk di bawah pohon pinus yang kecil dan kemudian menumpahkan semua isi hatiku. Tuhan haruskah kulakukan ini semua? Apakah aku berdosa jika tidak melakukannya? Aku menutup wajahku, kali ini bulir-bulir airmataku tidak dapat ku tahan lagi!. Aku menangis! Karena sakit, satu tahun akumenunggunya, menolak semua pria yang menyatakan cintanya padaku, dan ini yang ku dapatkan? Hmmm hati ini, takkan sanggup lagi! Karena kelelahan menangis aku pun tertidur disitu, sampai aku sadar sudah sangat gelap, aku mencari ponselku, benar saja sudah ada puluhan missed call dari mom dan daddyku. Kulihat jamnya, ya tuhan pantas saja ini sudah pukul setengah sepuluh malam. Aku pun bergegas pulang.
Sampai dirumah, dapat kulihat jelas wajah panic dari mom dan daddyku, karena memang aku tak pernah pulang selarutini tanpa mmberitahu mereka.
“kamu gak apa-apa sayang?” mom bertanya dengan nada cemas
“gak pa pa mom, maaf sudah membuat mom dan daddy khawatir” sesalku
“tadi, Rendy kesini nanyain kamu, mnding sekarang kamu telpon dia karena tadi dia bilang dia pengen nyari kamu”
Au terdiam sejenak, gak! Jangan hubungi Rendy lagi.
“mom aja deh, aku capek! Dan mom, kalo Rendy datang nanyain aku, walaupun aku ada di rumah bilang aja gak ada”
“loh kok….”
“bilang aja kayak gitu” kataku memotong pertanyaan momku
“sekarang, lebih baik kamu istirahat” kata daddy
Aku mengguk dan kemudian pergi ke kamarku, badan ini terasa pegal, kepalaku pusing dan terlebih lagi batinku lelah. Aku langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidur.
Alarmku tetap berbunyi jam 6 pagi tanpa peduli aku masih mengantuk dan capek atau tidak. Haaa aku baru ingat aku ada kelas pagi dan ujian juga. Rasanya ngantukku lagsung hilang kalau ingat akan ujian itu. Tapi kepalaku masih saja pusing! Hmmm nanti saja aku akan beli obat sakit kepala di apotek dekat kampus!. Aku bergegas menuju meja, mengambil kunci mobilku, tapi perhatianku tersita pada sebuah pigura foto dan beberapa boneka kecil juga beberapa ikat bunga. Yap! Itu ada semua barang kenanganku dengan Rendy. Aku mengumpulkan semuanya dan menaruhnya di sebuah kardus, ku angkat dan kmudian ku taruh di depan rumah, biar kalau tukang sampah lewat akan diangkat lalau dibuang. Aku meletakan kardus itu dan kemudian berangkat menuju kampus.
Setelh memarkirkan mobilku, aku lnagsung meuju ke kelas, tapi baru saja anak tangga ke tiga ku injak, tiba-tiba saja kepalaku jadi sangat pusing dan kemudian aku rebah, tapi untunglah ada seseorag yang menahanku, dan kemudian gelap.
Ketika aku sadar, aku merasa agak aneh dengan tempat ini, setelah ku amati ternyata ini ada sebuah ruang perwatan yang biasa di gunakan oleh mahasiswa tingkat pertama di jurusan keperawatan. Tapi siapa yang membawaku ke sini. Tiba-tiba sosok itu muncul dihadapanku
“udah sadar loe” suara itu terdengar di telingaku, suara yang sudah tak asing buatku.
“haaa Mike, loe ngagetin aja” omelku
“sorry! Gw ga sengaja” katanya seraya duduk di kursi disamping kasur ini.
Kulirik jam “ya ampun, aku ketinggalan ujian” kataku panic
“tenang! Pak Dewanto gak masuk kok”
“yang bener loe?”
Mike mengangguk pelan.
“loe yang bawa gw kesini?” tanyaku
“ya iyalah, masa loe terbang kesini! Loe pasti lagi stress ya?” tanya Mike
“eh, gak kok” kilahku
“udah, gak usah bohong keliatan tahu dari mata loe yang bengkak itu, loe pingsan juga pasti karena belom makan! Iya kan?” jelas Mike
Aku hanya terdiam, memang tebakan Mike benar.
“gw gak suka” lanjut Mike
“gak suka apa?” tanyaku
“gak suka liat loe nangis! Gw gak suka liat orang yang gw sayang nangis dan keliahatan menyedihkan kayak gini!” kata Mike sambil menunduk
“maafin gw ya Mike”
Mike tersenyum kecil, “ayo, kita makan! Loe pasti belom makan kan?”
aku hanya bisa bingung! Sebelum aku selesai berpikir, Mike sudah menarik tanganku kearah kantin. Hmm dia memang sedikit aneh. Tapi, sepertinya ada yang aneh selama aku berjalan. Kenapa semua orang melihatku, oh tuhan tentu saja semua melihat ke arahku, karena saat ini tanganku sedang di gandeng oleh Mike. Ya ampun.
Sampai di kantin, aku segera melepaskan tanganku, dan langsung memesan makanan. Ternyata memang benar, beberapa orang menyangka kalau aku dan Mike pacaran. Aku malas menanggapinya, aku sudah lelah jangan dibuat tambah lelah. Aku mutuskan untuk naik ke lantai 3 disana cenderung sepi karena memang rata-rata kuliah sudah usai, aku dudk menghadap tempat parkir kampus, dan akhirnya mataku meilhat sosok Rendy,  sepertinya dia mejemput Cherly mereka bergandengan tangan bersama dan tertawa bahagia. Melihat pemandangn itu, mataku kembali mengeluarkan bulir-bulirnya, hatiku sakit melihat mereka lagi, aku menundukkan kepalaku dan terisak, sampai kurasakan sebuah tangan menyentuh pundakku, aku menoleh kebelakang dan melihat sosok Mike disana. Dia maju beberpa langkah, tangannya memegang kepalaku, dan jari-jarinya menghapus airmataku sambil tersenyum ke arahku.
“bukankah sudah ku bilang, aku tak suka melihatmu menangis? Akan ku lakukan apa pun asal kau tidak menangis lagi” katanya. Dia maju selangkah menarik tubuhku dan memelukku.
“apa yang kau rasakan? Kuharap akan lebih baik. Satu penderitaan akan terasa sangat menyakitkan, jadi mari kita membaginya, biarkan aku merasakan juga penderitaanmu” katanya lagi.
Airmataku semakin deras mengucur dari mata ini. Tak ku sangka Mike akan sebaik ini. Aku melepaskan pelukan Mike pelan, dan kemudin menghapus airmataku “thanks Mike” kataku sambil tersenyum tipis. Dia hanya mengangguk.
“besok bersiaplah, bukankah kita akan pergi ke puncak besok?”
Ya, aku baru ingat kalo besok kmi kan bertamasya sesuai dengan kesepakatan kami bersama. Aku mengangguk dan kemudian terenyum kecil.
“nah, kalo senyum kan kece” canda Mike
“izz” kesalku diringi tawa Mike

Aku pulang ke rumah dan segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok!. Sepertinya aku memang harus pergi untuk menyegarkan diriku sedikit. Aku melihat kalender besok tanggal 15, “sepertinya ada sesuatu yang penting di tanggal itu, tapi apa yah?” aku bertanya pada diriku sendiri. Aku mencob mengingatnya, tapi tak dapat ku ingat, jadi ku biarkan saja.
Besoknya aku pergi pagi-pag sekali, karena harus mengecek bus yang akan kami pakai juga masalah villa yang akan kami tempati selama disana, walau hanya shari, tapi tetap saja pasti akan menyenangkan.
Setelah semuanya siap kami pun berangkat menuju puncak. Kami melakukan banyak aktivitas disana, yang jelas aku senang dan bebanku sedikit brkurang disana. Besoknya kami kembali lagi, aku langsung istirahat karena kelelahan.
Besok paginya, aku bersiap-siap berangkat ke kampus, ketika aku keluar rumah, aku melihat Rendy, dia berdiri di depan mobilku dan kini ia menatapku dengan tatapan yang tajam. Aku segera menghampirinya, aku tidak ingin ia berpikir aku membencinya, aku hanya ingin melupakannya secara perlahan-lahan.
“kamu darimana?” kata Rendy dengan nada ketus
“darimana? Ya dari dalam rumah lah!” jawabku asal, karena aku tak mengerti  apa maksudnya
“kemarin, kamu darimana?” tanyanya lagi
“oh, kemarin aku dari puncak bersama teman-teman kampus” jawabku
“jadi, apakah mereka lebih penting dari pada aku?”tanya Rendy dengan ketus
“apaan sih? Emang ada yang salah?”
“kamu… kamu gak ingat hari apa kemarin?”
Aku menggeleng
“apa…. Apa karena cowok itu? Apa karena cowok itu kamu jadi lupa sama hari kita bertiga? Aku nungguin kamu Cuma buat potong kue persahabatan aku, kamu dan Cherly”
“cowok yang mana sih? Kalo kamu ke kampus dan denger gossip tentang aku itu semua ga bener! Mereka Cuma salah paham aja!” jelasku
“aku ga denger gossip, aku lihat kalian…. Lagi pelukan di kampus kalian waktu aku lagi mau jemput kalian berdua” kata-kata Rendy seperti menancap di hatiku, Rendy melihat itu semua? Kejadian saat aku  dihibur oleh Mike?.
“kenapa diem?” Rendy mendekatiku “apa karena dia kamu jadi menjauh dari aku? Apa karena dia kamu harus bilang ke mama kamu buat bohong sama aku? Apa karena dia kamu buang semua benda kenangan kita? Jawab!” kata Rendy diiringi dengan sebuah bulir yang jatuh dari mata hazelnya.
“bukan!! Bukan karena dia! Buakn karena Mike!” kataku keras, aku tak mampu lagi menahan emosiku, pertahananku pun runtuh, kini mataku sudah kembali basah.
“lalu karena apa? Apa yang bikin kamu jauhin aku? Apa yang bikin kamu jadi kayak gini?” tanya Rendy, aku baru pertama kali melihat Rendy begitu emosi seperti saat ini!
Cukup aku tak tahan lagi, “itu karena… karena kau pengen ngelupain kamu! Aku udah nyerah! Aku gak mau suka sama kamu lagi!” kataku lirih
“kenapa?”
“cinta itu hanya ada satu, gak boleh di bagi-bagi karna cinta itu akan berkurang! Gw nyerah Ren!” kataku sambil terisak
“gw mau loe sama sahabat gw aja! Cherly itu sayang banget sama loe!” kataku lagi
“trus, loe gak sayang sama gw? Trus apa gunanya dong gw sayang ma loe?” kata Rendy sambil memelukku!
“gw balik buat nentuin siapa yang akan gw pilih! Dan loe! Loe adalah orang yang gw pilih! Tapi kenapa loe harus menjauh dari gw? Kenapa loe harus nyerah saat gw berjuang buat dapetin loe?”
Aku menangis terharu, tapi saat itu juga muncul Cherly, dia melihat kearah kami dan seakan tak percaya akan yang dilihatnya, dia beranjak pergi dari tempat itu. Aku melepaskan pelukanku dan Rendy kemudian berteriak memanggil namanya, tapi dia sudah terlanjur pergi.
“cepat kejar dia!” perintahku pada Rendy tapi dia tetap saja mematung di hadapanku
“cepat kejar dia, dan minta maaf sama dia! Bilang kalo loe milih dia bukan gw!” perintahku lagi sambil terisak.
“gw gak akan kejar dia!! Gw tahu kalo dia udah punya pacar!!” kata Rendy membuatku terbalak kaget
“da.. darimana loe tahu?” tanyaku
“loe lupa yah kalao gw kuliah di jurusan psikologi? Jadi gw tahu tingkah laku seseorang saat dia lagi bohong ato gak! Kenapa gw harus pertahanin dia, padahal dia sendiri gak bisa pertahanin gw?”
Aku hanya bisa terdiam mendengar hal itu.
“gw akan mempertahnkan orang yang juga mempertahankan gw!” kata Rendy sambil tersenyum
“maukan jadi pacar gw?” lanjut Rendy sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna putih. Ternyata isinya adalah cincin
“lo mau kan bertahan setahun lagi, buat gw selesaiin kuliah gw?” tanya Rendy
Aku pun mengangguk setuju. Kini aku berada di bandara, siap untuk mengantar Rendy untuk kembali ke Aussie. Seperti kata orang bijak “seseorang yang mencintaimu tak akan perduli berapa lama, seberapa sulit. Dia akan tetap bertahan karena dia tahu saat kau kembali kau akan kembali membawa perasaan dan rasa cintanya.

Komentar

Postingan Populer